DURNA PERLAYA__Cerpen Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Juni 2017
DURNA PERLAYA__Cerpen Agus Hiplunudin

DURNA PERLAYA

Oleh: Agus Hiplunudin

 

(1)

Pada sebuah sore yang keperakan. Bambang Ekalaya benar-benar takzim melihat kepiawaian Resi Durna dalam hal melatih olah senjata bermain panah pada murid terkasihnya, Arjuna. Akhirnya, Bambang Ekalaya yang sedari tadi mengintip di atas pohon beringin yang rindang, ia keluar dari persembunyiannya itu. Bambang Ekalaya langsung sembah sujud di kaki Resi Durna, dan memohon untuk menjadikannya sebagai murid.

“Kisanak bangkitlah,” kata Resi Durna sambil berjungkuk, dan memegang pundak Bambang Ekalaya supaya berdiri.

“Bapak Resi, aku mohon jadikanlah, aku muridmu.”

“Sekarang tunjukkanlah kebolehanmu dalam hal bermain panah.”

Bambang Ekalaya pun segera mengambil busur dan anak panahnya yang terselempang di punggungnya.

Bukan main piawainya Bambang Ekalaya dalam hal bermain panah itu, bidikkannya tak pernah meleset dari sasaran. Hingga, akhirnya Bambang Ekalaya dan Arjuna diadukan kemampuan mereka oleh Resi Durna—dalam hal kebolehan membidikkan anak-anak panah pada sasaran.

Tampak anak panah Bambang Ekalaya secara bersamaan melesat seiring bersama dengan anak panah Arjuna memburu sebuah sasaran, berupa orang-orangan yang terbuat dari jerami. Secara bersamaan pula kedua anak panah dari kedua kesatria tersebut tertancap tepat di dahi orang-orangan jerami tersebut.

Resi Durna sepontan bertepuk tangan, lantaran salut menyaksikan kedua kesatria dengan kemampuan memanah yang amat luar biasa, jauh melampaui kemampuan para kesatria pada umumnya. Namun, Resi Durna menangkap, ada perubahan dari raut wajah pada diri Arjuna, dan memang benar adanya dalam lubuk hatinya Arjuna terdalam, terbersit saja—ia tak mau tersaingi oleh siapapun dalam hal kemahiran bermain panah. Pun dengan Resi Durna mengerti akan perasaan murid terkasihnya itu, Resi Durna juga tentunya tak mau kemampuan memanah murid terkasihnya ada yang menyaingi.

“Kesatria, aku tidak dapat menerima kau menjadi muridku, karena aku hanya diperkenankan melatih olah senjata pada para Pandawa dan Kurawa, sedangkan kau bukan berasal dari keduanya,” Resi Durna dengan tegas.

Bambang Ekalaya mengerti, keputusan Resi Durna tak mungkin lagi dapat berubah. Namun, Bambang Ekalaya dalam hati kecilnya berjanji—bahwa dirinya layak mendapat pelajaran dari Resi Durna, kendati dirinya bukan berasal dari keluarga Pandu atau Pandawa ataupun Kuru atau Kurawa.

 

(2)

Disinari benderangnya sinar rembulan yang bercahaya keperakan, tampak seorang kesatria sedang serius dan fokus membidikkan anak panahnya pada sebuah sasaran berupa orang-orangan yang menyerupai Resi Durna. Adapun bidikkan anak-anak panah kesatria tersebut tak pernah meleset dari sasaran yang hendak dikenai anak panah sang kesatria tersebut. Dan, kesatria yang dimaksud tak lain adalah Bambang Ekalaya, ia benar-benar telah menjadikan Resi Durna sebagai gurunya dalam hal olah senjata panah-memanah. Bambang Ekalaya telah berhasil menjadikan dirinya sebagai murid Resi Durna—kendati hanya dalam imajinasinya sendiri. Namun, siapa sangka kehebatan Bambang Ekalaya dalam hal memanah memanag sulit mencari tandingannya—Arjuna sekali pun, belum tentu dapat mengalahkannya.

 

*

Hingga pada suatu hari, diketahuilah oleh Resi Durna dan Arjuna, di salah satu sebuah hutan yang masih termasuk wilayah kekuasaan Hastinapura, bahwasanya ada seorang kesatria yang berlatih memanah dengan fokus sasaran orang-orangan yang menyerupai Resi Durna.

