Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Motivasi 30 Oktober 2017   11:35 WIB
Bapak Membangun Rumah, Emak Menyusun Tangga, Anak-Anak Sebagai Perabotannya

"Macam rumah orang darat" kata seorang wanita saat berjalan di badan jalan tepat di depan rumah agak tua ini. Tiga kata itu terlontar dari mulutnya saat kami bertiga (Aku, adikku, abang iparku) sedang istirahat dari bekerja membongkar bangunan yang telah miring ke kanan, tepat berada di depan rumah bernomor 17 ini. "Sabar dulu! Tengok nanti" kata adikku pelan dan hanya kami bertiga yang mendengar, meski kami tahu Tuhan pasti mendengar dan malaikat pun menyimak. Semoga saja itu menjadi do'a yang Allah berkenan untuk mengijabah.

Rumah ini memang tipe rumah darat, jadul, cukup tinggi, sangat bertolak belakang dengan model rumah zaman ini.
Umurnya pun sudah cukup tua, bahkan lebih tua daripada kakakku. Rumah yang memang jauh dari title "Megah". Jauh pula dari sebutan rumah "Mewah".

Tapi dari rumah inilah satu keluarga kecil yang berdomosili di bumi Kateman dapat beristirahat dengan nyaman, dapat berteduh dari panasnya terik matahari di kala pagi, siang hingga sore hari. Tempat kami berteduh dari derasnya hujan di siang dan malam hari.

Hal itu tentu sangat kami syukuri, karena di luar sana amat sangat banyak keluarga yang tak seberuntung kami. Lihatlah di televisi, bukankah masih banyak yang rela tidur di kolong jembatan yang hanya beralaskan kardus bekas? Dan, bukankah di sekeliling kita pun sering kita jumpai keluarga yang harus berpindah-pindah karena rumahnya bukan hak milik tapi hanya hak sewa saja? Maka, bukankah hidup ini semuanya harus banyak-banyak kita syukuri. "Lebih baik disini" dendang God Bless "Rumah kita sendiri"

Ya, meski pun kita tak tahu 5 atau 10 tahun atau belasan tahun ke depan bagaimana kondisi rumah kita nanti. Entah ia akan kelihatan semakin tua, lapuk dan usang atau justru akan berganti warna model dan bentuknya. Tetap, rumah yang dibangun Bapak kita, dan tangga yang disusun Emak kita akan terasa istimewa dan luar biasa, terlebih jika kita selaku Anak-anaknya dapat menjadi perabotan rumah yang istimewa yakni terus bekerjasama melanjutkan dan meneruskan perjuangan cinta mereka berdua; Bapak dan Emak kita.

Rumah ini akan menjadi sejarah tersendiri bagi kami. Sejarah yang tak akan kami lupakan hingga menjelang mati. Baik bagi dua pasang insan manusia yang ditakdirkan untuk membangun cinta hingga melahirkan putri dan putranya. Begitu pun bagi kami, empat orang Anak manusia yang sejak bayi dibesarkan di rumah ini ; Nur Asia, Agusman, Firdaus dan Hafis. Di rumah inilah kami belajar merangkak hingga mampu berjalan lancar. Di rumah ini pula kami diajarkan mengeja huruf hijaiyah, membaca kata-kata dan belajar berhitung bilangan 1 hingga 10. Di rumah ini pula kami belajar shalat dari niat hingga salam, belajar wudhu dari mencuci tangan hingga membasuh kaki. Di rumah ini kami tidak hanya diajarkan tentang teori tapi lebih banyak praktek dan keteladanan dari Bapak dan Emak kami. Sungguh, semuanya akan kami ingat, akan kami jadikan memori yang tak lekang oleh waktu. Karena semuanya amat sangat berkesan dan karena kami disatukan oleh Takdir Tuhan.

Bagaimanapun kondisi rumah kita, baik mewah maupun sederhana, baik milik sendiri ataupun masih berstatus sewa, baik umurnya tua ataupun masih seumuran jagung. "Jangan jadikan ia sebagai kuburan" begitulah kata Baginda Rasulullah "Jadikan rumah kalian sebagai tempat shalat kalian". Agar ia tak seperti kuburan belaka, maka Isilah rumah kalian dengan mendirikan shalat di dalamnya serta hiasi pula dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Karena memang, tugas utama kita di dalam rumah adalah untuk menciptakan surga di dalamnya.

Sungai Guntung, 30 Oktober 2017

Agusman 17An
Pemuda yang Bermimpi Berjaya, Bangsanya Berdaya dan Dirinya Dirindukan Syurga

Karya : Agusman 17an