Maha Dewi I__Cerpen Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Mei 2017
Maha Dewi I__Cerpen Agus Hiplunudin

MAHA DEWI

Oleh: Agus Hiplunudin

Bagian I

Pagi buta, paduka Raja Santanu diiringi beberapa pengawal pribadinya memacu kuda, dari Hastinapura menuju Sungai Gangga, sungai yang elok dan cantik rupa, sungai tempat para resi melakukan olah tapabarata demi mensucikan diri dan mendekatkan ruhani pada Sang Dewata pencipta jagat semesta, mayapada.

Ketika matahari telah naik dua tombak ke langit timur, Raja Santanu dan para pengawalnya, sampailah ke tempat yang di tuju. Suasana tampak lengang, kabut tipis masih mengepul dari permukaan Gangga, dan hari itu tak terlihat seorang resi pun yang duduk bertapa di sekitar sungai suci itu. Raja Santanu memejamkan matanya, gemericik lembut suara gelontoran Sungai Gangga mengiang merdu dalam kendang telinganya, kenyamanan menelisik masuk kedalam ruhaninya. Raja Santanu mendapatkan kesejukkan hati yang tak terperikan, setelah sekian lama bergulat dengan persoalan-persoalan kenegaraan, dari mulai memecahkan masalah moral dan kesejahteraan rakyatnya, hingga masalah perang dan pemberontakkan yang merong-rong kekuasaannya, semua itu; kerap membuat dirinya limbung diterpa nestapa dan gundah-gulana tiada taranya. Namun, keheningan Sungai Gangga membuat dirinya terhanyut dalam kearifan, kebijaksanaan, dan ketenangan jiwa penuh kehakikian.

Setelah sekian lama memejamkan mata, perlahan kelopak mata Raja Santanu terbuka, dan raut wajahnya sumringah seakan seleksa kebahagiaan telah dianugrahkankan Dewata pada dirinya.

“Aku akan menyegarkan diri, membasuh sekujur tubuh dengan air suci Sungai Gangga,” kata Raja Santanu dan turun dari kuda putihnya.

Serentak para pengawal itu turun pula dari kuda pacunya, dan membukakan pakaian paduka Maha Raja. Dan kini Raja Santanu bertelanjang dada, memperlihatkan kejantanan tubuhnya di mana otot-ototnya berserat karena olah dan disiplin kanuragan.

Tampak sang raja mencelupkan ibujarinya kedalam jernihnya air Sungai Gangga, dengan penuh ketenangan dan perasaan, perlahan namun pasti, seluruh tubuh sang raja tercelup ke sungai itu. Untuk beberapa saat, Raja Santanu membenamkan seluruh tubuhnya kedalam air.

Setelah setengah tubuhnya kembali muncul ke permukaan air, tampak Raja Santanu menarik napas panjang, lalu membuang napasnya kembali secara perlahan, berbarengan dengan gerakan kedua tangannya dari samping ke atas dan ketika tepat di atas ubun-ubunnya, telapak tangannya menyatu, dengan seluruh jari-jemari mengarah ke langit, demikian cara Raja Santanu olah yoga, berusaha menyatukan dirinya dengan semesta alam mayapada, ciptaan Dewata.

Mulanya Raja Santanu tak bergeming dari yoganya. Namun, keharuman tiada tara semakin lama semakin nyata menerpa indra penciumannya. Ia pun mengakhiri ritualnya.

“Para pengawal, apakah kalian mencium wangi sumerbak yang muncul dari sekitar tempat ini?” tanya Raja Santanu dan kepalanya celingukan mencari-cari.

“Ia Padukuka Raja. Kami pun menciumnya,” jawab para pengawal serempak.

Raja Santanu pun mengakhiri manditasinya, para pengawal menyambut dan memakaikan kembali baju berteretes berlian itu pada paduka rajanya. “Ikuti aku,” titah sang raja, sambil meloncat ke atas punggung kudanya dengan kecepatan kilat, lalu menarik tali kendali, hingga kuda itu berjingkat dan meringkih, selanjunya lari dengan gesitnya, diikuti para pengawal kerajaan.

Perjalanan dari ujung barat Sungai Gangga, sampailah ke ujung timurnya. Dan Raja Santanu menghentikan laju kudanya seketika, membuat para pengawal kebingungan, hingga kuda pengawal yang berlari di belakang nyaris saja menubruk kuda yang berlari di depannya, karena lajunya dihentikan tanpa jeda, secara tiba-tiba. 

Bukan main terpesonanya sang raja, melihat seorang perempuan amat cantiknya sedang mandi di sana, rambutnya tergerai panjang hitam pekat, kulitnya putih bersinar, dan tubuhnya tinggi semampai meliuk bagai kelokan Sungai Gangga yang meruncing, sungguh kecantikannya melampaui kecantikan manusia biasa, dan Raja Santanu tak pernah melihat perempuan secantik itu sebelumnya—perempuan yang dimaksud yakni, perempuan yang sedang memanjakan kemolekan tubuhnya dengan gelontoran jernihnya air Gangga tersebut.

“Wahai putri jelita siapakah engkau?” tanya Raja Santanu dalam pukau.

“Panggilah aku, Dewi Gangga,” jawabnya sambil mengkerlingkan matanya pada pria terhormat yang berdiri mematung di belakanggnya. Sungguh, lirikan mata Dewi Gangga membuat jantung dan hati Raja Santanu runtuh seketika.

“Wahai, Dewi Gangga, bersediakah engkau menjadi permaesuriku?” kara Raja Santanu dengan nada suara berketar karena terkesima.

“Mau,” jawab Dewi Gangga, sebuah jawaban yang amat diharapkan dan menggembirakan hati. Tentunya.

“Namun, ada saratnya,” kata Dewi Gangga lagi.

