Novel "Dendan yang Indah"---Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Mei 2017
Novel

Novel "Dendam yang Indah"

Bagian

1

 

Pada sebuah kompleks perkuburan tanpa sebuah pintu gerbang, yang dipagari oleh rimbunnya pohon-pohon wera yang berbunga merah, diselingi oleh pohon-pohon kelor racun yang meranggas berbunga putih di mana di antara daun-daunnya yang hijau diselingi oleh daun-daun yang menguning dan jatuh melayang ringan apabila disentuh sepoi angin. Di antara kerumunan kuburan yang menyerupai bukit mini itu, terdapatlah sebuah kuburan baru, itu terlihat dari gundukan tanahnya yang masih gembur dan merah. Kuburan yang dimaksud adalah kuburan seorang janda cantik rupa bernama Layla, ia meninggal dunia di delapan hari yang lalu, adapun penyebab kematian Layla menurut berita yang beredar, Layla meninggal dunia lantaran penyakit kelamin, sebab setelah menjadi Janda, Layla menjadi pelacur.

Kemarin, pada hari ketujuh, makam Layla terbelah, lalat-lalat hijau berterbangan dan menari-nari di atas makam itu. Orang-orang berceloteh bahwa arwah sang pelacur tak diterima oleh langit dan bumi karenanya arwahnya gentayangan sebab kebingungan mencari tempat berpulang, ada juga yang bilang Layla telah menjadi hantu pocong membuat para anak kecil tak lagi berani keluar jika malam menjelang membuat mesjid yang biasa dipenuhi oleh kanak-kanak belajar mengaji kitab suci Alquran sehabis magrib menjadi kian lengang. Para dukun membakar dupa agar terbebas dari gangguan ruh jahat sang pelacur. Pula dengan para perawan, mereka menjemur kutang dan celana dalam mereka di tali-tali jemuran samping rumah mereka pada malam Jumat—tujuannya agar mereka terbebas dari aura hitam sang pelacur, karena aura hitam pelacur yang telah meninggal diyakini dapat menyebabkan kejomloan seumur hidup bagi anak perawan. Lain halnya dengan para santri yang telah menimba ilmu agama dari seorang kiai, mereka percaya bahwa seorang pelacur akan mendapatkan siksaan yang mahakejam di alam baka sana dari Tuhan; di mana wajah pelacur akan menghitam seperti wajah yang gosong terbakar, dari vaginanya akan mengeluarkan nanah dan bau busuk yang tak terkirakan memualkan perut siapa saja yang mengendusnya, serta vaginanya itu akan ditusuk oleh besi panas yang membara, berasal dari api neraka.

 

Pada hari kedelapan dari kematian Layla itu, tampak seorang lelaki berperawakan sedang dan tegap, ia memiliki pasang mata yang tajam layaknya pasang mata seekor burung elang, lelaki muda itu berjalan tergesa dengan cangkul tersandang, menghampiri makam Layla yang retak, terbelah. Sedangkan di belakang lelaki muda tersebut mengekor seorang tua dengan cangkul tersandang juga, berpakaian pangsi hitam dengan kepala diikat sebuah lomar berwarna biru.

“Aneh ya! kuburuan Neng Layla bolong begitu, Den Suma,” kata lelaki tua itu dengan muka berisi keheranan bercampur iba belas kasihan, di tepi kuburan Layla.

Untuk sejenak Suma berdiri mematung memperhatikan makam retak itu, tanpa kata-kata lagi Suma mengulang-alikan cangkulnya, menyulam makam Layla yang terbelah, menganga, dan merongga. Pula dengan lelaki tua itu yang tak lain adalah Mang Mukri salah satu tukang gali kubur di komplek permakaman tersebut, Mang Mukri pun mengikuti jejak langkah Suma.

Sekonyong-konyog seekor anjing hitam mendengus-dengus, dan menghampiri makam Layla, anjing tersebut seolah tak melihat Suma dan Mang Mukri yang sedang menambal kuburan Layla yang bolong. Kemudian sang anjing mematung, pasang matanya terpancang tertuju pada makam, membuat Suma dan Mang Mukri menghentikan laju garapannya. Anjing itu melolong—melengking panjang dan merindingkan bulu tengkuk, setelah itu, ia lari pontang-panting seperti ketakutan karena dikejar sosok yang menyeramkan, termat sangat.

“Den Suma, jangan-jangan anjing tadi melihat dan dikejar hantunya, Neng Layla,” Mang Mukri bicara terbata dari sekujur tubuhnya menderas keringat, keringat karena mencangkul bercampurbaur dengan keringat ketakutan.

“Baca surat Annas, Mang!” dengan tenang Suma memberi anjuran.

Tampak Suma melanjutakan garapannya dan Mang Mukri mengikutinya menambal kuburan bolong Layla, kuburan itu tampak telah normal, kembali sedia kala.

Setelah usai menambal makam bolong itu, Suma dan Mang Mukri menuju sebuah saung yang terdapat di samping kiri jalan masuk dalam komleks perkuburan itu, mereka membuka rentengan rantang yang bersisi nasi berikut lauk-pauknya, dan mereka makan bersama sambil bercelotel ngobrol ngalor-ngidul.

