Adalah Kenang--Cerpen Monolog Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Mei 2017
Adalah Kenang--Cerpen Monolog Agus Hiplunudin

ADALAH KENANG

Oleh: Agus Hiplunudin

 

Dinda, bila engkau tahu akan hakikat menimbang rasa. Tentu, engkau dapat menjawab pertanyaan dariku; apakah yang paling menyakitkan di dunia ini? Pastinya engkau kan menjawab; adalah kenang. Hanya perlu satu jam aku mengenalmu. Namun, untuk menepis bayangmu dalam kenang, perlu seumur hidupku—di mana ruhku tak lagi bersama jasad—ketika kumati baru hilang kenangmu dariku. Itu pun barangkali.

Memang pedih cinta yang tak berbalas cinta. Namun, lebih pedih lagi, melepas cinta yang sempat tergenggam, deritanya begitu nyata, begitu satire, lukanya hingga merongga sampai ujung kerongkongan asa.

Dinda, engkau bilang kan meninggalkanku tuk selama-lamanya. Tentu saja kubantah, oh tidak. Waktu itu engkau hanya merundukan kepala, saat kutepis segala ocehenmu tentang perpisahanmu denganku.

Dinda, sungguh aku tak mengerti, kenapa engkau akhir-akhir ini, selalu dan selalu, mengatakan; bahwa pada akhirnya kita pasti kan berpisah. Kumohon padamu, sekali saja, kau bisikan ke telinga kananku; bahwa kita akan menjalani hidup bersama, merajut cinta dan masa depan, menabur kasih dan membesarkan anak-anak buah dari hasil pernikahan kita, dan kita akan baik-baik saja.

Dinda, bila engkau mengerti, bahwa cinta ibarat pasang mata yang menempel pada hati. Bila cinta itu tak ada, berarti hati tak memiliki mata. Bila hati tak memiliki mata, maka ia tak dapat melihat keindahan. Dan bila ia tak dapat melihat keindahan, berarti ia hidup dalam keadaan menderia, tak terperikan.

Begitu pula dengan engkau bagiku—Dinda, engkau tak lain adalah cintaku, hidup tanpamu, berarti hidup tanpa cinta, dan itu, merupakan penderitaan yang tak terbayangkan olehku. Kumohon Dinda, jangan tinggalkan aku, bila perlu walau sedetik.

Selekas aku bicara demikian, tanpa perasaan engkau bilang padaku—Dinda; bahwa segala yang menyatu pada akhirnya akan berpisah pula, sebagaimana ruh yang melekat pada raga, dan pada akhirnya ruh akan meninggalkan raga—yang kita sebut mati, dan kematian merupakan hakikat paling nyata, bahwa yang bernyawa bukan segalanya, pada akhirnya segala makhluk harus pasrah pada suratan takdirnya.

Dinda, aku mengerti isi pembicaraanmu itu. Dengan lembut, sejatinya, engkau menyampaikan pesan padaku, bahwa pada akhirnya kita akan berpisah jua. Kumohon Dinda, jangan kau ulangi kata-kata itu, dan rasa perih mulai menelisik kedalam sanubariku.

*

Dinda, senja hari yang lalu, ketika kita sama-sama bertamasya, di taman Sakura, kebetulan musim semi sedang menerpa, di mana bebungaan merekah kelopaknya, menyerupai mahkota para peri penghuni langit. Gungung Puji menjulang,  di mana ujungnya diliputi salju putih tiada cela dan menyentuh awan berarak tipis. Matahari jingga mengintip di sana, seakan malu melihat kita berdua.

Dinda—engkau, berbisik padaku; bahwa hal yang paling menakuti dirimu adalah mimpi, aku bertanya; kenapa engkau takut akan mimpi? Engkau mengkerlingkan pasang mata padaku, kerlingan itu begitu indah, kendati hanya sekilas. Dan katamu; hal yang membuat diriku takut, ketika aku bermimpi mati, padahal aku masih bernapas. Aku mimpi membunuhmu padahal lalat seekor aku enggan membunuhnya. Aku mimpi hidup seribu tahun bersamamu, padahal kematian di depan mataku. Sungguh aku takut. Demikian katamu.