 

“Kau telah menjadikan aku sebagai gurumu,” kata Resi Durna sambil menatap tajam Bambang Ekalaya yang sedang bersimpuh di hadapannya.

“Guru, maafkanlah aku, jika kau tak berkenan. Sebagai murid, aku siap melaksanakan atau melakukan darma apapun demi Guru.”

“Baiklah, buktikanlah darmu itu padaku.”

“Apapun yak kau pinta, pasti akan kuturuti, Guru.”

Tampak, Resi Durna mengeluarkan sebuah pisau belati dari saku jubahnya, dan memberikan belati tersebut pada Bambang Ekalaya.

“Cabutlah belati itu,” perintah Resi Durna.

Tanpa pikir panjang lagi, Bambang Ekalaya mencabut belati itu dari sarungnya. Bukan main mengkilapnya belati itu, pertanda belati itu tajamnya tiada diragukan lagi.

“Sekarang potonglah ibu jari tangan kananmu, dengan belati itu,” pinta Resi Durna.

Masih tetap dalam keadaan bersimpuh di hadapan Resi Durna, tiada ragu lagi untuk melaksanakan darmanya pada sang guru, Bambang Ekalaya pun memotong ibu jarinya sendiri dengan belati tersebut, tampak darah bercucuran dari ibu jari tangan kanan Bambang Ekalaya yang telah terpotong, dan potongan ibu jari Bambang Ekalaya tergeletak di antara Bambang Ekalaya dan Resi Durna.

 

Setelah ibu jari Bambang Ekalaya terpotong, tanpa kata lagi Resi Durna dengan menggampit lengan Arjuna meninggalkan Bambang Ekalaya yang masih bersimpuh. Dan, dengan terpotongnya ibu jari tangan kanan Bambang Ekalaya, itu sama artinya; bahwa Bambang Ekalaya telah kehilangan segala kepandaiannya dalam hal panah-memanah. Melihat kenyataan yang telah dan tengah dialaminya, tampak pasang mata Bambang Ekalaya berkaca. Ia pun segera pergi, dan mencari daun babadotan untuk menghentikan darahnya yang terus-menerus mengalir itu, keluar dari ibu jarinya yang telah terpotong.

 

Lambat-laun pendarahan pada ibu jari tangan kanan Bambang Ekalaya reda juga. Tampak, Bambang Ekalaya berjalan gontai dengan membawa kekecewaan yang bersarang dalam hatinya, ia berjalan mengikuti kedua ibu jari kakinya. Hingga sampailah di belakang sebuah istana, yakni Istana Pancala yang dirajai oleh Prabu Drupada. Bambang Ekalaya duduk bersila di semak-semak, lantas memejamkan mata, ia melakukan olah tapabrata di sana.

 

(3)

Waktu terus melaju, hari berganti hari, bulan-bulan pun terus bergani, tahun-tahu terus melaju, musim-musim datang silih berganti. Dan, orang-orang telah lupa akan peristiwa darma Bambang Ekalaya untuk sang mahaguru Resi Durna—dengan cara memotong ibu jari tangan kanannya. Betapa, peristiwa darma yang sangat dipolitisasi oleh sang resi tersebut—dikecam oleh para kesatria dan para alim suci brahmana. Namun, semuanya berpulang pada kehedak Dewata, sebab segala perkara atau kejadian kembali berpulang pada-Nya.

Sore itu, tak biasanya Dristadyumna kakak sulungnya Drupadi yang berarti anaknya Prabu Drupada penguasa Pancala. Ia berkuda menyelipir kebelakang istana. Dristadyumna menghentikan laju kudanya, ada sesuatau yang menarik hatinya, dari semak-semak itu melayang-layang sebuah harum mawa bunga. Ada apakah gerangan di balik semak-semak itu? Demikian gumam Dristadyumna, ia pun turun dari kudanya menyibak semak-semak menghampiri sumber keharuman tersebut. Setelah tersibak, bukan main terkagetnya Dristadyumna tampak olehnya seorang yang sedang bersila berada di dalam semak itu, di mana seluruh tubuhnya telah dipuhi lumut dan rerumputan, karena rasa penasaran dibersihkanlah tubuh petapa itu. Setelah bersih, perlahan pasang mata sang petapa terbuka.

