Syahadat Cinta--Puisi Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Puisi
dipublikasikan 23 Mei 2017
Syahadat Cinta--Puisi Agus Hiplunudin

PUISI SYAHADAT CINTA

Oleh: Agus Hiplunudin

 

(1)

Syahadat Cinta

Tiada keindahan selain cinta. Dan,

Kerinduan itu adalah utusan cinta

Betapa cinta hingga pahitnya empedu berubah semanis madu

Betapa cinta hingga segala kedukaan selalu berbuah gembira

Pun bahkan;

Betapa cinta sehingga gelagak panas api neraka. Pun,

segera berubah menjadi air bertabur bunga mawar menyegarkan

Yogyakarta, 17 Oktober 2015

 

(2)

Cinta

Tiada ragu aku berkata;

Bahwa cinta itu bersemayam dalam kepala,

bersarang di hati, dan

bernaung dalam lindungan jiwa

 

Jika engkau merasa sengsara karena cinta

Tiada ragu aku berkata;

Bersihkanlah isi kepalamu,

enyahkan kotoran dalam hatimu, dan

ruatlah jiwamu dengan mantra kasih-sayang

Bila kau dapat melakukan semua itu. Maka,

cinta menjadi milikmu

Seutuhnya

Sepenuhnya

Tiada seorang pun yang dapat merebutnya darimu

Yogyakarta, 17 Oktober 2015

 

 

(3)

Setubuh

Senja menjelang

Merah dan kuning bersetubuh melahirkan jingga

 

Malam menjelang

Gelap dan gemintang bersetubuh melahirkan galaksi

 

Rindu menjelang

Cinta dan iman bersetubuh melahirkan kesetiaan

 

(4)

Maha Rindu

Dalam gelapku

Dalam rindangnya daun jiwaku

Dalam lelapku

Dalam riuh rendah alam pikiranku

Kau memanggilku

Kau menemuiku

Kau menyentuhku

Dalam bentuk seberkas cahaya cinta

Yang kusebut maha rindu

Yogyakarta, 17 Oktober 2015

 

(5)

Rindu

Rinduku layakna embun pada daun-daun

Layaknya gelap pada malam

Layaknya awan pada gerimis yang menjadikan pelangi menggurat langit saat sore bertandang

Yogyakarta, 17 Oktober 2015

 

 

 

(6)

Mata Hati

Bukan melalui mata kasar. Melainkan,

melalui mata hati;

Kau dapat melihat seorang nenek renta

Terbaring tanpa alas kepala pada sehelai samak pandan butut. Dan,

berbaring memestol seperti bayi dalam kandungan

Kelopak mata rabunnya terpejam dan melingkan air mata

Dua bibir keriputnya menyeringai seperti menahan sakit tak terperikan

Tersingkap dari selimut kumuh yang membungkus raga ringkihnya;

Lengan kering-kerontangnya dipenuhi luka koreng menjijikan

 

Tak lain pula tak bukan

Nenek itu adalah citra dari bumi yang sedang kita pijak

Dalam kerentaannya tak sabar menunggu ajalnya

Dalam rintih pilunya bumi ini menggumam; “kerusakan pada sekujur tubuhku disebabkan karena ketamakan manusia.”

 

Bukan dengan mata kasar. Melainkan,

melalui mata hati. Namun,

sayang beribu kali, sebab mata hati telah menjadi buta

Hingga nenek renta itu luput dari tatapan mata hati kita

Yogyakarta, 17 Oktober 2015

 

(7)

Anai-anai

Gemintang kerlap-kerlip bagai binar mata para bidadari

Bulan sabit mulai kentara bundarnya menyerupai perempuan hamil tua yang sebentar lagi melahirkan purnama

 

Di jagat Arsy sana;

Tuhan duduk di singgasana dikelilingi para malaikat bersayap

Mata agung-Nya melihat catatan amal baik dan buruk tiap diri manusia sambil menghisap cerutu dari Surga

Rupanya;

Tuhan mulai kehilangan kesabaran, karena

menyaksikan kemurtadan dan kemunafikan segenap manusia

 

namun, rupanya;

Kemurkaan Tuhan selalu tersisihkan oleh kebesaran kasih sayang-Nya. Dan,

Tuhan memerintahkan pada malaikat peniup sasangkala tuk menangguhkan hari kiamat

Yakni sebuah hari dimana semasta ini binasa;

Bintang gemintang saling bertabrakan

Gunung dan manusia berterbangan laksana anai-anai tertip angin

Bumi bersimbah kematian

Dan relung hati manusia hanya berisi penyesalan

Yogyakarta, 17 Oktober 2015

  • view 70