“Apa saratnya wahai Dewi?” Raja Santanu memburu tak sabar.

“Sanggupkah engkau bersumpah janji padaku? Bilamana kita telah menikah; pantang bagi engkau mempertanyakan asal-usulku, pantang bagi engkau membantah perkataanku, pantang bagi engkau mempertanyakan perilakuku—baik perilaku yang terpuji maupun perilaku yang jahat, dan pantang bagi engkau menyakiti perasaanku. Itulah persaratannya, bila engkau sanggup, pinanglah aku, jadikanlah aku permaesurimu,” ujar Dewi Gangga dan sorot matanya yang indah terpancar pada pasang mata Raja Santanu yang terpukau.

Karena tergila-gila, dan hatinya terlanjur jatuh cinta amat dalamnya, Raja Santanu pun menyanggupi persaratan itu. Dan hari itu juga, Raja Santanu memboyong Dewi Gangga ke istana Hastinapura, langung menyelenggarakan pernikahan yang mewah dan megah, dihadiri oleh kepala negara dari separuh dunia—baik kepala negara sahabat, maupun kepala negara negri taklukan.

 

***

Sungguh Raja Santanu menunaikan segala janjinya, ia tak pernah melukai hati permaesurinya, ia tak pernah mempertanyakan asal-usul keluarganya, ia tak pernah membantah segala ucapan dan tindakannya—baik yang terpuji maupun yang jahat. Namun, Raja Santanu yang lembut hatinya, merasa heran dan marah, sebab istrinya, Dewi Gangga selalu membunuh putra-putranya yang terlahir dari rahimnya sendiri dengan cara mencekik dan menghanyutkan mereka ke Sungai Gangga. Betapa sadisnya tindakan itu, dan diluar batas manusiawi.

Pada akhirnya, rasa heran dan amarah Raja Santanu memuncak juga, ketika anak ke-delapannya terlahir, Raja Santanu tak lagi mampu menahan diri.

“Wahai, permaesuriku, Dewi Gangga. Siapakah engkau sebenarnya? Dan, kenapa engkau membunuh anak-anakmu sendiri? Padahal mereka tak lain adalah darah dagingmu sendiri.”

“Wahai suamaiku, Paduka Raja Yang Mulya. Engkau telah melanggar sumpah. Dan itu tandanya kebersamaan kita berakhir sampai di sini. Namun, baiklah anak kedelapan kita ini, tak akan kubunuh, dan pada waktunya nanti, anak ini akan aku kembalikan padamu.”

Setelah berkata demikian, sosok Dewi Gangga dan anak kedelapannya menghilang dari hadapan Raja Santanu. Raja Santanu pun terperangah, ia menggosok-gosok matanya sendiri dengan punggung telunjuknya, sebab serasa tak percaya dengan segala yang disaksikannya barusan. Namun, semuanya nyata adanya.

 

*

            Semenjak permaesurinya dan putra kedelapannya menghilang secara ajaib, Raja Santanu memerintah kerajaannya dengan semangat asketisme—ia menghindari segala macam kemegahan duniawi, dan atas kebijaksanaannya itu, seluruh rakyat Hastinapura hidup dalam keadaan makmur  dan sejahtera cukup sandang, pangan, dan papan, hingga tak ada lagi cerita; rakyat Hastinapura mati kelaparan, atau rakyat Hastinapura maling lantaran tak makan dan tak cukup pakaian.

            Untuk mengenang dan mengurangi rasa rindunya pada kedelapan putranya dan permaesurinya, Raja Santanu kerap mengunjungi Sungai Gangga, baik bersama para pengawal maupun sendiri. Pula senja itu. Dan kali ini, Raja Santanu mengunjungi Sungai Gangga seorang diri.

            Saat Raja Santanu melajukan kudanya secara perlahan, menyisir bibir Sungai Gangga yang elok eksotik. Tampak olehnya seorang anak laki-laki bertubuh penuh limpahan cahaya sedang bermain panah, ia berulang-ulang kali melepaskan anak panahnya ke seberang sungai, padahal di sebrang, tak ada obyek yang dibidiknya. Raja Santanu menghentikan langkah kudanya, dan matanya terpancang takjub pada anak kecil yang sedang memegang gendewa panah dengan gagahnya.

            Raja Santanu pun turun dari punggung kudanya. Belum pula ketakjubannya sirna, tiba-tiba Dewi Gangga menjelma tepat di hadapannya, dan ia berkata bahwa anak lelaki yang sedang memainkan panah itu, tak lain merupakan anak Raja Santanu dengan dirinya—yakni anak kedelapan yang dijanjingan Dewi Gangga pada suatu hari nanti akan dikembalikan lagi ke pangkuan Raja Santanu. “Ambilah anak itu, ia putramu, kuberi nama; Dewabrata[1],” kata Dewi Gangga, setelah itu ia kembali menghilang.

Banten, 25-05-17

 

[1] Dewabrata=Putra kedelapan Santanu (Raja Hastinapura) dan Dewi Gangga. Semenjak kecil dirinya telah menguasai ilmu seni perang dan memanah, ia telah khatam mempelajari Kitab Weda dan Wedanta belajar dari seorang maha guru bernama Sukra. Sebenarnya Dewabrata merupakan putra mahkota pewaris tahta kerajaan Hastinapura. Namun, ia bersumpah tak akan menjadi raja dan  Dewabrata memilih cara hidup selibat yakni semur hidup tak memiliki istri. Dewabrata dikenal dengan nama Bisma, yakni seorang panglima perang gagah berani dan ditakuti, Bisma menjadi panglima perang pihak Kurawa melawan Pandawa dalam perang besar Baratayuda di Kulusetra, dan mengalami kemenangan pada hari pertama perang Baratayuda tersebut.

  • view 48