“Anak muda kau telah berani-beraninya membangunkan tapabrataku!” bentak sang petapa matanya yang menyala semerah api menatap anak muda yang berdiri di hadapannya, membuat Dristadyumna mundur beberapa langkah.

Tampak sang petapa bangkit dari bersilanya, ia mencabut dua pedangnya yang terselip di pinggang kiri dan kanannya, sungguh kemahiran permainan pedang kembar sang petapa—membuat terperangah putra sulung Prabu Drupada.

“Karena kau telah membangunkanku dari tapabrata, maka kau harus mau menjadi muridku!” kata sang petapa sambil menyelipkan kembali kedua pedangnya pada sarungnya.

Dan, petapa itu tak lain adalah Bambang Ekalaya, kendati ia telah kehilangan kemampuannya dalam hal bermain panah, namun keahliannya dalam bidang permainan pedang masih sempurna dikuasainya.

 

Bambang Ekalaya; setelah merasa bahwa semua ilmu olah pedang yang dikuasainya telah diturunkan pada muridnya, Dristadyumna. Dan, tanda kelulusannya yakni—pedang kembar tersebut diberikan oleh Bambang Ekalaya pada Dristadyumna.

 

Dengan menguasai kebolehan memainkan pedang dua secara bersamaan, maka Dristadyumna menjadi kesatria pilih tanding yang sulit dicari padanannya. Sabetan pedang Dristadyumna bagai sebuah kilat saja, sekilas dan tahunya kepala lawan telah terlepas dari lehernya. Prabu Drupada melihat kesaktian putranya terksih dalam hal olah senajata pedang membuat dirinya besar hati, kelak tahta kerajaan yang tengah di dudukinya akan jatuh pada orang yang sangat tepat.

 

(4)

Pada hari keempat belas perang Baratayudha, di padang Kulusetra sebagai medan—telah dibanjiri darah, mayat bergelimpangan di mana-mana. Korban berguguran di antara dua kubu—yakni kubu Pandawa dan Kurawa yang sedang bersateru.

Perang yang semula dimulai pada saat fajar menyingsing, dan diakhiri ketika senja telah terjaring malam. Namun, karena kobar dendam dan kebencian yang semakin membakar nurani kedua kubu, karenanya peperangan berlangsung hingga malam menjelang, dengan obor sebagai penerang.

Pasukan raksasa yang dipimpin oleh kesatria Pringgandani Gatotkaca serangannya pada malam hari semakin menggila, pasukan itu menyerang pasukan Kurawa dari udara. Pasukan Kurawa pun kian kucar-kacir, kewalahan melawan serangan udara pasukan raksasa Gatotkaca.

“Karna, cepat bunuh Gatotkaca!” teriak Duryudana yang nyaris putus asa.

Memang, tak ada lain, yang dapat menghentikan laju serangan udara Gatotkaca kecuali Karna yang memiliki tombak sakti pemberian dari Dewa Indra. Tombak itu, tadinya dimaksudkan Karna untuk membunuh musuh bebuyutannya yakni Arjuna. Namun, apalah daya, Karna sendiri telah terkena salah satu anak panah pasukan Gatotkaca, membuat amarah Karna meluap-luap. Dan, akhirnya Karna pun melemparkan tombak Bata Indra itu ke arah Gatotkaca, membuat Gatotkaca gugur, perlaya di medan perang.

Dengan meninggalnya Gatotkaca, semangat tempur pasukan Kurawa kian berlipat ganda. Resi Durna yang tengah menjadi penglima perang Kurawa di mana anak-anak panahnya tak pernah gagal dari sasarannya, membuat pasukan Pandawa limbung keteteran.

Tambah pula Resi Dura telah membacakan mantra bramastra mantra yang memiliki kekuatan magis, di mana wujud Resi Durna tak tampak oleh musuh-musuhnya, dan anak panah Resi Durna melesat ratusan kali lipat kekuatannya.

