Negara Ideal Filsuf Raja, Khazanah Filsafat Politik Plato__Oleh Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Filsafat
dipublikasikan 06 Juni 2017
Negara Ideal Filsuf Raja, Khazanah Filsafat Politik Plato__Oleh Agus Hiplunudin

Negara Ideal Filsuf Raja, Khazanah Filsafat Politik Plato

Oleh Agus Hiplunudin

“Dalam karyanya, yaitu Republik Plato menjelaskan tentang hakikat negara. Menurutnya suatu negara harus menyelenggarakan pendidikan yang ideal yang sesuai dengan bakat warga negaranya. Dalam hal pendidikan ia membagi pendididikan menjadi dua bagian, yakni musik dan gimnastik, musik berarti segala hal yang berhungan dengan bidang pemikiran, gimnastik berarti segala hal yang berhubungan dengan olah raga. Lebih lanjut, Plato mempercayai bahwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala, bagian dada, dan bagian perut. Bagian kepala mewarisi sifat filsuf makanya wagra negara yang mewarisi sifat kepala inilah yang ccocok menjadi pemimpin negara, yang ia istilahkan; filsuf raja sedangkan yang mewarisi sifat dada, dalam dada berkobar sifat semangat yang tinggi, maka dalam hal ini warga negara yang mewarisi sifat dada ini mereka cocok menjadi sorang prajurit atau serdadu yang siap berperang kapan saja demi negara, sedangkan yang mewarisi sifat perut, di  dalam perut terkandung nafsu yang sangat berlimpah maka warga Negara yang mewarisi sifat perut ini mereka hanya cocok menjadi seorang pedagang yang karena aktivitas ekonominya mereka mengajar keuntungan sebanyak mungkin. Plato berpendapat bahwa tujuan dari negara adalah menciptakan keadilan, maka timbulah suatu pertanyaan; apa itu keadilan? Dalam pandangannya keadilan adalah di mana sebuah kondisi setiap warga negara melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan sifat dasar yang dimiliki oleh seorang warga negara. Plato percaya bahwa dalam negara idealnya, sikap khidmat, sopan santun, dan keberanian adalah sifat yang harus dikembangkan melalui jalur pendidikan. Sejak awal negara harus mampu mengontrol bacaan-bacaan kanak-kanak, mereka tidak diperkenankan membaca buku-buku yang bermuatan jahat, sebagai misal dengan beberapa alasan buku-buku Homerus dilarang dibaca oleh kanak-kanak karena bercerita tentang dewa-dewa yang terkadang berperilaku buruk, yang tentunya ini bisa merusak pikiran mereka, dan buku Homerus memuat cerita-cerita yang kemudian akan menimbulkan rasa takut mati pada diri kanak-kanak, sedangkan tujuan pendidikan adalah menanamkan jiwa agar jiwa muda beranggapan; perbudakan lebih buruk ketimbang kematian. Dan, anak-anak muda jangan takut mati dalam suatu pertempuran. Seperti halnya kaum muda Sparta yang begitu gigih mempertahankan negaranya, mereka tak takut mati ketika berperang melawan musuh-musuh negaranya.

            Mengenai perempuan Plato beranggapan bahwa kemampuan memimpin bukan ekslusif hanya dimiliki kaum laki-laki, namun kemampuan memimpin juga dimiliki oleh kaum perempuan, karena laki-laki dan perempuan mempunyai sifat dasar yang sama, dan mempunyai potensi yang sama tuk menjadi sorang filsuf raja. Dengan catatan; perempuan harus mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki, serta perempuan harus dibebaskan dari urusan-urusan domestik seperti mengurus anak dan memasak di dapur, maka dengan demikian perempuan akan mampu mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan negra dan politik.”

  • view 106