SEBUJUR BANGKAI NENEK YANG MENJADI PERI__Cerpen Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2017
SEBUJUR BANGKAI NENEK YANG MENJADI PERI__Cerpen Agus Hiplunudin

SEBUJUR BANGKAI NENEK YANG MENJADI PERI

Oleh: Agus Hiplunudin

 

Pukul tiga dini hari, kawasan Pasar Senen Jakarta Pusat. Di stasiun kereta api tampak seorang nenek dengan segala tingkah kenenek-nenekannya sedang duduk tercenung pada sebuah kursi tunggu yang berderet memenjang kesamping, namun segalanya kian berubah seratus delapan puluh derajat ketika nenek itu berdiri dan mengedipkan mata sebelah kirinya dengan genit pada setiap lelaki yang hilir mudik baik yang hendak naik ke kereta api maupun yang barusan turun. Semua orang nampak keheranan melihat tingkah sang nenek. Tak jarang dari mereka menganggap bahwa si nenek mengidap penyakit gila.

 

Tubuh ringkih sang nenek bergerak tergopoh-gopoh keluar stasiun, menuju terminal bus. Di sana ia lebih bertikah lagi, tersenyum merasa diri cantik dan seksi pada tiap lelaki yang disuanya, padahal tubuh nenek serupa dengan metromini tua yang teronggok sebab tak lagi sanggup menarik tumpangan. Jangankan ada yang tertarik, semua wajah nampak tak sudi melihat tampang sang nenek keriput seperti itu.

 

Si nenek tak putus asa ia berjalan menyisir pasar, bertingkah manis pada setiap lelaki yang disuanya, sebuah becak dengan kecepatan penuh ditumpangi perempuan tambun, dan digerobaknya  berjubel karung berisi sayuran nyaris menabraknya, namun untungnya abang tukang becak sigap dan berhasil meremnya, setiap orang yang menyaksikan disekitar tempat itu menjerit histeris. Namun, keriput raut wajah sang sang nenek tetap menyiratkan ketenangan, peristiwa itu sungguh tak mengejutkannya.

 

Bibir keriput sang nenek komat kamit melantunkan lagu “Goyang Dumang” dengan mulut menganga, maksud hati menirukan laga Cita Citata, namun yang terjadi sang nenek malah memerkan gusinya yang tak lagi bergigi itu.  Perlahan, namun pasti kedua telapak kaki sang nenek yang tak bersandal terus menapaki jalan, pinggul kerempengnya bergerak ke kiri dan ke kanan, pasang matanya yang telah kehilangan beningnya dikedipkan pada sopir taksi atau sopir bajay yang berpapasan dengannya, tentunya disambut canda tawa dan cemooh oleh mereka.

 

Tiba-tiba tepat di pinggir lampu merah simpang empat, tubuh bungkuk nenek berhenti melangkah. Tubuhnya yang kurus kerontang serupa tulang terbungkus kulit, lunglai terkapar, seperti pelastik bekas yang tergeletak di aspal. Tubuh nenek semakin lama semakin kusut, nenek mati secara mendadak, mengoyak, membusuk seperti sampah organik yang terlunta-lunta di tempat pembuangan, jasad sang nenek tak ubahnya barang najis dan kotor yang dapat mencemari udara.

 

Tak seorang pun yang mau menyentuh sebujur mayat sang nenek, mereka terlalu sibuk mengurusi diri mereka sendiri, sehingga nurani mereka mati, karenanya tak lagi peduli pada orang lain.

Orang-orang yang berjualan sayur-mayur, daging ayam, ikan, bawang, cabai di Pasar Senen menganggap mayat sang nenek sebagai sampah biasa, yakni benda tak berguna sehingga layak diabaikan, dibiarkan begitu saja.

Para polisi, satpol PP, TNI, para dokter, birokrat tak mau peduli dengan seonggok mayat sang nenek, mereka mengacuhkannya, sebab sang nenek adalah manusia entah berantah, tak bersanak keluarga, maklum tensi ibukota dan berangkali para waganya telah terbiasa dengan mayat pengemis yang terkapar dan terbiar, manusia ibukota tak mau bertindak tanpa imbalan lembaran uang.

Hingga terjadi suatu kejanggalan, mayat sang nenek membusuk, namun tak melumat, lalat-lalat hijau hinggap dan terbang ke atas permukaan bangkainya, belatung-belatung mengerat daging dan tulangnya, namun sebujur bangkai sang nenek tetap utuh seperti dimumi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Mesir kuno terhadap Ramses, raja mereka. Bau busuk sumerbak ke mana-mana, mengontaminasi daging ayam sehinggi jadi tiren, sayur-sayur membusuk, Pasar Senen kian sepi, terminal bus kian kosong, dan stasiun kereta api kian lengang.

 

Pasar Senen menjadi kota mati, becak teronggok tanpa pengayuh, bus metromini, bajay, dan angkot terkapar tiada kemudi, kereta api diam tak bermasinis, lapakan-lapakan pedagang kaki lima kosong tiada penungggu, kantor Dinas Pemuda dan Olahraga, serta pusat perbelanjaan busana suwung, hampa tak ada pegawai. Hanya sebujur bangkai sang nenek yang tergeletak dalam kesunyian dihinggapi lalat-lalat hijau dan dikerumuni belatung-belatung putih gemuk.

