DUNIA CERPEN __Cerpen__Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Juni 2017
DUNIA CERPEN __Cerpen__Agus Hiplunudin

DUNIA CERPEN

Oleh: Agus Hiplunudin

 

Aku lelaki yang hatinya terbelah, kekasihku menghianati tulus cintaku, ia menikah dengan orang lain, lantaran miskinku, lantaran aku terlahir dari kalangan keluarga tidak terhormat. Sesalku—kini kebanyakan manusia telah sesat menafsir dirinya sendiri dan dunianya sendiri, ‘sesungguhnya manusia itu seci, namun materi atau kebendaan mengotori manusia yang suci itu’ dan aku mengaku tak kuat lagi menaggungkan derita di dunia ini, dunia cerpen ini. Karenanya aku mengakhiri hidupku dengan cara gantung diri, dan aku telah mati di dunia cerpen.

 

Ternyata dalam dunia cerpen, tidak dibenarkan mati bunuh diri, karenananya ruhku tertolak dan akhirnya ruhku gentayangan, hanya terjadi dalam dunia cerpen, dan ini benar-benar terjadi dalam dunia cerpen.

Untuk menebus dosaku, dan agar aku reinkarnasi—kembali hidup dalam dunia cerpen, tugasku kini mencari seorang perempuan yang hatinya robek ternganga kemudian aku harus menyulam hati yang robek itu menjadi hati yang kembali rapat tak lagi menganga.

 

Setelah sekian lama pencarian, terlihat olehku seorang perempuan berkerudung hitam dan berpakaian kameja merah kotak-kotak sedang duduk seorang diri di sebuah kursi, sekilas terlihat wajahnya mengisyaratkan kesedihan, kuhampiri ia, tentu saja ia tak dapat melihatku, sebab aku manusia ruh, manusia tanpa wujud.

Aku masuk ke dalam dada perempuan itu, dan benar saja hatinya robek menganga, kusiapkan jarum dan benang gaib tuk menyulamnya, biar hati yang robek menganga rapat kembali, seperti sedia kala.

Bila engkau pernah membaca sebuah dunia cerpen tentang laki-laki peri yang bertugas mengobati luka hati seoarng gadis gunung, tugasku juga sama seperti lelaki peri itu, sejatinya aku mengobati luka hatinya.

 

Aku tusukan secara hati-hati dan perlahan jarum gaib ke luka robek menganga hati perempuan berkerudung hitam, sungguh aku tak tega melihatnya, sebab setiap tusukan jarum gaibku, akan menyebabkan potongan-potongan kenangan ia, kembali berdatangan memenuhi semesta rasanya, dan itu membuat pasang matanya ruah dengan linang air mata. Namun, apa dayaku itulah tugasku, agar aku dapat reinkanasi.

 

Proses penyulaman hati yang robek menganga pun segera kumulai. Dalam proses penyulaman, tergambar olehku segala kenestapaan hatinya, penderitaan jiwanya, dan kesunyian pikirannya.

 

            Perempuan berkerudung hitam , masih duduk tercenung pada sebuah bangku, dalam hatinya menanti. Menanti dan menanti. Menanti kekasihnya yang sedang pergi. Pergi berperang, dan dalam dunia cerpen ini berperang melawan kemiskinan, lelaki itu membuat sebuah kedai kopi, dimana kebapnya beraroma rindu dan rasanya rasa cinta, sebab sejatinya lelaki itu pun sedang menanti. Menanti dan menanti. Menanti perempuan berkerudung hitam. Namun, mereka tak bergeming, mereka hanya sama-sama menanti. Sama-sama melarutkan diri dalam kesedihan.

            Tergambar olehku; perempuan berkerudung hitam dan lelaki kedai kopi itu romantis, seromantis Rangga dan Cinta yang sama-sama pencinta puisi, yang sama-sama suka membaca puisi dalam dunia film berjudul ‘Ada Apa Dengan Cinta’. Namun, apa daya mereka keromantisan berubah ketragisan, cinta mereka tak dapat tersatukan. Cenung perempuan berkerudung hitam berubah tangis, hatinya terasa pedih, sepedih ditusuk-tusuk jarum berkarat—mengingat kekasihnya yang telah menerima ia apa adanya, pula dengan ia, telah menerima lelaki yang menjadi kekasihnya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan aku hampir saja mengakhiri penyulaman hati yang robek mengenga perempuan berkerudung, aku tak kuasa melihat bulir air matanya, kemudian bulir air mata itu, kubungkus dengan kain gaib, kujadikan permata dalam duniaku, dunia cerpen.

 

            Aku sedikit gembira sebab separuh tugasku selesai, namun hati perempuan berkerudung hitam masih besar robek menganganya, kumulai kembali proses penyulaman itu.

 

            ***

            Kala pagi datang, dimana matahari baru terlihat biasnya di kaki langit, dan embun belum hengkang meninggalkan daun-daun. Perempuan berkerudung hitam masih duduk di kursi sambil menyelonjorkan kakinya, pandangannya nanar, dan bibirnya terkatup.

 

            Aku tusukan kembali secara perlahan dan hati-hati jarum gaibku ke hati yang robek menganga milik perempuan berkerudung hitam. Terdengar olehku ia merintih kesakitan, potongan kenangan itu kembali berbondong-bondong masuk ke dalam ingatannya. Betapa cintanya harus kandas dengan kekasihnya, menyerupai cinta Siti Nurbaya yang kandas pada Samsul Bahri karena Siti Nurbaya diperjodohkan oleh orangtuanya dalam dunia novel berkisah ‘Kasih Tak Sampai’.

            Untuk kesekian kalinya hampir saja aku urungkan tugas penyulamanku, sungguh aku tak tega melihat genang air matanya, dan genang air mata itu, kembali kutampung ke dalam kain gaib, kujadikan batu permata dalam dunia cerpen.

 

            Pagi telah berganti siang matahari tepat di atas ubun-ubun. Namun, perempuan berkerudung hitam masih tercenung duduk di kursi, kali ini ia memeluk kedua betisnya.

            Akhirnya tugasku selesai, kini hati perempuan berkerudung hitam yang mulanya robek menganga, akhirnya kembali sedia kala. Senyumnya kembali ruah, matanya kembali berbinar, hati dan pikirannya kembali gegap gempita, semarak penuh kebahagiaan.

 

            Aku pun bangkit kembali dari kematian, aku berhasil reinkarnasi dalam dunia cerpen. Namun, aku ingin sejenak melihat-lihat keindahan dunia nyata. Aku pun berkunjung ke dunia nyata.

 

            Di dunia nyata;

            Sesampainya di sana, aku melihat seorang perempuan berkerudung hitam sedang duduk manis di sebuah bangku. Aku menatapnya, dan nya menatapku, ia tersenyum padaku, pula aku tersenyum padanya.

            Namun, aku segera berlalu, aku kuatir perempuan berkerudung hitam kembali terlempar ke dalam dunia cerpen.

 

            Di dunia nyata;

            Aku melihat banyak muka dirum-rum kesedihan, seperti halnya yang kutemui dalam dunia cerpen. Dan perempuan berkerudung hitam itu, masih menyisakan seribu kenang dalam ingatanku—aku memikirkannya, aku mengkuatirkannya; ia kembali duduk tercenung di kursi, dengan kenangannya, sedangkan kulitnya telah keriput karena usia senja. Sedangkan, baik dalam dunia cerpen maupun dalam dunia nyata, air matanya telah menjadi bagian dariku, dan dia adalah separuhku.

 

            Yogyakarta, 6 Januari 2016

Dilihat 31