PEREMPUAN YANG MENGUKIR KESEDIHANNYA DALAM PUISI__Cerpen Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Juni 2017
PEREMPUAN YANG MENGUKIR KESEDIHANNYA DALAM PUISI__Cerpen Agus Hiplunudin

PEREMPUAN YANG MENGUKIR KESEDIHANNYA DALAM PUISI

Oleh: Agus Hiplunudin

 

Aku duduk pada sebuah kursi sendirian, di depanku sebuah meja bundar, dan bertengger di sana segelas aroma penuh kejantanan. Di kedai kopi itu, kedai yang akhir-akhir ini, pada setiap senja kukunjungi. Kedai kopi yang menwarkan aroma yang tak biasa. Aku melihat salah satu pengunjungnya seorang perempuan, yang dimataku wajahnya diliputi cinta, pasang matanya bersinar bagai bintang gejora, barangkali ia keturunan matahari.

Kuseruput kopi namun pasang mataku masih terpatri pada perempuan keturunan matahari, kuambil bungkus rokok di saku celana depan, kuambil sebatang, dan kusulut, setelah itu kuhisap amat dalamnya, itu semua kulakukan hanya sekedar tuk menyampaikan pesan pada perempuan itu, bahwa aku masih sendiri, hendak menyapa dan menghampirinya, namun aku tak cukup nyali.

 

Perempuan keturunan matahari juga duduk sendirian, sehelai kertas dan sebuah pena menjadi teman setianya. Dalam hati bertanya; apa yang ia lakukan pada kertas dan pena itu?

 

Ia meninggalkan kertas dan penanya di atas meja, kala hujan merintik, ia menengadahkan mukanya ke langit menyambut helai-helai air yang menitik, kemudian helai hujan itu melebur dengan air matanya, dan semua orang mengira bahwa ia baik-baik saja. Hanya aku yang tahu bahwa ia menangis, tangis yang disamarkan oleh tangis langit melalui hujan merintik.

            Ia juga meninggalkan kertas dan penanya kala senja menjelang, mukanya didongakan ke arah barat, melihat terbenamnya matahari, saat langit mulai menghitam, ia menangis, namun karena gelap malam—tangis itu tersamarkan, dan semua orang menyangka dia baik-baik saja. Itu pun hanya aku yang tahu.

            Mata bintang gejoranya dikerlingkan pada puncak-puncak gunung, pada bebungaan, pada kumbang-kumbang, pada pepohonan, dan yang dilihatnya itu ia rangkai menjadi bait-bait puisi. Puisi yang beraroma kesedihan. Dan yang bagian itu, aku baru mengetahuinya.

 

            Dalam keraguan kuhampiri dia. Jangankan menyapa menoleh pun tidak. Seolah aku tak ada, seolah dalam kedai itu yang ada hanya dirinya. Kuberanikan diri duduk berhadap-hadapan dengannya, namun kertas dan pena lebih menarik baginya, ia tak sudi sedikit saja melirik diriku.

            Kusapa ia, ia tak menjawab, hanya tersenyum, namun senyumnya menggetarkan hatiku, sebuah getaran yang kali pertamanya kurasakan, sebuah getaran yang dapat kuubah menjadi prosa indah dalam bentuk sajak dan puisi.

 

            Aku diam, ia pun sama. Hujan merintik, dan ia berlari menengadahkan muka ke langit tuk menyamarkan air matanya yang menitik bersamaan gerimis dan semua orang mengira bahwa ia baik-baik saja. Senja menjelang dan pasang matanya memerhatikan matahari yang tenggelam, tuk menyembunyikan tangisnya di balik malam, dan semua orang mengira bahwa ia baik-baik saja.

            Kenalkan nama lengkapku Alap Himalaya, kau boleh memanggilku Ahil. Ia tak lantas menjawab, sejenak menatapku, tersungging, baru berkata; “namaku Sumi Ringahsari, kau boleh memanggilku, ‘Sumi’ kau juga boleh memanggilku ‘Sum’.”

            “Apa yang kau lakukan dengan pena dan kertas itu?”

            “Aku membuat puisi, puisi tentang masa depanku, masa depan yang penuh kesedihan.”

            “Maksudmu?”

            “Jika kau tak mengerti enyahlah dari hadapanku. Jangan ganggu. Jangan mengacaukan kesedihanku, kesedihan masa depanku, yang telah kutuangkan dalam puisi-puisi.”

            Aku terdiam, bungkam, dalam hati miris sendiri—Sumi sedang mencoba mengintip takdir Tuhan, dalam pikirku jangankan mengintip takdir, sebab manusia dengan segala keterbatasannya, mengintip isi hati manusia lain pun tak mungkin.

            “Jangan kau remehkan aku, manusia dianugrahi intuisi, intuisi itulah yang memungkinkan manusia tuk mengetahi akan nasibnya, nasibmu pun bisa kuketahui.”

            Aku tertegun, seolah perempuan dengan garis lengkung khas bibirnya itu dapat mengetahu gumam hati ini.

            “Lantas apa yang membuat engkau menangis—kala hujan merintik, kala senja berganti malam?”

            Mendengar kataku, Sumi tak terkaget, seolah dirinya telah mengetahui, bahwaku telah mengintipnya sedari beberapa hari yang lalu.

