MAHADEWI II__CERPEN AGUS HIPLUNUDIN

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Mei 2017
MAHADEWI II__CERPEN AGUS HIPLUNUDIN

MAHADEWI II

Oleh

Agus Hiplunudin

Bagian II

Awan tipis berarak di langit Hastinapura, cuaca begitu cerahnya, angin sepoi berembus menerpa dedaunan menimbulkan suara lirih gemerisik, tampak para warga Hastinapura tenang menjalani kesehariannya—yakni berladang, berdagang, dan para pedati sambil menembang, riang gembira menarik kereta kuda dan kereta sapinya membawa barang-barang komoditi tuk dijual di pusat kota, tiada tersirat dari raut wajah mereka gundah-gulana, pula tiada terucap dari celotehan mereka berupa keluh-kesah, semua rakyat hidup dalam kebahagiaan.

Begitu pula dengan Santanu, Raja Hastinapura, kegembiraannya meluap-luap setelah memboyong Dewabrata putranya terkasih dari Sungai Gangga ke istana. Namun, Raja Santanu kembali tercenung, dirinya teringat kembali pada permaesurinya, Dewi Gangga[1] yang tak lain merupakan jelmaan dari Batari Gangga, seorang Batari yang dipuja oleh para dewa, dewi, dan manusia, dan ia kini telah kembali ke khayangan. Raja Santanu pun menghela napas panjang, dan matanya kembali diarahkan pada Dewabrata yang sedang asyik berlatih memainkan pedang di pelataran istana.

 

*

Pada suatu sore yang jelita. Raja Santanu keluar istana, kali ini dirinya tak memacu kuda sendiri. Namun, menaiki sebuah kereta kencana yang ditarik dua ekor kuda putih yang dikendalikan seorang sais. Adapun yang di tuju; yakni Sungai Yamuna, sebuah sungai yang terkenal karena ikannya yang melimpah-ruah, tempat para nelayan tradisional Yamuna mengais rezeki.

Senja menjelang malam. Kereta kuda Raja Santanu sampai ketempat yang di tuju. Suasana kian hening, sunyi, dan sepi, sebab para penangkap ikan Yamuna telah kembali kegubugnya masing-masing.

Raja Santanu pun memerintahkan pada saisnya, tuk berkeliling sejenak di bibir Sungai Yamuna, kerata kencana pun perlahan bergerak menyisir area bibir sungai yang elok dan asri itu. Namun, indra penciuman Raja Santanu menangkap harum sumerbak, begitu pula dengan saisnya, ia pun mencium harum yang sama. Dicarilah sumber berasalnya harum sumerbak tersebut.

Bukan main terpukaunya Raja Santanu, tampak olehnya seorang gadis sedang mengambil air di tepi Yamuna—adapun kecantikan gadis itu setara dengan para dewi, dan harum yang sumerbak tersebut terpancar dari tubuh jelita sang gadis.

“Wahai gadis Yamuna, siapakah nama engkau?” tanya Raja Santanu, dan turun dari kereta kudanya.

“Hamba, Setyawati, Tuanku,” jawab gadis Yamuna itu, suaranya seelok tubuhnya, dan desah napasnya sehalus dan selembut kulitnya.

Ketika Raja Santanu melihat kecantikan gadis itu, kerongkongannya tiba-tiba terasa kerontang, dan ia menelan liurnya sendiri hingga berulangkali, dan tampaklah jakun Raja Santanu naik turun. Semenjak kepergian permaesurinya, Dewi Gangga, sesungguhnya Raja Santanu menjauhi kehidupan duniawi, termasuk menolak hasrat dan nafsu terhadap perempuan. Namun, setelah melihat kemolekan Setyawati hasratnya terhadap perempuan meluap-luap kembali, bagai sebuah tanggul yang bobol, Raja Santanu pun tak dapat menahan deras berahinya.

“Setyawati, maukah engkau menjadi permaesuriku?” tanya Raja Santanu dalam pukau.

Mendengar tanya Raja Santanu yang rupawan dan amat terkenal karena kegagahan, keperkasaan, serta keberaniannya, Setyawati merundukkan wajahnya, dalam remang senja, kentaralah dua bilah pipinya memerah, dan justru karena itu, kecantikannya malah bertambah. Dan katanya; “paduka Raja, ketahuliah, bahwa hamba hanya seorang anak kepala penagkap ikan di sini, hamba bersedia menjadi permaesurimu. Namun, paduka Raja, harus meminta hamba terlebih dahulu pada Ayahanda di gubug kediaman hamba.”

Karena kepalang jatuh cinta, Raja Santanu pun tak lagi peduli dengan status sosial dan ekonomi gedis itu, dalam benaknya, ia akan segera menemui ayahanda gadis itu, dan memboyong gadis itu ke istana—tuk dijadikan permaesurinya. Raja Santanu pun memerintahkan saisnya, tuk membuntuti gadis Yamuna yang berjalan melenggok menuju kediamannya.

Sesampainya di kediaman Setyawati, Raja Santanu pun langsung mengutarakan maksud dan tujuannya, katanya; “ayahanda Setyawati. Aku tulus mencintai putri Ayahanda, aku datang kemari, tak lain untuk meminang putri Ayahanda.” Dan kata ayahanda Setyawati; “yang mulya, Raja. Dengan senang hati, hamba menerima pinangan baginda Raja. Namun, satu sarat aku ajukan; baginda Raja harus bersumpah janji bila putri hamba melahirkan seorang anak laki-laki, jadikanlah ia putra mahkota pewaris tahta kerajaan. Bila baginda Raja sanggup, silakan bawa putri hamba.”

