Draft Buku_Filsafat Politik Plato dan Aristoteles_Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Buku
dipublikasikan 21 Juni 2017
Draft Buku_Filsafat Politik Plato dan Aristoteles_Agus Hiplunudin

DAFTAR ISI Draf Buku Filsafat Politik Plato dan Aristoteles

 

BAGIAN 1 MEMAHAMI FILSAFAT POLITIK (4)

Perspektif Filsafat (4)

Perspektif Politik (9)

Selayang Pandang Filsafat Politik (13)

 

BAGIAN 2 KEADAAN SOSIAL POLITIK DAN KOSMOLOGI YUNANI KUNO (17)

Acropolis (18)

Polis Athena (20)

Polis Sparta (22)

Mitologi Yunani (24)

Kosmologi Yunani (27)

Thalas (28)

Anaximendros (29)

Anaximeses (29)

Semua Adalah Satu (30)

Empat Unsur Zat Dasar Penyusun Alam Raya (31)

 

BAGIAN 3 SEKELUMIT BIOGRAFI PLATO DAN ARISTOTELES (32)

Biografi Plato (32)

Lingkungan di mana Plato Hidup (33)

Riwayat dan Konsep Pendidikan Plato (36)

Gambaran Filsafat Plato (41)

Biografi Aristoteles (47)

 

BAGIAN 4 HELENISME (54)

Alexander Agung (54)

Sinisme (56)

Skeptisisme (57)

Epikureanisme (58)

Stoisisme (60)

Politik dan Kekusaan (61)

 

BAGIAN 5 KONSEP KEADILAN MENURUT PLATO DAN ARISTOTELES (64)

Keadilan dalam Pandangan Plato (64)

Keadilan dalam Pandangan Aristoteles (71)

 

BAGIAN 6 PEMIKIRAN FILSAFAT POLITIK PLATO DAN ARISTOTELES

Pemikiran Filsafat Politik Plato (79)

Pemikiran Filsafat Politik Aristoteles (89)

 

DAFTAR PUSATAKA (98)

TENTANG PENULIS (102)

 

Sekilas Mengenai Isi

Filsafat politik merupakan landasan teoritikal dalam aktivitas politik. Sebagaiaman yang telah Saya kemukakan, di mana politik begitu bereratan dengan konsep negara dan kekuasaan. Oleh karenya filsafat politik akan melibatkan konsep negara dan kekuasaan itu. Sebagai mana dikemukakan Aristoteles; kepuasan dalam masyarakat akan tercapai manakala terjadi interaksi politik, dalam hal ini interaksi politik berarti adanya hubungan timbal balik antara negara dan masyarakat, negara dan kekuasaan yang kemudian hidup dalam masyarakat itu. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara. Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur: negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) (Azhar, 1997).

Demikianlah hakikat dari filsafat politik, adapun tujuan dari politik yakni mengenyahkan, mengeliminasi konflik dalam masyarakat—agar masyarakat dapat hidup dengan tenang, sebagaimana Aristoteles yakini, di mana kebahagiaan hidup dapat terwujud manakala setiap individu dapat mengembangkan bakatnya masing-masing, oleh karenanya secara filosofis politik pengembangan bakat tersebut dapat terwujud manakala masyarakat hidup dalam keadaan tenang dan tentram.

Begitu pula sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato; baginya, tujuan hidup manusia ialah kahidupan yang senang dan bahagia. Manusia harus mengupayakan kesenangan dan kebahagiaan hidup itu. Tetapi apakah kesenangan dan kebahagiaan hidup itu? Menurut Plato, kesenangan dan kebahagiaan hidup bukanlah pemuasan hawa nafsu selama hidup di dunia inderawi. Plato konsekuen dengan ajarannya tentang dua dunia. Karena itu, kesenangan dan kebahagiaan hidup haruslah dilihat dalam hubungan kedua dunia itu. Sebagaimana pemikiran Plato tentang dunia ide, dunia yang sesungguhnya bagi Plato ialah dunia ide. Semua ide dengan ide yang baik atau ide kebaikan dan ide kebajikan sebagai ide yang tertinggi yang ada di dunia ide adalah realitas yang sebenarnya. Sedangkan segala sesuatu yang ada di dunia inderawi hanyalah merupakan realitas bayangan (Rapar, 1988).

Dalam hal ini, filsafat politik mengupayakan kebahagiaan atau kesenangan sejati, dan kesenangan sejati dapat terwujud manakala manusia dalam konteks politik tidak mengedepankan kesenangan indrawi, kebahagiaan politik akan terjadi manakala manusia mengedepankan kesenangan dunia ide, dunia yang ideal yang ada dalam dunia ideal pula. Oleh karenanya Plato meyakini suatu negara akan tercipta idealitasnya—di mana semua warganya bahagia manakala negara tesrsebut memiliki seorang pemimpin, yakni; filsuf raja. Dalam terminologi filsafat Plato; filsuf raja yakni orang yang telah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi, dan kebijaksanaan tersebut diraih melalui tahapan-tahapan pendidikan.

Dilihat 21