TUKANG TENUNG--CERPEN AGUS HIPLUNUDIN

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Mei 2017
TUKANG TENUNG--CERPEN AGUS HIPLUNUDIN

TUKANG TENUNG

Oleh: Agus Hiplunudin

 

Keajalan Makilah cepat beredar, seperti hujan berbuah banjir bandang menghanyutkan rumah-rumah. Barangkali sebuah kabar kematian tak akan segeger itu, jika yang mati bukan Makilah nenek tukang tenung berumur delapan puluh tahun, tiga bulan, dua minggu, lebih sehari itu.

Apalagi kemtaian Makilah tidak sesuai dengan sesumbarnya selama ini; ia menggembar-gemborkan pada semua orang, bahwa dirinya tidak akan bisa mati, jangankan manusia atau jin, Maha Dewa pun tak akan kuasa mencabut nyawanya dari ranganya. Membuat hati setiap orang gentar mendengarnya.

Mengenai keganasan Makilah jangan ditanya, bila Makilah terusik hatinya oleh seseorang, maka orang tersebut akan menemui ajal seketika, termakan teluh jahat ageman Makilah, karenanya setiap orang takut padanya.

Mulanya, Makilah seorang baik hati lagi peramah, namun semenjak kematian suaminya yang bernama Damari kepribadian Makilah berubah jahat tidak tanggung, tidak alang-ke-palang. Damari mati ketika ia tertangkap basah mencuri kambing tetangga, Damari yang sedang tertimpa kenahasan itu dibakar hidup-hidup—diadili massa yang sedang kesetanan, hingga Damari mati mengenaskan, dengan tubuh menjadi abu. Sebab, itulah Makilah sakit hati jiwanya meradang karena sebuah dendam. Untuk melampiaskan dendam kesumatnya, Makilah memuja Batari Durga dari Kayangan Gondomayit.

*

Waktu itu. Mendung menggelayuti langit, walaupun tipis, dengan bantuan angin, mendung itu semakin menebal. Pada sebuah pura persembahan, nampak Makilah duduk bersemedi sedangkan di hadapannya ngepul kemenyan yang dibakarnya, tepat di depan Makilah, berdiri seonggok patung batu perempuan buruk rupa, adapun patung yang dimaksud adalah patung Batari Durga, penguasa hitam dunia kegelapan.

Karena kehusukannya sembahyang dengan tapabrata, akhinya Batari Durga turun dari Kayangan Gondomayit, datang memenuhi panggilan hambanya yang sedang berduka lara. Nampak, ubun-ubun patung itu mengeluarkan asap tipis, menjelma menjadi Batari Durga, namun, kali ini Batari Durga tidak menujukkan wajah buruknya, namun kali ini Batari Durga mencitrakan wujudnya sebagai Dewi Uma, bidadari cantik rupa.

“Ada apa anakku, memanggilku dengan cara sembahyang tapabrata?” tanya Batari Durga suaranya halus, namun merindingkan bulu tengkuk.

“Sesembahan hamba, Dewi Batari. Hamba sakit hati, pada para penduduk yang telah tega membuhuh suami hamba, dengan cara yang keji kejam, Suami hamba dibakar hidup-hidup kerena tertangkap basah, ketika ia mencuri kambing tetangga. Kematian suami hamba tidak sepadan dengan kesalahannya. Jadi hamba minta bantuan Dewi Batari untuk membalaskan dendam kesumat hamba pada mereka.”

“Anakku. Kukabulkan permohonanmu.”

Kemudian wujud Batari Durga dalam jelmaan Dewi Uma hilang seketika. Berbarengan dengan, turunnya hujan lebat, angin berhembus kencang, dibarengi suara halilintar menggelegar mengguncang bumi.

Keesokan harinya, Tukimin yang kambingnya nyaris dicuri Damari, jatuh sakit, satu jam kemudian meninggal dunia, dengan tubuh membusuk, seolah telah mati berhari-hari. Sejam kemudian setelah kematian Tukimin, Tukiem istinya Tukimin sakit tanpa sebab, dan mati seketika, dengan tubuh gosong seperti tersambar petir.

Sekarang ketawa, sejam kemudian mati. Pagi-paginya sarapan, dan pada sore harinya telah tidak bernyawa. Sore harinya masih nyangkul di sawah, pulang-pulang tinggal nama. Anehnya orang-orang yang mati itu, mereka yang telah mengarak, dan ikut membakar Damari.

Akhirnya para warga desa mengendus, bahwa Makilah telah bersekutu dengan Batari Durga dari Kayangan Gondomayit tuk memusnahkan orang-orang yang telah membunuh Damari. Para dukun membakar kemenyan, para resi memanjatkan doa-doa pada Dewata, perempuan-perempuan membawa obor minyak berkeliling mengitari rumahnya dengan telanjang bulat ketika tengah malam. Semua itu. Demi menangkal tenung jahat Makilah, namun semuanya tak ada yang membuahkan hasil, dan orang-orang yang andil dalam kematian Damari terus bergelimpangan menemui ajalnya tanpa bisa ampun lagi.

