Filsafat Dialektika Socrates__Oleh Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Filsafat
dipublikasikan 05 Juni 2017
Filsafat Dialektika Socrates__Oleh Agus Hiplunudin

Dialektika Socrates

Oleh Agus Hiplunudin

“Socrates dalam berfilafat—mengembangkan seni diskusi dialektika, yaitu sebuah seni diskusi yang diawali dengan pertanyaan, lalu melahirkan sebuah jawaban dan akan kembali melahirkan sebuah pertanyaan, begitu seterusnya. Ia bertanya biasanya mengambil dari salah satu konsep yang mendasar bagi kehidupan manusia lalu mengajukan pertanyaan, misal; apa itu cinta? Atau apa itu keberanian? Atau apa itu kesalahan? Apabila ada orang yang merasa yakin mengetahui jawabannya, ia akan menguliti dengan serangkaian pertanyaan yang lebih jauh dan mendalam dengan pertanyaan selanjutnya. Missalnya lagi; ada yang menjawab keberanian hakikatnya adalah kemampuan untuk menghadapi kesulitan, Socrates akan mengajukan pertanyaan, lantas apa yang disebut keras kepala? Karena orang yang keras kepala akan menunjukkan keberanian yang kuat dan mereka mempunyai daya untuk menyelesaikan kesulitan. Apakah keras kepala sama dengan berani? Dan seterusnya. Bila ada yang menjawab bahwa hakikat dari cinta adalah kerinduan yang mendalam dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Lalu Socrates akan bertanya, apa bila ada seorang laki-laki dan perempuan bertemu dan melakukan hubungan badan, apakah ini cinta? Apakah sama cinta dengan nafsu? Begitu seterusnya, sehingga orang yeng memberi jawaban tersebut terpaksa harus menarik kembali jawabannya. Jadi jawaban pertama tidak memadai—memaknai apa itu keberanian, apa itu cinta, tapi dengan cara bertanya terus-menerus atau yang kita kenal berdialektika maka akan ditemukan apa itu hakikat keberanian dan apa hakikat dari cinta.

Socrates memberi pemahaman kepada siapa saja yang berbicara dengannya, atau siapa saja yang belajar padanya, dengan cara berdilektika tidak dengan cara menggurui mereka, karena Socrates sendiri sangat terkenal dengan kata-katantnya; yang aku ketahui bahwa aku tidak tahu apa-apa. itulah kerendahan hati dari sorang filsuf sejati.  Cara Socrates mengajar ternyata ia menjadi tokoh yang paling kontroversial, dan kemampuanya berdialektika mampu menelanjangi kebodohan penguasa pada zamannya.”

  • view 73