Apakah ada? (Filsafat Aristoteles)__Oleh Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Filsafat
dipublikasikan 06 Juni 2017
Apakah ada? (Filsafat Aristoteles)__Oleh Agus Hiplunudin

 Apakah Ada?

Oleh: Agus Hiplunudin

“Hal pertama yang dipertanyakan oleh Aristoteles adalah; apakah objek-objek di dunia ini? Untuk apa sesuatu itu ada? Kata Aristoteles, pertanyaan ini merepakan pertanyaan yang telah diajukan oleh para filsuf pada zaman dulu, dan sekarang dirinya mempertanyakana kembali, kemudian hal yang terpenting adalah, apakah ada itu? Aristoteles melakukan simpulan bahwa segala sesuatu tidaklah sama dengan unsur-unsur yang membentuknnya. Ia mencontohkan sebuah rumah. Kamu bayangkan; bahwa kamu sedang menyuruh seorang pemborong untuk membuat rumah, di atas tanah yang kamu miliki. Maka mulailah pemborong itu mengangkut bahan bangunan kelahan milikmu; batu bata, genting, pasir, dan seterusnya, lalau si pemborong itu mendatangimu, dan ia berkata; ‘inilah rumahmu, sudah jadi.’ Tentunya kamu akan menganggap bahwa ini lelucon yang sungguh tidak lucu. Ini artinya memang segala material yang diperlukan untuk membangun sebuah rumah telah ada, namun rumahnya belum ada, yang ada hanya berupa tumpukan batu-bata, pasir, dan lainnya, bahan material untuk membuat sebuah rumah.

Untuk membuat sebuah rumah bahan-bahan material seperti batu-bata, genting, pasir, dan lainnya, harus ditata sedemikian rupa dengan menggunakan metode, teknik, struktur tertentu sehingga menjadi sebuah konstruksi rumah. Menurutnya; hanya jika struktur itu ada maka rumahmu aka ada. Bahkan sebuah rumah tidak hanya dibentuk oleh batu-bata, pasir, rumah juga dapat dibentuk dari bahan material lainnya, seperti tanah, beton, logam, kayu atau bahkan pelastik. Sebuah rumah memang perlu dibutuhkan material. Namun, bukan material-material itu yang membuatnya menjadi sebuah rumah, melainkan justru struktur dan bentuknya.

Dalam hal ini Aristoteles mengambil contoh yang sangat menarik yaitu manusia, misalnya; Socrates—yakni zat yang menyusun tubuh Socrates selalu berubah setiap harinya, bahkan sudah bisa dipastikan beberapa tahun kemudian ia sudah berubah seluruhnya. Namun sepanjang hidupnya ia tetaplah Socrates. Secara logika, maka tidaklah mungkin Socrates sama dengan zat penyusunnya, atau materi yang membentuk tubuhnya. Aristoteles membuat argument ini pada seluruh jenis spesies. Misal; kita tidak menyebut suatu hewan sebagai kucing, karena hewan itu tersusun atas materi tertentu, kita menyebut itu kucing dikarenakan strukturnya yang khas, dan itulah yang membedakan kucing dari hewan lainnya, yang sama-sama terdiri dari tulang, daging, dan darah.”

Dilihat 47