Rindu Semangatmu, Nek.

Agustiningsih Maulani
Karya Agustiningsih Maulani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2016
Rindu Semangatmu, Nek.

Pagi yang sunyi, tenang menentramkan hati. Nyiuran pohon-pohon di belakang rumah pun, terdengar tertiup angin. Ayam saling berkokok meramaikan suasana samping rumah. Ku buka jendela, angin pun menghampiriku. Tak lupa syukur kepada yang Maha Kuasa, atas nikmat kesehatan pagi ini. Nafas yang masih bisa menghirup udara segar pagi ini. Alhamdulillah. Berbeda dengan nanti mulai terbit fajar, mulai ramai orang-orang yang berangkat kerja pabrik. Penuh dengan kendaraan. Suara dan asap knalpot yang begitu ramai dijalan. Begitu hidup di sebuah desa bambu, namanya.

            Pagi yang mulai ramai oelh kendaraan bermotor, antar jemput karyawan, anak sekolah, dan lain – lain. Dimana hari dinasku libur, di hari sabtu ini. Tetapi tetap saja, tak ada kata libur bagiku. Setiap hari selalu ada kegiatan bagiku. Mumpung masih muda, masih sehat dan masih bisa bermanfaat bagi orang banyak. Insyaallah bisa saya lakukan, karena Allah. Hari dinasku hanya hari senin sampai jum’at. Iya, saya seorang pendidik yang masih belajar untuk mendidik anak usia dini alias pendidik PAUD. Sedangkan sabtu minggu, aku harus berangkat kuliah. Dengan tekadku, aku ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, bukan karena ingin dapat gelar. Menuntut ilmu itu wajib. Tak hanya kuliah kita dapat ilmu, dalam kehidupan pun kita pasti menemukan ilmu.

            Sudah selesai pekerjaan rumah. Tinggal siap- siap membawa makan, minum dan karung untuk membawa hasil panen kacang tanah. Karena sekarang musim panen. Siap berangkat bersama nenekku. Sudah terbiasa aku libur ikut bersawah dengan nenekku yang sangat dekat denganku. Karena nenek selalu di dampingi olehku. Karena sudah 3 tahun kakek sudah tiada. Ya, saya dulu cucu yang paling dekat dengan kakek dan sekarang dengan nenek. Memang dulu aku sering ikut ke sawah bersama kakek dan nenek. Tidak tahu kenapa aku suka banget ikut ke sawah dari dulu sampai sekarang. Aku khawatir nenek sendirian pergi ke sawah. Jalan yang dilalui bukan hanya perkebunan tetapi jalan rel kereta. Karena itulah aku selalu ikut bersawah dan membantu nenek untuk menanam.

            Perjalanan menuju sawah lumayan jauh. Tetapi tak terasa capenya, karena di perjalanan aku dan nenek selalu sambil bercerita canda tawa, memandang keindahan perkebunan, persawahan, dan melewati pelan-pelan jalan rel kereta hingga akhirnya sampai. Senangnya hati ini. Bisa memanfaatkan waktu libur ku dengan bersawah pagi ini. Dan siang nanti dilanjut kuliah siang. Di perjalanan aku melihat para petani lainnya sedang panen padi, ada yang panen ubi merah, bengkuang dan lainnya. Padi yang begitu hijau, menyejukkan hati. Petualangannya sangat indah. Dipertengahan sawah, kami beristirahat sejenak. Setelah kembali kuat tubuh ini dengan rasa semangat. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi.

            Melewati jalan rel kereta begitu dahsyat, membuat kami hati-hati berjalan. Pelan- pelan tapi pasti. Aku jalan ditengah jalan rel kereta dan nenek berjalan disamping rel nya. Sambil bercerita dan bercanda. Melihat keindahan perkebunan petani lain, membuat aku ingin punya sawah yang besar dengan tanaman yang begitu macam-macam. MaasyaAllah.

“ Ayo nek, kita lewati rel ini. Takut  ada kereta. “ Aku (merasa khawatir)

“ Iya, ayo langkahnya besarkan suapaya cepat nyampe ! “ Jawab Nenek

            Alhamdulillah, akhirnya sampai di sawah nenek bertanam kacang tanah. Semua penuh dengan tanaman kacang tanah.

“ Wah, nenek udah pada tumbuh ya pohon kacang tanahnya ?”. Senangnya Aku

“Iya, ayo nanti nenek yang cabut pohonnya, kamu yang petik kacang tanahnya.” Perintah Nenek.

“ oke, siap nek !”.  Semangat aku.

            Buah kacang tanah pun sudah mulai naik, dapat setengah karung. Alhamdulillah akhirnya panen. Nenek senang dan aku pun senang. Nenek kelihatannya begitu lelah. Tetapi ia tak pernah memperlihatkan rasa lelahnya. Rasa semangat nenek yang begitu masih berkibar. Kami pun beristirahat dan makan bersama. Semua terasa nikmatnya. Makan bersama sambil melihat ciptaan Allah, yaitu gunung salak yang begitu indah dan hiasan awan yang bergumpalan dilangit. Tak lupa, selalu ucap syukur kepada Allah. Terimakasih ya Rabb.

            Itulah panen kacang tanah. Nenek tak hanya menyuruh membantuku untuk memetikkan kacang tanah. Nenak pun menjelaskan tahapan apa saja dalam menanam kacang tanah. Yaitu tahap pertama, hasil dari penanaman kacang tanah. Kacang tanah dijemur sampai agak kering. Setelah itu di buka kacang tanahnya, lalu dipilih biji kacang tanah yang bagus. Sebelum itu pun, tanah yang sudah dicangkul, di lubangi untuk meletakkan biji kacang tanah. Lalu biji kacang tanah di masukkan kedalam tanah, kemudian ditutup. Dan seterusnya sampai selesai. Kenudian di beri pupuk satu persatu. Tunggu tiga bulan kemudian. Itulah tahapan akhir panennya. Dan kini ditunggu akhirnya panen. Yang dulu satu biji bibit, kini menjadi berpuluh-puluh bibit. Kuasa Allah yang Maha Memiliki. Musimku bersama Nenek kini berbuah hasil yang bermanfaat.

  • view 204