Filsafat Plato__Mitologi Gua__Oleh: Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Filsafat
dipublikasikan 06 Juni 2017
Filsafat Plato__Mitologi Gua__Oleh: Agus Hiplunudin

Mitologi Gua

Oleh: Agus Hiplunudin

“Plato percaya bahwa setiap orang sebenarnya hidup terbelenggu, meraka terperangkap oleh realitas yang mereka hadapai, mereka beranggapan bahwa segala yang ia lihat itulah realitas yang sesungguhnya, sehingga mereka lupa bahwa ada rialitas di balik realitas, mereka terlalu asyik dan terlena melihat tiruan-tiruan realitas. Dalam hal ini Plato menggambarkan dalam karyanya, yakni; Republik yaitu Mitos Gua. Bayangkan, kata Plato, ada sebuah gua bawah tanah yang terhubung langsung dengan alam luar, melalui sebuah lorong panjang sehingga cahaya matahari tidak mampu menelisik masuk kedalam dasar gua. Dalam gua itu terdapat sebaris narapidana yang menghadap tepat ke dinding gua, keadaan mereka sangat memprihatinkan, kedua tangan dan kakinya terbelenggu sedemikian rupa, leher merekapun dipasung, sehingga mereka tidak punya daya untuk bergerak dan menengok. Satu-satunya obyek yang mereka lihat adalah dinding gua itu, serta kondisi seperti ini mereka lakoni sepanjang hidup mereka, mereka tidak pernah melihat realitas lain selain apa yang ada di hadapan mereka.

Tepat di belakang punggung mereka ada perapian yang sedang menyala terang, tanpa mereka ketahui terdapat sebuah dinding setinggi kepala di antara perapian dan mereka. Di sebrang dinding terdapat orang-orang yang sedang hilir mudik, ada yang membawa barang dagangan di atas kepala, ada yang menggendong anak, dan lain sebagainya. Bayangan dari benda-benda itu nampak remang-remang di dinding gua, gema suara juga terdengar samar-samar akibat gema suara dalam gua. Yang dilihat di dinding dan gema suara yang mereka dengar, mereka menganggap bahwa itu adalah realitas yang sesungguhnya, karena mereka tidak pernah melihat obyek lain selain apa yang nampak dari dinding gua, dan mereka tidak pernah melihat suara lain selain suara gema dalam gua.

Bayangkan, bahwa dari salah seorang narapidana itu ada yang mampu melepas belanggunya dan mencopot pasung kepala. Namun, ia terlalu kaku karena seumur hidupnya terbelanggu sedemikian rupa, sehingga walau sekedar menolehkan kepala sedikit saja ia merasa sakit, dan cahaya perapian akan sangat menyilaukan matanya. Ia akan merasa bingung melihat realitas lain yang ia lihat itu, maka ia cenderung untuk memalingkan pandangannya dan kembali melihat realitas yang terlihat di dinding tembok goa itu.

Seandainya, ada kekuatan yang sangat dahsayat yang memaksa ia keluar dari dalam gua, melalui lorong yang panjang, yang menghubungkan gua dengan dunia luar, ia akan sangat silau melihat matahari yang terang benderang bahkan matanya terancam buta untuk sementara dikarenakan sengatan cahaya matahari yang mengenai matanya, dan ia menjadi teramat bingung dibuatnya, perlu waktu yang lama ia memahami realitas yang baru, yaitu realitas yang terdapat di luar gua, realitas alam raya.

Begitu ia terbiasa dengan realitas dunia luar, si narapidana yang melihat alam luar itu akan terkagum-kagum, melihat matahari yang merah dan terang benderang dikala siang, melihat bintang-bintang dan bulan dikala malam, melihat kuntuman bunga yang mekar, pepohonan yang berbaris, dan gunung-gunung yang berdiri kokoh. Kemudian ia lari kembali kelorong gua tuk menemui dan membebaskan teman-temanya yang terbelanggu dalam gua, sesampainya di dasar gua ia menceritakan kembali apa yang dilihat dan rasakannya di alam luar dengan penuh semangat dan berapi-api. Namun sayang bukan kepalang, teman-temannya itu tidak percaya mendengar cerita dari narapidana yang telah berhasil melihat dunia luar. Seperti orang kesurupan para narapidana itu membabibuta mengeroyok si narapaidana yang bercerita tentang dunia luar, hingga tewasnya.

  • view 269