 

Entah telah berapa lama sebujur bangkai sang nenek tergeletak? Entah berapa lama Pasar Senen menjadi lengang tiada berpenghuni? Kemudian seberkas cahaya turun dari langit, menyapu sebujur bangkai, kemudian raip, tiada cahaya tiada pula sebujur bangkai, yang tersisa berupa kelengengangan, sunyi, sepi, tiada bertepi.

 

Seperti dalam negri dongeng, seakan jutaan orang bangkit dari kuburnya aneka ruh kembali bersemayam kedalam raganya, Pasar Senen kembali hidup. Deru mesin metromini, bajay, dan kereta api kembeli mendesing, becak kembali bergerak dikayuh seorang abang, pedagang kaki lima kembali menjajakan barang-barangnya. Hiruk-pikuk Pasar Senen hiruk-pikuk kota metropolitan, ramai namun individualis, banyak orang namun masing-masing. 

 

 *

Pukul tiga dini hari, kawasan Pasar Senen Jakarta Pusat. Di stasiun kereta api tampak seorang perempuan sedang duduk tercenung pada sebuah kursi tunggu yang berderet memenjang kesamping.

 

Perempuan itu gadis cantik, dibalut kain sutera putih tersilang di antara pangkal lehernya yang putih dan jenyjang, sutera itu terjuntai kebawah membentuk sebuah siluit menelusuri lekuk tubuhnya yang indah dan ramping, hingga dapat menghipnotis siapa saja yang melihatnya baik laki tak terkecuali perempuan.

Bahunya yang putih dan lengannya yang lencir memantulkan cahaya tersinari benderangngnya lampu listrik. Kemudian ia berdiri menunjukkan gemulai tubuhnya, sungguh dapat memuskan lensa mata kaum laki-laki, orang-orang yang lalu lalang baik yang hendak naik kereta api maupun yang baru turun mengira bahwa ia gadis peri yang turun dari langit.

 

Tubuh seksi gadis itu berdiri, kemudian melangkahkan kakinya yang lancip, lencir, dan bersinar, beranjak dari stasiun menuju terminal bus, setiap orang mengakrabinya, siapa saja mencoba mencuri perhatiannya, namun gadis itu tak menunjukkan minat apa-apa pada mereka.

Para sopir taksi dan bajay berlomba-lomba menerpanya menawarkan diri rela mengantar gadis itu kemana saja yang ia mau. Namun, lagi-lagi gadis itu tak meminati mereka, ia diam namun berekpresi melalui sungging senyum manisnya, binar sinar matanya, gerakan kaki dan tangannya yang menyerupai sorang penari, namun ia bukan penari, ia adalah perempuan surupa peri.

 

Tiba-tiba tepat di pinggir lampu merah simpang empat, tubuh gemulai gadis itu berhenti melangkah. Tubuhnya yang seksi dan berisi, lunglai terjatuh seperti seonggok mutiara putih tergeletak di aspal hitam kelam. Tubuh gadis itu semakin lama semakin bersinar, ia seperti mati, namun denyut dadanya masih kentara, ketika orang-orang memburunya ia bangun dan menolak segala macam pertolongan.

 

“Masih ingatkah kalian, beberapa waktu yang telah berlalu sebujur bangkai nenek-nenek terkapar disini, tepat ditempat ini?” gadis itu bicara dengan lantang dan tiba-tiba, hingga setiap orang kian bingung.

“Oh, kalian mulai pikun,” kata gadis itu lagi, membuat semua wajah keheranan penuh cengang.

“Ketahuilah oleh kalian bahwa diriku merupakan jelmaan dari nenek renta yang telah mati, kemudian bereingkarnasi manjadi sosok peri seperti ini. Ketahuilah oleh kalian setiap perempuan cantik akan menua, hingga tubuhnya ringkih dan kulitnya keriput. Dan ketahulah oleh kalian di alam sana, alam keabadian, setiap nenek-nenek akan berubah menjadi peri cantik seperti diriku. Dunia ini fana, maya, hanya fantasi belaka, penuh tipu daya, bila kalian tak hati-hati kalian akan tergelincir dan celaka. Karenanya dekatkanlah kalian pada Tuhan, sebab hanya Dia yang qodim abadi,” turur gadis peri itu, kata-katanya menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya.

 

Kemdian gadis peri itu berdiri di atas sebuah peti terbuat dari kayu berwarna hitam pekat seperti perempuan Gipsi pada zaman Yunani kuno. Kini ia terdiam, disaksikan jubelan pasang mata. Gadis itu begitu putih seperti malaikat. Namun selanjunya keanehan terjadi secara misterius, tiba-tiba jenyjang leher gadis peri itu berubah keriput, gemulai tubuhnya menjadi ringkih membungkuk, lencir lengan dan kaki putihnya berubah menjadi kering kerontang hanya tulang terbungkus kulit. Gadis peri itu menjadi nenek renta. Kemudian hilang, yang tersisa hanya isak tangis, derai air mata mereka yang menyaksikan, sebab mereka tersadar, bahwa kemudaannya akan berubah tua renta, kemudia hilang dari muka bumi, pergi mengembara entah di mana dan entah ke mana? Barangkali di alam kubur sana dibawah asuhan Tuhan. Sungguh dunia ini fana, dan akhirat tempat berumah abadi.

 

Selesai

Batuputri, 15 Juli 2015

  • view 67