 Menurut Mang Mukri, anjing hitam yang menghampiri makam Laya tadi telah melihat hantu Layla, namun hantu Layla merasa terusik oleh anjing yang membuntutinya itu, karenanya hantu Layla balik memburu anjing tersebut, hingga membuat anjing itu berlari pontang-panting lunggang-langgang, ketakutan. Namun, menurut Suma hantu itu tak ada, yang ada adalah Jin Korin yang senantiasa mengikuti manusia kemanapun ia pergi selama manusia itu hidup di dunia, ketika manusia yang diikutinya mati, tetapi Jin Korin tetap hidup—sebab bangsa jin dipercaya berumur panjang, ia tak akan mati sebelum semesta ini kiamat. Dan, untuk melampiaskan kerinduannya pada orang yang diikutinya itu, Si Korin seringkali menampakkan diri dalam bentuk orang yang telah diikutinya tersebut.

“Barangkali, anjing hitam tadi melihat dan dikejar oleh Jin Korin yang mengikuti Layla selama Layla hidup di dunia, Mang,” kata Suma sambil mengambil sekepal nasi yang masih tersisa di permukaan piring beling putih di hadapannya, dan memasukkan sekepal nasi itu kedalam mulutnya yang menganga.

Terlepas dari pembicaraan Suma dan Mang Mukri, yang jelas memang demikian adanya anjing hitam itu bereaksi secara aneh—yakni menghampiri makam Layla secara misterius, melolong secara misterius, dan lari pontang-panting secara misterius juga, entah itu karena hatu Layla ataupun karena Jin Korin.

Matahari terus melaju, sore telah terjaring senja, dan senja sejenak lagi akan terselimuti malam. Dengan diantar Suma yang mengendarai mobil sedan hitam—Mang Mukri pulang ke rumahnya, tentunya dengan muka sumringah karena telah dikasih lembaran-lembaran rupiah oleh Suma. Dan Suma setelah mengantarkan Mang Mukri, ia pun bergegas pulang ke rumahnya.

 

Malam itu, bukan main senyapnya, mungkin warga Batuputri masih dihinggapi rasa takut, takut dengan arwah Layla yang konon gentanyangan, sehingga para warga merasa enggan untuk keluar rumah, kendati hanya sekedar membanting kartu remi atau kartu domino yang memang biasa mereka lakukan, kala meronda dan begadang malam.

Di dalam kamarnya, Suma merasa kesulitan terpejam, rasa kantuk itu tak pula menyentuhnya. Dalam suatu hempasan, Layla kembali memenuhi relung ingatannya, ingatan yang sempat kering-kerontang karena perempuan itu.

Suma merasa, dirinya baru kemarin bertemu dengan Layla, namun nyatanya Layla kini telah tiada, berpulang ke alam keabadian. Jika dipikir lebih jauh lagi, betapa singkatnya hidup ini, namun kehidupan yang singkat ini menjadi sebuah pertaruhan menggetirkan dan menentukan, indah sekaligus mengerikan. Betapa tidak! Manusia terlahir ke dunia ini keluar dari kemaluan ibu, kemudian merangkak, dewasa, tua, dan mati namun ada juga yang mati muda. Dan setelah kematiannya manusia kan di hadapkan pada pengadilan Tuhan—orang tersebut kan difonis masuk neraka atau masuk surga. Konon; orang berdosa kan masuk neraka di mana wajahnya bermuram durja berisi kesedihan dan penyesalan, ia kan mendapat siksaan mahakejam dipanggang dalam panasnya api neraka, diberi makanan berupa logam panas dan dari aneka duri. Sedangkan mereka yang baik-baik, ia akan masuk surga, mukanya kian berseri-seri, tidur di atas dipan emas beralaskan kasur empuk, dan ditemani wanita-wanita belia cantik rupa yang selalu perawan dan boleh disetubuhi semaunya kapan saja tiada larangan tiada dosa, serta diberi makanan yang lezat-lezat dan minum-minuman yang segar yang selalu ada tanpa harus diminta. Suma menghela napas panjang. Dalam satu titik nadir Suma melihat kedalam dirinya—yang sejatinya masih hidup berkalang dosa.

Pikiran Suma kembali terhempas pada Layla, yang selalu cantik dalam pandangan matanya. Layla yang dahulu amat dicintainya. Pula Layla yang teramat mencintai dirinya. Namun, cinta itu berujung kepedihan dan kepiluan, yang tak terperikan.

  • view 126

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang keren sekali menangkap rasa mencekam terkait sang perempuan pelacur dan dosa-dosanya saat masih hidup.

    Sang kreator juga lihai memilih kata sehingga fiksi ini sanggup menyampaikan sensasi horor dan mistis yang ada di dalamnya. Belum lagi akhir cerita pendek yang menimbulkan rasa menggantung membuat ada rasa penasaran tersendiri yang tersisa. Temanya pub menarik dan cukup menantang. Keren!