Bukan main girangnya Makilah, sebab dendamnya telah terlampiaskan, dan keinginannya telah diperturutkan oleh Maha Dewi Batari Durga. Kehebatan Makilah dalam hal tenung dan teluh, membuat namanya terkenal kemana-mana, banyak sudah orang yang berdatangan pada Makilah menggunakan jasanya untuk  menenung atau meneluh orang, banyak pula orang yang berdatangan untuk berguru ilmu teluh dan tenung pada Makilah, kepala Makilah semakin membesar, kesombongannya semakin menjadi-jadi, namun semua orang tak ada yang berani melawannya, sebab mereka takut terkena teluh Makilah sangat sadis mengerikan.

Makilah semakin benci pada para penduduk desa, selain para penduduk desa itu yang telah membunuh suaminya, para penduduk desa pun tak ada yang mau melamar Anjani anak perempuan semata bijinya itu, Anjani tetap menggadis di usianya yang ke duapulu lima tahun.

Bukan karena Anjani buruk rupa, sehingga tidak ada lelaki yang tertarik padanya. Sebenarnya, Anjani cantik bukan kepalang. Namun, para lelaki takut pada Makilah ibunya Anjani yang tukang tenung itu. Para lelaki itu khawatir menyinggung perasaan Anjani, dan Anjani mengadukan sakit hatinya itu pada ibunya, dan ibunya dapat dipastikan akan menenung lelaki yang telah menyakiti hati anaknya tersebut. Karena itulah Anjani menjadi perawan tua.

Bila ada penduduk desa yang menikah, bukan main marahnya Makilah, sebab ia mengira lelaki bersangkutan telah menyia-nyiakan kecantikan dan kebahenolan Anjani putri kesayangannya, dan tanpa ampun lagi keesokan harinya pasang pengantin tersebut telah tak bernyawa, dengan mata mendelik, dari mulutnya keluar busah seperti terkena racun mematikan.

Tengah malam, tampak Makilah sembahyang dengan kehusuknya, di depan patung Batari Durga, asap kemenyan menyelimuti pura tua dan angker itu. Nampak dari ubun-ubun patung Batari Durga keluar asap hitam tipis, kemudian menjelma menjadi sosok Dewi Uma yang amat cantik rupawan.

“Anaku,” sapa Batari Durga.

“Maha Dewi sesembahan hamba, hamba membenci seluruh warga desa ini, hamba ingin, mereka semua mati, dengan tenung hamba,” Makilah bicara langsung pada duduk perkara.

“Anakku, pikirkanlah masak-masak.”

“Hamba telah memikirkannya lebih dari seminggu.”

Baiklah anakku, kuperkenankan keingininanmu.”

Kemudia wujud Batari Durga dalam bentuk Dewi Uma yang cantik jelita itu menghilang.

Pukul tiga dini hari, sebuah bayangan hitam, yang tak lain Makilah sedang menggali tanah pada simpang empat jelan desa, Makilah menanam tenung jahatnya, dan siapa saja yang melintasi simpang empat itu, ia akan menemui ajalnya.

Keesokan harinya, para warga kembali diserang wabah yang ganas, adapun wabah berasal dari tenung jahat Makilah yang ditanam di simpang empat jalan desa itu. Penduduk desa lama kelamaan jumlahnya tambah sedikit. Desa menjadi sepi mencekam bagai pekuburan, mayat-mayat berserakan di sana sini.

Demikianlah kejahatan Makilah.

*

Adapun kematian Makilah yang diluar ramalannya itu, membuat semua warga berbahagia—merasa diri telah terbebas dari ancaman teluh yang mematikan.

Sebenarnya telah terjadi huru-hara di Kayangan Gondomayit. Batara Kala anak sekaligus suami dari Batari Durga  telah menemui ajalnya ditumpas Wisanggeni.

Batari Durga telah diruat raganya oleh Batara Guru, sehingga Batari Durga kembali menjadi sosok abadi Dewi Uma yang memilki kepribadian bidadari, berakhlak mulia. Pula Batari Durga, telah menemui Makilah tuk mengakhiri kejahatannya. Namun, Makilah keras kepala, dan menuduh Batari Durga telah mengingkari janjinya, yang akan mengabulkan segala keinginanya.

Batari Durga yang telah menjadi Dewi Uma dalam keabadian, tak dapat berbuat banyak, sebelum menghilang dari hadapan Makilah, Dewi Uma berkata, bahwa kejahatan yang dilakukan Makilah, akan berbalik pada Makilah itu sendiri, bila kejahatan itu tidak segera diakhiri. Dan, celakanya Makilah berhati keras tak mengindahkannya, tak menuruti perintah sesembahannya itu, yang berujung pada kematian dirinya.

*

Walaupun Makilah seorang laknat, tukang tenung yang terkenal jahat, dan tidak mengenal prikemanusiaan. Namun, para penduduk desa, yang tersisa, mengkebumikan jasad Makilah sebagaimana mestinya. Tinggal kini Anjani, hidup kesepian sebatang kara, dan setiap malam Anjani bermimpi bertemu dengan almarhumah ibunya. Dalam mimpi itu ibunya menurunkan segala mantra tenung dan teluhnya padanya.

*

“Pasangan pengantin itu mati mengenaskan, matanya mendelik, dan mulutnya berbusah.”

“Bukannya Makilah tukang tenung itu telah mati?”

“Ia. Tapi Anjani anak Makilah masih hidup,” bisiknya seperti ketakutan.

 

Selesai

Yogyakarta, 13 April 2015

  • view 75