Sungguh persaratan yang diajukan ayahanda Setyawati diluar dugaan Raja Santanu. Kendati dirinya terlanjur jatuh cinta pada Setyawati. Namun, nuraninya tak lantas mati. Menjadikan anak Setyawati sebagai putra mahkota, itu artinya menyisihkan Dewabrata sebagai calon raja. Raja Santanu pun tak menyanggupi persaratan tersebut, kendati kepedihan menelisik masuk menurih hatinya.

 

*

Akhir-akhir ini, di mata Dewabrata; ayahandanya selalu nampak layu, air mukanya keruh tak lagi jernih, binar matanya redup tak lagi bersinar, dan pituturnya gemetar tak lagi lantang. Dan semua itu terjadi, sebab Raja Santanu memendam cintanya yang tak sampai pada Setyawati. Namun, Dewabrata tak mengetahuinya.

“Ayahanda, apa yang menyebabkan Ayahanda gundah-gulana disetiap hari, petang, dan malam?” tanya Dewabrata pada suatu malam yang sunyi.

Dengan gagap Raja Santanu menjawab tanya putranya, dan katanya; “Putraku. Ayahanda memikirkan kelangsungan pewaris tahta kerajaan Hastinapura, Ayahanda hanya memiliki seorang putra, yaitu dirimu. Benar kata salah seorang resi itu, memiliki hanya satu anak, sama artinya tidak memiliki anak. Dan, sebab itulah Ayahanda resah dan gelisah—memilikimu senilai memiliki puluhan anak, karena masa depan kerajaan dan masa depan segenap rakyat Hastinapura terpikul pada pundakmu seorang diri.”

Raja Santanu berusaha menutup-nutupi penyebab kegundahannya. Namun, Dewabrata mengerti dengan sendirinya, ia pun bertanya pada sais yang mengantar ayahandanya ketika mengunjungi Yamuna, dari sais itulah Dewabrata mengetahui cerita yang sebenarnya.

 

*

Tanpa sepengetahuan ayahandanya, siang itu, Dewabrata memecut kudanya seorang diri, menuju Yamuna dalam rangka meminang Setyawati teruntuk ayahandanya. Sesampainya ketempat yang di tuju, Dewabrata langsung menemui ayahanda Setyawati, ujarnya; “Maksud aku menemui Ayahanda, tak lain untuk membawa Setyawati ke istana, ia akan menjadi permasuri ayahandaku di sana.”

Jawab ayahanda Setyawati; “tuanku, Putra Mahkota. Hamba tetap pada pendirian hamba; silakan tuanku, membawa putri terkasihku, dengan sarat; bila putriku dikaruniai seorang putra, jadikanlah ia sebagai putra mahkota pewaris tahta.”

Kata Dewabrata; “Ayahanda, aku bersumpah, kendati aku putra mahkota, aku tak akan pernah menjadi raja. Dan janjiku; tahta kerajaan Hastinapura akan aku serahkan pada putra Setyawati kelak.”

Kata ayahanda Setyawati; “hamba percaya, dengan sumpah janji tuanku. Namun, ada keraguan dalam hati dan pikiran hamba, bila tuanku kelak menikah, dan anak keturunan tuanku menuntut hak atas tahta kerajaan Hastinapura, tentunya anak keturunan putriku, Setyawati tak akan mampu melawan, pemberontakan anak-anak keturunan tuanku yang pastinya gagah, berani, sakti dan cerdik pandai mewarisi sifat-sifat tuanku.”

Untuk meyakinkan hati ayahanda Setyawati, Dewabrata mulai menuturkan sumpah; bahwa dirinya tak akan menikah seumur hidupnya, dan ia akan mengabdikan dirinya demi kesucian. Dan setelah sumpah itu dilapalkan, para dewa dan dewi turun dari langit menaburkan bebungaan pada kepala Dewabrata, dan semenjak itu, Dewabrata dikanal dengan sebutan ‘Bisma’.Hari itu juga, Bisma membawa Setyawati ke Hastinapura tuk disandingkan dengan ayahandanya, Raja Santanu. Dan, kelak dari rahim Setyawati terlahir Wicitrawirya yang memiliki putra Destarara[2] dan Pandu[3].

Yogyakarta, 2016

 

[1] Dewi Gangga= Jelmaan dari Batari Gangga yang turun kebumi untuk mencabut kutukan Resi Wasistha pada delapan wasu yang mencuri Andini sapi betina kesayangan sang resi itu. Dewi Gangga kemudian menjadi permaesuri Raja Santanu ,Dewi Gangga membunuh tujuh orang anaknya dan hanya anak yang kedelapan yang tidak dibunuhnya, kedelapan anak tersebut tak lain adalah para wasu yang terkena kutukan sang resi.

[2] Destarata= Putra sulung Wicitrawirya adiknya Chitraganda Putra sulung Setyawati dan Raja Santanu. Destarata ia buta semenjak lahir, dan kelak  menjadi ayahanda dari seratus orang Kurawa dengan Duryudana sebagai putra sulung yang akan menabuh genderang perang besar Baratayuda.

[3] Pandu=Putra kedua Wicitrawirya dengan Ambalika. Pandu menjadi pewaris tahta Hastinapura setelah Raja Santanu meninggal, sebab Destarata buta padahal ia putra sulung. Pandulah yang menjadi ayahanda para Pandawa lima dan Yudistira atau Puntadewa sebagai putra sulung, yang selalu menolak perang Baratayuda . Namun, karena ambisi Duryudana pada akhirnya perang besar Baratayuda pun tetatp terjadi.

  • view 43