Aku merenung, memaknai ketakutanmu itu, ketakutan akan mimpi, alangkah perihnya hatiku, sebab aku selalu memimpikan hidup selama-lamanya bersamamu, sungguh sejatinya, takdir dan kematian bisa memisahkan aku denganmu kapan saja.

Ketika kutolehkan wajahku padamu, dan kebetulan engkau sedang memandangiku, kita saling pandang-pandangan, dan aku menangkap sesuatu yang jernih pada pasang matamu, Dinda—matamu berkaca-kaca, sungguh membuat cinta kasihku semakin bertambah padamu.

*

Dinda—engkau, datang bertandang, dengan surat undangan pernikahan di tangan, engkau bicara padaku, bahwa dirimu tak kuasa menolak keinginan kedua orangtuamu, yang memperjodohkanmu dengan pria pilihan mereka—yakni, pria yang kaya raya, sederajat dengan dirimu.

Dinda, bukan aku hendak menghasutmu, betapa cinta perlu perjuangan, sebab cinta adalah kebenaran, dan sesiapa yang ingin memiliki kebenaran, maka orang tersebut harus melakukan pengorbanan. Baiklah, Dinda, bila engkau menikah dengannya, maka demi kebahagiaanmu aku rela melepasmu, dan itu sebentuk pengorbananku terhadap dirimu. Namun, Dinda, sungguh aku tak rela bila engkau menderita manakala hidup bersamanya. Sekarang. Kutanya, apakah engkau akan hidup bahagia manakala hidup bersama pria pilihan mereka?

Mendengar kata-kataku itu, engkau tersedan. Dan, aku bukanlah pengecut, yang takut sebelum bertindak, yang menyerah sebelum berperang, dan yang menyalahkan orang lain tanpa dapat memperbaikinya pada orang tersebut.

Dinda, ayahmu marah padaku, saat kubilang padanya; bahwa aku mencintai dirimu, begitu pula dengan dirimu, pula mencintai diriku. Dinda, gigi ayahmu bergemeletuk, saat kukatakan, cinta bukanlah bisnis, cinta tak mengenal istilah untung dan rugi, dan cinta sejatinya adalah ketulusan, kehakikian, dan kesejatian. Namun, ayahmu melumer saat kuberkata; orangtua yang sejati, yakni orangtua yang bahagia manakala ia menyaksikan anaknya hidup penuh cinta, dan orangtua akan menjadi hina bila dirinya menjerumuskan anak-anaknya jauh dari kata cinta.

Saat itu pula ayahmu melunak, dan ia mersetui cintaku terhadapmu, pula merestua cintamu terhadapku, pada akhirnya ayahmu bicara padaku; cinta sejatinya tanpa syarat, cinta bukan persoalan logika semata. Namun, cinta tak lain, merupakan pembendaharaan hati, sebab hati tanpa cinta berarti hati yang mati, hati tanpa cinta berarti hati tanpa nurani, dan hidup tanpa nurani, berarti kesesatan, bila hidup dalam kesesatan berarti kecelakaan, bila demikian ia tak akan menemukan jalan berpulang pada Tuhan, sebab Tuhan tak akan memberikan petunjuk pada orang yang telah mati rasa cinta, di dalam hatinya.

*

Dinda. Sungguh pedih melepas cinta yang telah berada dalam genggaman. Sungguh pilu mengenang cinta yang tak lagi berumah di hati. Sekarang, relakanlah aku hidup bersama gadis lain, sebagaimana sebatang pohon yang merelakan daun-daunnya yang jatuh berguguran ke bumi. Dinda, kuharap engkau tak mengenangku, sebab mengenang cinta yang telah pergi sungguh menyakitkan.

 

Selesai

Yogyakarta, 31 Agustus 2015

  • view 57