Mitologi Yunani__Oleh Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Buku
dipublikasikan 25 Mei 2017
Mitologi Yunani__Oleh Agus Hiplunudin

Mitologi Yunani

 Oleh

Agus Hiplunudi

Mitologi sejatinya adalah untuk menjelaskan sebuah fenomena baik alam maupun sosial yang kemudian dinarasikan dalam bentuk cerita rakyat atau legenda-legenda dituturkan dari mulut ke mulut dan ditrasmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mitologi Yunani memiliki keunikan tersendiri, sebab sedikit besarnya ia mempengaruhi filsafat dan mempengaruhi cara berpikir orang-orang Yunani pada masanya, bahkan mitologi Yunani telah banyak dikaji dan ditulis baik oleh para sarjana filsafat maupun sejarah.

Selama ribuan tahun, banyak sekali penjelasan mitologis bagi pertanyaan-pertanyaan filsafat yang tersebar ke seluruh dunia. Para filosof Yunani berusaha untuk membuktikan bahwa penjelasan-penjelasan ini tidak boleh dipercaya (Gaarder, 2013). Mitologi dalam konteks Yunani—berkisar cerita tentang para dewa-dewi, yang nantinya akan dikritik keras oleh para filosof—salah satunya adalah Plato, si genius.

Jika ada guntur dan halilintar pasti ada hujan, yang sangat penting bagi para petani Viking. Maka, Thor dipuja sebagai Dewa Kesuburan. Penjelasan mitologi untuk hujan karenanya adalah bahwa Thor sedang mengayunkan palunya. Dan jika hujan turun, jagung berkecambah dan tumbuh subur di ladang.

Bagaimana tanaman-tanaman di ladang dapat tumbuh dan menghasilkan panen tidaklah difahami. Tapi jelas itu dikaitkan dengan hujan (dan memang berkaitan dengan hujan). Dan karena setiap orang percaya bahwa hujan ada hubungannya dengan Thor, dan menjadi salah satu dewa paling penting di wilayah Skandinavia (Gaarder, 2013).

Pandangan secara umum, di mana di dunia ini terdapat dua kekuatan yang saling mengalahkan, yakni; kekuatan jahat dan kekuatan baik, dalam mitologi Yunani kekuatan jahat diwakili oleh para raksasa sedangkan kekuatan baik diwakili oleh para dewa.

Sebagai misal; salah satu cara yang dilakukan para raksasa untuk menghancurkan midgard (dunia) adalah dengan menculik Preyja, Dewi Kesuburan. Jika mereka dapat melakukan ini, tidak ada yang dapat tumbuh di ladang dan para wanita tidak dapat lagi memiliki anak. Maka penting sekali untuk mencegah usaha para raksasa ini.

Thor adalah tokoh utama dalam pertempuran melawan para raksasa. Palunya bukan hanya digunakan untuk membuat hujan, melainkan juga merupakan senjata yang menentukan dalam pertempuran melawan kekuatan pengacau yang berbahaya. Palu itu memberikan kekuatan pada Thor hampir tanpa batas. Misalnya, ia dapat melemparkannya kearah para raksasa itu, dan membunuh mereka. Dan dia tidak perlu khawatir palu itu hilang, sebab ia selalu kembali kepadanya, persis seperti bumerang (Gaarder, 2013).

Hal inilah yang kemudian menjadi suatu penjelasan di mana kehidupan di dunia ini berjalan yang mana bumi tetap subur lantaran Thor berikut palunya serta karena keberadaan Preyja—Dewi Kesuburan itu. Ini pula yang kemudian ditentang oleh Plato. Pula dengan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan yang dinaratifkan dalam mitologi suatu pertarungan antara Thor dan para raksasa—ini pula yang menurut Plato tidak masuk akal. Bahkan Plato mengungkapkan terkadang para dewa diceritakan sama liciknya dengan para manusia, dan ini tidak masuk akal, seharusnya cerita para dewa dipenuhi keteladanan. Namun, nyatanya para dewa pun licik dan curang sebagaimana para manusia atau bahkan para raksasa itu. Sebenarnya, begitu banyak mitologi dari Yunani itu, namun di sini hanya disampaikan sebagai gambaran saja.

Dalam mitologi posisi para dewa sering berubah-ubah sesuai dengan selera penguasa. Misal; Babilonia mengalami perkembangan yang begitu syarat dengan peperangan. Pada mulanya ras penguasa bukanlah Semit tetapi “Sumeria” yang asal-usulnya tidak diketahui. Mereka menciptakan abjad paku (cuneiform) yang kemudian diambil alih oleh bangsa Semit yang menaklukan mereka. Ada suatu periode di mana terdapat sejumlah kota yang masing-masing berdiri sendiri dan saling memerangi namun akhirnya Kota Babilonialah yang unggul dan membangun sebuah imperium. Dewa-dewa sesembahan lain diturunkan derajatnya, sedangkan Marduk, dewa Kota Bibilon menempati posisi yang nantinya dipegang Zeus dalam susunan dewa-dewi Yunani (Russell, 2002). Di mana Zeus adalah dewa tertinggi dalam mitologi Yunani itu.

Salah satu filsuf bernama Xenophenes ia hidup sekitar akhir abad ke 6 SM. Xenophenes lahir di pesisir Yunani (Kolophon, Ionia) Asia Kecil ia termasuk salah satu filsuf Pra Socrates, sebelum Socrates. Menurutnya manusia atau masyarakat, membentuk pengetahuannya berdasarkan model-model tertentu sesuai dengan sosio-kultural mereka, tidak jarang pengetahuan mereka berasal dari persepsi mereka sendiri, sebagai misal, persepsi tentang para Dewa; kata orang Ethopia dewa-dewa berhidung pesek dan berkulit hitam, kata orang Tharacia dewa-dewa bermata biru berambut merah, andai saja hewan-hewan seperti kerbau dan kuda bisa melukis dan menulis maka mereka akan melukis dan menulis para dewa seperti wujud mereka (Magee, 2001). Demikianlah cara pandang salah satu filsuf itu. Pula dengan Plato yang mengkritik pada dewa dalam mitologi Yunani tersebut.

  • view 68