            “Bait-bait puisiku berisi keindahan, namun keindahan itu sebenarnya bermakna kesedihan. Memang benar adanya—dibalik indah ada kesedihan, dan dibalik kesedihan ada keindahan. Hidup sejatinya berisi ironi dan tragedi, berisi komedi absud dan ambigu,” kata Sumi, dan aku tak hendak memotong kata-katanya itu, sejenak terdiam, ia melanjutkan kata-katanya;

            “Pada masa depanku, aku bertemu dengan seorang lelaki, ia penyair dari kehidupan, yang belajar kata hanya melalui rasa, dirinya bukan sastrawan, namun karena cintanya padaku, dan cinta memang dapat mengubah segala sesuatu menjadi indah, entah sesuatu itu berupa kata, benda atau apapun itu, karenanya ia mampu mengubah kata-katanya menjadi bait-bait puisi indah bagai sang pujangga. Namun, entah kenapa? Aku tak dapat hidup bersatu dengannya,” Sumi dengan tatapannya yang kosong.

            “Apakah intuisimu tak dapat mengetahui penyebabnya,” selaku dan Sumi menggelengkan kepalanya dan berkata; “karena intusiku tak dapat mengetahui penyebab perpisahan itu, karenannya aku terlalut dalam kesedihan. Seandainya aku dapat mengetahuinya, barangkali aku tak sesedih ini, dan aku dapat merencanakan sesuatu tentang nasib perjalanan cintaku kelak.”

             

            Hujan kembali merintik, Sumi kembali berlari dan menegadahkan mukanya ke langit, air matanya tersamarkan oleh hujan, dan semua orang mengira bahwa ia baik-baik saja.

            Senja kembali bertandang, Sumi mendongakan mukanya melihat matahari tenggelam, kala malam menjelang air matanya menitik dibalik tirai malam, dan semua orang mengira bahwa ia baik-baik saja.

 

            ***

            Tak banyak hari kulalui bersama perempuan pemilik mata indah laksana bintang gejora. Namun, lenggok dan gayanya berumah abadi dalam diriku.

            “Sudahlah, kamu tak usah melarutkan kesedihanmu dalam bait-bait puisi, hadapi hidup hari ini, kenangi yang telah terjadi, dan rencanakan kebahagiaan pada masa yang akan datang,” kataku kala duduk berhadap-hadapan dengannya, di kedai kopi itu.

            “Kau tak usah mengajariku, bagiku kebijaksanaan tercurah dari air mata. Pengetahuan muncul dari pikir dan rasa. Ilmu terpancar dari kalbu, cinta, dan kerinduan,” katanya.

            Betapa pun aku dengan keterbatasanku dalam memahami kata-kata, ia amat pandai bermetapora bahasa, bahasa yang terlahir dari logika, logika yang berawal dari jiwa.

            “Dimana rumahmu?”

            “Kau tak usah tahu rumahku.”

            “Aku ingin kenal orangtuamu.”

            “Itu pun tak perlu bagimu. Lihat perempuan itu,” Sumi sambil mengkerlingkan matanya pada perempuan peracik dan penyeduh kopi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, seorang perempuan yang ranum diusianya yang telah sedikit menanjak.

            Ia melanjutkan kata-katanya; “Ibuku peracik dan penyeduh kopi yang hebat. Sehebat dirinya menulis karya sastra puisi, cerpen, dan novel. Karyanya telah tersebar di toko-toko buku. Namun ia tak pernah memakai nama asli—ia mempergunakan nama pena, ia pun tak pernah memajang foto dalam biografinya, tambah lagi ia paling anti masuk tv dan radio, menurut ibuku populeritas hanya berisi kepalsuan. Ibuku juga bilang; biarlah orang lain mengenalnya melalui karya-karyanya, tak perlu tahu akan dirinya. Ayahku juga seperti ibuku itu.”

            Aku pun membunuh keingin tahuanku—dan aku telah salah meduga, kukira Sumi salah satu pengunjung, tapi ternyata anak pemilik kedai. Sumi pun kembali menyibukan dirinya dengan puisi-puisinya. Puisi indah, namun berisi kesedihan. Puisi cinta, namun berisi pendertitaan. Puisi komedi, namun berisi kegetiran.

           

            Tak banyak hari yang kulalui dengannya. Namun, lenggok dan gesturnya berumah abadi dalam diriku. Ia selalu menengadahkan mukanya ke langit, kala hujan merintik tuk menyamarkan air matanya yang berlinang, hingga setiap orang menyangka bahwa ia baik-baik saja. Kala senja ia selalu memandangi matahari yang tenggelam, dan saat malam menjelang dibalik kegelapan, air matanya membasahi dua bilah pipinya, dan setiap orang menyangka bahwa ia baik-baik saja.

 

            Serang, 9 Januari 2017

Dilihat 132

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Membaca fiksi singkat ini sanggup membawa kita berjalan sangat lambat mengikuti alur cerita yang pelan demi menguak emosi terdalam sang wanita sebagai tokoh utamanya. Gaya kepenulisan yang memperhatikan detil gerakan hingga latar tempat membuat fiksi ini indah dinikmati sebagai sajian sastra.

    Ketika sang wanita bercerita tentang hidup dan keluarganya makin menjadi pilu pembaca dibuatnya. Tetapi inilah kekuatan cerita pendek ini, yang secara total mengalir lancar membuai ranah batin terdalam siapa pun yang menikmatinya. Luar biasa, Agus!

  • Anik Cahyanik
    Anik Cahyanik
    24 hari yang lalu.
    Saat membaca ini, terasa jelas pilu yang digambarkan penulis.