Pendulum Rindu__Puisi Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Puisi
dipublikasikan 23 Mei 2017
Pendulum Rindu__Puisi Agus Hiplunudin

(1)

Pendulum Rindu

/

Paling tidak

Pada suatu hari kelak

Engkau tak lagi mampu mengelak

Bahwa aku pernah hadir dalam hatimu yang bersinar bagai perak

//

Suatu hari nanti

Engkau akan mencari

Sesuatu yang telah hilang dari sanubari

Dan yang hilang itu adalah aku yang tersimpul dalam cinta sejati

///

Bila     

Suatu masa

Engkau merasa

Dalam renungan cinta

Bahwa tak ada yang lain yang bertahta

Dan yang bertahta itu adalah aku yang tinggal kenang dalam rasa

Perlahan engkau pasti'akan mengenang

Saat cinta kita sandang

Semua hanya kenang

Telah hilang

Hilang

Yogyakarta 9 September 2014

 

(2)

Berisi Rindu

Sial dan keberuntungan setipis kulit ari

Cinta dan kebencian setipis kulit bawang

Rindu dan dendam setipis iris mata

 

Sesali, apa yang perlu kau sesali

Tangisi, apa yang perlu kau tangisi

Sebab bahagia dan derita seakrab gigi dengan lidah

 

Sial berisi keberuntungan, keberuntungan berisi sial

Cinta berisi kebencian, kebencian berisi cinta

Rindu berisi dendam, dendam berisi rindu

Semuanya berpasangan seperti dua bibir yang menjadikan mulut

Yogyakarta, 19 Oktober 2015

 

(3)

Seni

Seni itu ekspresi jiwa

Dalam seni bersemayam estetika

Dalam seni berumah etika

Wajah seni, wajah yang berisi keindahan

Perilaku seni, perilaku yang berisi sopan-santun

 

Bila hidup diekspresikan dengan cara seni

Maka antara kita tiada saling benci tiada saling kelahi

Jika seni menguasai jiwa

Maka yang hadir hanya cinta

 

Melalui seni, engkau dapat merenungi kekuasaan Tuhan

Melalui seni, engkau dapat merenungi makna kehidupan

Melalui seni, pergolakan batin engkau dapat terdamaikan

Yogyakarta, 19 Oktober 2015

 

(4)

Maha Luas

Anak burung yang masih bulu jarum

Berdecit-decit dengan paruh menganga dalam sarang

Sang induk datang bertandang

Penuh kasih menyuapi anaknya dengan belalang

 

Anak burung kini telah berbulu centong

Merangkak dewasa

Lalu terbang entah kemana

Sang induk hanya tersenyum

Melepas anak-anaknya penuh cinta

Tiada tersirat di jiwanya suatu harap balas jasa

Demikian kasih maha luas dalam jiwa setiap bunda

Yogyakarta, 19 Oktober 2015

 

(5)

Permintaan

Hujan turunlah

Kasihan tanahku gersang kehausan

Pun hujan datang

 

Hujan berhentilah

Kasihan tanahku habis terendam

Pun hujan berhenti

 

Dingan datanglah

Kasihan tubuhku kegerahan

Pun dingin datang

 

Dingin berhentilah

Kasihan tubuhku menggigil kekecutan

Pun dingin berhenti

 

Ah, betapa manusia serba salah

Dikasih ini minta itu

Dikasih itu minta ini

Yogyakarta, 19 Oktober 2015

 

(6)

Laron

Senja menjelang

Jutaan laron ke luar dari liang

Membenjiri angkasa

Mengenyangkan perut burung pemangsa

Ditangkapi anak-anak tuk makanan unggas atau umpan ikan

 

Laron yang terbang

Segera melepas dua sayapnya

Segara saling bertemu dengan pasangannya

Dengan cara berjayak pantat mereka berjalan bersama

Mencari tempat yang lebab

Tuk segera membuat koloni baru

Yogyakarta, 20 Oktober 2015

 

(7)

Tanah Asalku

Di tanah asalku

Tempat tumpah darahku

Tempat ragaku ditanam

Lalu berkecambah

Melahirkan tanaman muda merekah

 

Oh, betapa malang melintangnya aku

Di tanah asalku sendiri

Tubuhku tiada mengakar

Kakiku tiada berpijak

Aku tercerabut dari tanah asalku

 

Di tanah asalku

Kecambah yang kutanam tak lagi hidup

Dijejali biji-bijian yang terbuat dari julangan tembok

Dirindangi daun-daun cerobong asap yang mengudara mengotori langit

Aku keluhkan betapa aku dan kecambahku

Lunglai menjadi tanaman layu

Nyaris mati namun enggan terbunuh

Nyaris punah namun enggan terkena genocide

 

Di tanah asalku

Tak lagi ada diriku

Yogyakarta, 20 Oktober 2015

  • view 48