“Resi Durna dengan mantra bramastra tak dapat dikalahkan,” bisik Semar pada Kreshna ketika kereta kuda yang disaisi Kreshna itu berhenti, setelah berbisik demikian Semar yang samasekali tak terlibat perang kembali ke pinggiran hanya sebagai pemerhati perang.

Kershnya yang tengah menjadi sais kuda Arjuna membisikkan apa yang dibisikkan Semar barusan, membuat Arjuna terkesiap.

“Lantas apa yang harus kita lakukan?” tanya Arjuna.

“Mahaguru Durna, akan padam semangat tempurnya, bahkan padam semangat hidupnya bila mendengar Aswatama, puta terkasihnya mati di medan Kulusetra,” kata Kreshna.

 

Setelah minta persetujuan Prabu Yudhistira atau Puntadewa Kreshna pun segera memerintahkan Bimasena untuk membunuh seekor gajah besar yang bernama Aswatama. Tanpa ragu lagi, Bimasena menghantamkan gadanya tepat ke kepala gajah yang bernama Aswatama itu, dan bertieriak dengan kerasnya; “Aswatama matiii!!” dan teriakan tersebut disambut oleh teriakan pasukan Pandawa yang lainnya dengan berteriak; Aswatama mati, Aswatama mati....

Resi Durna dalam kekuatan manta bramastra betul-betul menggila, tak ada satu kekuatan pun yang dapat menangkis ataupun menahan serangannya. Namun, ketika samar terdengar olehnya; bahwa putranya Aswatama mati, seketika Resi Durna menghentikan serangannya, wajahnya yang tadi sangar kini kian meredup, matanya yang tadi liar kini kian berkaca-kaca, hatinya tak lagi berambisi memenangkan peperangan, dalam hatinya tak lain hanya ingin memastikan; apakah benar Aswatama telah mati? Tak adalah tempat bertanya bagi Resi Durna yang dapat dipercayanya selain Prabu Yudhistira. Perlahan Resi Durna melajukan kudanya ke arah Yudhistira.

“Prabu Yudhistira benarkah, Aswatama telah terbunuh?” tanya Resi Durna.

“Awatama, telah mati,” jawab Yudhistira dengan lantang, “Aswatama gajah itu,” kata Yudhistira dengan lirih. Namun, suara lirih tersebut terkalahkan oleh hingar-bingar suara pedang yang beradu dan suara pekik pertempuran, oleh karenannya tak terdengar oleh Resi Durna.

Setelah bicara demikian pada Resi Durna, tampak kereta kuda yang tengah ditumpangi Yudhistira yang selalu mengambang empat inci di atas permukaan tanah—sebagai tanda manusia suci lagi terpercaya. Namun, kereta kuda tersebut kembali menapak di atas permukaan tanah, pertanda Yudhistira telah melanggar salah satu darma sucinya yang senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran. Yudhistira telah membohongi Resi Durna dengan sebuah tipu muslihat yang lincin nan licik itu. Dengan demikian, sehingga Yudhistria layaknya manusia biasa yang kerap berbohong itu. Tampak muka Yudhistita memerah karena menanggung malu yang tak terkirakan, perbuatan hina tersebut kali pertamanya ia lakukan, itu pun sangat terpaksa, lantaran keadaan yang sangat mendesak. Jika nggak begitu maka pasukan Pandawa akan hancur lebur, dibinasakan oleh Resi Durna yang tiada tandingnya.

 

Adapun Resi Durna setelah mendengar Aswatama mati, langsung hilang daya hidupnya, ia turun dari kudanya, seraya duduk bersila dan merundukkan kepalanya, mengambil posisi bersemedi, beryoga—menyatukan diri dengan semesta sebagai perwujudan kemaha luasannya Dewata.

Dristadyumna puta Prabu Drupada murid terkasinya Bambang Ekalaya yang tengah menjadi panglima besar pada kubu Pandawa tak mau menyia-nyiakan kesempatan, lantas ia loncat dari punggung kudanya, tak menghiraukan teriakan orang-orang yang melarangnya. Dristadyumna menghempaskan pedangnya ke tengkuk Resi Durna. Tak dapat ditawar-tawar lagi, kepala Resi Durna pun copot terlepas dari lehernya bergelinding di atas permukaan tanah.

 

Selesai

Yogyakarta, 3 April 2016

  • view 54