HAJI MABRUR: Cerpen__ Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juni 2017
HAJI MABRUR: Cerpen__ Agus Hiplunudin

HAJI MABRUR

Oleh: Agus Hiplunudin

 

Aisah dan Asih nampak serupa namun berbeda, mereka terlahir kembar pada 19 Juli, pada dua puluh tahun yang lalu, terlahir dari rahim almarhumah Ibu Masitoh hasil pernikahannya dengan Almarhum Bapak Sugalih. Adapun yang lahir terlebih dahulu yakni Aisah menyusul kemudian Asih. Kedua anak kembar itu, subhanallah mereka dikarunia budi pekerti yang baik, dalam kesederhanaan hidupnya, mereka senantiasa tak luput dari mengingat Allah, bahkan mereka pun bercita-cita hendak menunaikan ibadah suci, yakni berhaji ke tanah Makkah Almukaromah.

Aisah bersuamikan Suma seorang petani yang rajin lagi ulet, mereka baru dikarunia seorang anak yang masih berumur dua tahun setengah bernama Jasminah. Begitu pula dengan Asih, ia pun telah bersuami bernama Sudrajat petani ulet lagi rajin pula, namun bedanya di mana mereka belum pula dikarunia seorang anak pun.

Mulai hari itu, pada sebuah malam yang jernih di dalam rumah sederhana Asih, Aisah dan Asih saling mengikat janji, mereka akan sedikit demi sedikit menabung, demi mewujudkan cita-cita mereka tuk menunaikan rukun Islam yang kelima yakni berhaji ke tanah suci Makkah Almukaromah untuk menjadi tamu Allah di sana.

 

*

Hari bergani hari, mingu, bulan, dan tahun terus berlalu, jika kita menumpuk pasir sedikit demi sedikit, maka niscayalah lama ke lamaan pasir tersebut kan berubah menjadi bukit. Begitu pula dengan tabungan haji Asiah dan Asih, dengan semangat, keuletan, dan kerja keras, uangnya dalam tabungan mereka pada akhirnya cukup juga untuk menunaikan haji.

Aisah segera menyetorkan uangnya ke pengurus atau pengelola ibadah haji. Namun, Asih tidak, karena uangnya ia pinjamkan pada Ijah istrinya Sayuti yang tengah sakit keras, adapun uang itu dipergunakan untuk biaya pengobatan dan perawatan.

Hingga batas waktu penutupan pendaftaran ibadah haji di kantor setempat, namun Asih belum pula mendaftar, karena Ijah kendati telah sembuh dari sakitnya, namun ia belum mampu mengembalikan uang yang dipinjamnya itu.

 

Bulan Zulhijah tiba, Aisah menunaikan ibadah haji ke Makkah Almukaromah, sedangkan Asih tidak, karena uangnya kurang. Sesampainya di Mesjidilharam tak henti-hentinya Aisah mengagungkan nama Allah, ketika dirinya berkeliling mengelilingi Ka’bah ia berdoa pada Allah agar hajinya menjadi haji yang mabrur, di Mina ia melempar Jumrah mengikuti pendahulunya yakni Nabi Ibrahim dan Ismail ketika melempari iblis-iblis penggoda di sana.

 

Sepulangnya dari Makkah, orang-orang memanggilnya; Hajah Aisah. Namun, Aisah merasa masih ada yang kurang, karena suaminya—Suma belum bergelar haji, atas karena itu, Aisah pun kembali bertekad mengumpulkan uang kembali sekuat tenaganya agar suaminya berhaji juga.

 

Adapun Asih, uangnya yang mulanya untuk berhaji itu, sebagian ia sedekahkan pada anak yatim piatu dan pakir miskin, dan dipakai membeli beberapa ekor kambing untuk berkurban pada hari Idul Adha tahun itu. Dan, sisa dari uangnya itu, ia simpan lagi, yang nantinya akan ia tambahi lagi untuk berhaji, tidak berhaji tahun ini, barangkali tahun depan atau tahun berukutnya lagi, ia bisa menunaikannya, dan pada waktu itu untuk berhaji tidaklah sesulit pada zaman sekarang, sebab kalau zaman sekarang harus menunggu giliran keberangkatan hingga lima tahun—sebelum keberangkatan haji itu.

 

*

Bertahun-tahun kemudian, menjelang musim berhaji. Suma suaminya Aisah telah tersiar hendak menunaikan rukun Islam kelima itu. Pula dengan Asih, ia pun tersiar, ia jadi berangkat haji pada musih haji tahun itu.

 

Siapalah yang hendak peduli pada penderitaan seseorang selain dari saudara dan para tetangganya. Rukmini dan Kasim serta ketiga anaknya yang masih kecil-kecil duduk dengan muka mendung penuh kesedihan, karena rumahnya yang terbuat dari bambu dan kayu itu telah musnah tinggal arang di lalap amukan si jago merah semalam, demikianlah musibah—ia selalu datang tanpa diundang, menyisakan kesedihan dan penderitaan yang tengah ditimpanya.

Para tetangga datang hanya sekedar mengucapkan belasungkawa dan turut berdukacita akan musibah kebakaran tersebut. Namun, tak seorang pun yang rela mengankat keluarga yang malang itu dari musibahnya.

