Penyebab Segala Sesuatu Menjadi Ada Apa Adanya Oleh Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Filsafat
dipublikasikan 06 Juni 2017
Penyebab Segala Sesuatu Menjadi Ada Apa Adanya  Oleh  Agus Hiplunudin

Penyebab Segala Sesuatu Menjadi Ada Apa Adanya

Oleh

Agus Hiplunudin

“Dalam filsafat Aristoteles menyimpulkan, bentuk menyebabkan sesuatu menjadi ada sebagai dirinya. Ini harus ditelaah secara seksama, dalam konsep pengertian sebab dalam konteks sesuatu yang ada dan memiliki struktur tertentu maka ia menjadi ada. Sehingga ia menguraikan konsep bentuk sebagai empat jenis sebab yang berbeda namun kendati demikian mereka saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Empat sebab ini merupakan alasan yang lengkap; mengapa sesuatu menjadi seperti adanya sekarang, memiliki struktur yang khas, antara hewan satu dengan hewan lainnya antara benda satu dengan benda lainnya.

Coba kau bayangkan sebuah patung marmer. Supaya patung marmer itu jadi ada, dari ketiadaan, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu harus mengumpulkan marmer, dan  itu Aristoles menyebutnya sebagai penyebab material atau dengan katalain penyebab dari; terbuat dari apa? Kita telah belajar dari Aristoteles bahwa penyebab material ini belum mampu mewujudkan sebuah marmer menjadi patung. Ini dibutuhkan tiga penyebab lain. Material adalah syarat mutlak, namun ini belum cukup. Supaya mermer yang kamu sediakan tadi menjadi sebuah patung marmer, maka kamu harus memahatnya terlebih dahulu dengan menggunakan tatah dan palu atau peralatan lainnya yang bisa membentuk marmer tersebut. Kegiatan memahat ini Aristoteles menyebutnya sebagai penyebab efisien atau penyebab; apa yang menjadikannya? Sampai di sini, supaya patung itu menjadi ada, sebagaimana adanya, ia memerlukan wujud entah itu dalam bentuk manusia, seekor anjing, atau yang lainnya. Karena marmer yang dipahat sembarangan bukanlah patung. Aristoteles menyebut wujud itu sebagai penyebab formal atau penyebab; apa yang memberinya wujud sehingga berbentuk demikkian? Dan, yang terakhir, bahwa semua ini terjadi, pertama-tama, sebab misalnya kamu sorang pemahat, dan kamu memutuskan untuk membuat sebuah patung marmer. Tiga penyebab lainya dilibatkan dalam proses pembuatan patung, untuk merealaisasikan tujuan. Alasan utama keberadaan patung tersebut adalah pemenuhan maksud sang pemahat, dalam hal ini kamu. Sebagai pemahat. Aristoteles menyebut ini sebagai final, atau penyebab alasan utama itu semua. Penyebab itu bisa dirakum yakni penyebab material, penyebab formal, penyebab efisien, dan final.

Dari penyebab kesatu, kedua, ketiga, dan keempat, bisa saja ada dua atau lebih yang sama dalam kasus tertentu. Secara khusus ini bisa berlaku untuk ilmu hayati, misal, penyebab formal dari sebuah pohon yang tumbuh dari sebuah biji sekaligus ini merupakan penyebab finalnya. Dalam hal ini penyebab material adalah kayu, kulit kayu, dan dedaunan yang kesemuanya sebagai pembentuk pohon itu, dan penyebab efisiennya adalah, pasokan mineral, sinar matahari sebagai bahan photosintesis. Jadi dalam hal ini, Aristoteles memandang perubahan itu akan terjadi ketika material laten yang merupakan bagian dari sesuatu memperoleh bentuk lain yang sebelumnya sama sekali belum dimiliki.

“Aristoteles memaparkan teorinya mengenai bentuk, ia menerangkannya sedemikian logis, berdasarkan logika yang cermat. Karenanya tidak heran dikemudian hari ia dianggap penemu ilmu logika, ia dijuluki sebagai Bapak Logika.

  • view 102