            Tibalah giliran Hajah Aisah dan suaminya yang mengucapkan belasungkawa, terbersitlah sebuah harapan dalam hati Rukmini dan suaminya, sebab Hajah Aisah dan suaminya—mereka merupakan orang yang baik, siapa tahu mereka dapat menolongnya dari keterpurukkan itu.

 

“Hajah Aisah, jika kau punya sedikit rezeki yang dingin, bolehlah saya dan suami saya pinjam dahulu. Nanti, setelah semuanya normal tentu kami akan segera mengembalikannya,” kata Rukmini dan menatap sayu penuh aroma penghibaan pada Hajah Aisah.

Mendapat permintaan tolong itu, Hajah Aisah tertegun sejenak, terbersit juga rasa welas asih pada pasangan suami istri yang tengah dilanda musibah ini. Namun, uang yang dimilikinya hanya pas untuk menunaikan haji suaminya, bila sedikit saja terambil dan terpakai, maka ibadah haji itu akan terancam tak jadi. Untuk, mencari aman dengan berat hati Hajah Aisah berkata;

“Bukannya saya tak hendak memberikan pertolongan, namun apalah daya saya, uang yang kami miliki hanya cukup buat berangkat ke tanah suci.”

Mendengar penjelasan demikian Rukmini merundukkan wajahnya, padam sudah harapannya yang sempat menyala itu, adapun Hajah Aisah tak henti-hentinya mengelus punggung Rukmini, membari penghiburan dan menyarankan agar Rukmini senantiasa bertawaqal pada Allah, karena pada hakikatnya setiap musibah yang datang menimpa seseorang tak lain adalah berasal dari Allah, dan Allah tak akan memberi musibah kecuali sesuai dengan batas kemampuan hamba-Nya itu. Nasihat dari Hajah Aisah sungguh bagai penyejuk hati yang sedang dilanda kegersangan, menyejukan kolbu Rukmini dan suaminya.

Setelah merasa cukup menghibur hati keluarga yang tengah dilanda musibah, Hajah Aisah dan suaminya pamit undur diri.

 

Sepeninggalnya Hajah Aisah dan suaminya, munculah Asih dan suaminya, mereka pun sama seperti halnya yang lain, datang hanya sekedar mengucapkan belasungkawa dan turut berdukacita akan musibah kebakaran yang telah dialami Rukmini dan segenap keluarganya itu.

Nemun, Asih tersentuh hatinya mendengar keluh-kesah dari Rukmini dan suaminya, hati Asih semakin melumer ketika dirinya menatap ketiga wajah anak Rukmini yang masih kecil-kecil, betapa wajah ketiga anak rukmini tersebut berisi kecemasan, kendati mereka belum begitu faham akan musibah yang tengah dihadapi keluarga mereka, namun nampaknya ketiga anak tersebut turut merasakan apa yang tengah dirasakan oleh ayah serta ibunya—mereka.

 

“Sudahlah, pakai saja dulu uang saya,” kata Asih.

Bukan main terperanjatnya Rukmini dan suaminya mendengar apa yang didengarnya barusan.

“Benarkah?”

“Benar, tak ada keraguan dalam diri saya.”

 

Untuk sementara waktu, Rukmini, suaminya, dan ketiga anaknya menumpang di rumah Asih, sebelum rumah kelaurga Rukmini yang sedang didirikan itu tegak berdiri, dengan memakai uang yang sejatinya untuk berhaji bagi Asih. Setelah rumah Rukmini rampung dalam pengerjaannya, Rukmini dan keluarganya segera mengisi rumah barunya itu.

 

Orang-orang yang berhaji telah pada berangkat ke tanah suci, begitu pula dengan Suma—suaminya Aisah, ia pun telah berangkat. Namun Asih, ia urung kembali untuk berangkat ke Makkah, karena uangnya terpakai—membangun rumah Rukmini.

 

Sesampainya di tanah air, orang-orang memanggil Suma, “Haji Suma” sedangkan Asih tetap saja Asih. Hingga pada suatu hari; Hajah Aisah dan Haji Suma berkunjung ke rumahnya Asih dan suaminya, Sudrajat.

“Adikku, kapan kau menunaikan haji?” tanya Hajah Aisah pada adiknya, ia sambil mematut-matut kerudungnya yang dapat beli di Madinah Almunawaroh.

“Belum ada panggilan dari Allah,” jawab Asih tenang.

“Habis kau terlalu baik pada orang,” kata Hajah Aisah.

“Kakakku, tidakkah kau sadari; ambisimu untuk menunaikan haji telah menutup nuranimu? Kau telah lupa pada penderitaan orang-orang sekelilingmu, bahkan untuk bersedekah dan membantu mereka yang sedang dilanda kesusahan kau enggan membantunya, bahkan kau tidak melakukan amal kebajikan sedikit pun dengan harta milikmu itu, kau telah berubah menjadi seorang yang kikir—kau timbun harta demi mewujudkan sebuah ambisi, yakni menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima itu. Jika demikian; mabrurkah ibadah hajimu itu?” lirih suara Asih sambil menatap iba pada kakak perempuannya itu.

 

Selesai

Yogyakarta, 3 Maret 2016

  • view 39