Tusuk Konde-Cerpen Agus Hiplunudin

Agus Hiplunudin
Karya Agus Hiplunudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Mei 2017
Tusuk Konde-Cerpen Agus Hiplunudin

TUSUK KONDE

Oleh: Agus Hiplunudin

Rumi, aku turut merasakan kesedihan engkau. Sudahlah kau tak usah melarutkan diri kedalam nestapa disetiap malam, pagi, dan petang. Engkau harus menyadari dengan segenap jiwa dan pikiranmu, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, sadarilah oleh engkau, tak ada yang abadi di dunia ini, bahkan dirimu sendiri akan hilang, lenyap dari muka bumi ini.

Rumi, tak usah kau melulu memandangi tusuk konde bekas gelung rambut panjang ibumu itu, justru itu membuat hati kau hancur berkeping, menyerupai piring beling yang pecah berantakan di lantai.

Rumi bukan maksudku tuk mencampuri urusan pribadimu. Ini semata-mata karena aku mencintaimu, sekali lagi aku turut merasakan yang engkau rasakan, kepedihanmu adalah kepedihanku, ketika engkau melinangkan air mata, air mataku ikut berlinang pula, perihmu adalah milikku.

Waktu itu awan tipis menggelayuti langit, karena hembusan angin, awan tipis tadi, lama-kelamaan berbuah mendung yang tebal, kemudian melahirkan hujan yang deras bercampur angin membadai.

Tubuh ibumu yang sedang menancapkan benih-benih padi di sawah menggigil kedinginan. Namun, ia tak menyerah pada keadaan, sebab pekerjaan harus dibereskan hari itu juga. Waktu itu petir menyambar, hampir mengenai tubuh ibumu. Namun, proton pohon lebih besar kadarnya daripada proton tubuh ibumu, sehingga petir itu mengenai pohon malang itu, serta menghanguskannya seketika. Ibumu gelagapan ketakutan bercampur terkesima, akhirnya ibumu pun bergegas pulang ke rumah.

Malam menjelang, tubuh ibumu terus menggigil kecut, ia tenggak sebutir obat yang dibelinya dari warung sebelah. Namun, panas dingin yang diderita ibumu itu tak kunjung sembuh.

Tepat pada hari ketujuh, di malam Jumat ketika bulan sedang purnama, tubuh ibumu meregang, matanya mendelik ketakutan, seakan ibumu melihat malaikat maut datang dari arah langit menghampirinya. Tampak tubuh ibumu bangun dari terlentangnya, menjulurkan tangannya ke atas seolah ibumu sedang berjuang mempertahankan nyawanya, agar tak lepas dari tubuh. Namun apa daya manusia, malaikat lebih perkasa dari manusia, sebab malaikat melakukan pekerjaannya sesuai titah langsung dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Nyawa ibumu ditarik dari ubun-ubunnya, seperti menarik gulma di padang ilalang, setelah itu tubuh ibumu kaku, tak lagi bernyawa.

Rumi, tapi sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Mari kita tatap masa depan. Berulang-ulang kali kukatakan padamu, bahwa aku turut merasakan apa yang engkau rasa, kesedihanmu adalah kesedihanku, deritamu adalah deritaku.

Rumi aku mengerti betapa pentingnya makna ibu bagimu. Rumi engkau bekerja, memeras keringat, membanting tulang, semata untuk mengubah nasibmu, itu semua engkau lakukan, demi membahagiakan ibumu. Tapi, Rumi setelah nasibmu berangsur-angsur membaik, kehidupan yang dulu seolah-olah memusuhimu, kini kehidupan itu seolah-olah berpihak padamu. Namun, kebahagiaanmu seketika hancur, ketika engkau melihat ibumu telah menjadi sebujur bangkai.

Ooooh. Rumi, engkau menangis di samping mayat ibumu, sedu-sedanmu merambat keseluruh dusun, menyelinap masuk pada jiwa-jiwa manusia, kesedihanmu menelisik menusuk kedalam kendang-kendang telinga para tetangga. Dalam waktu sekejap rumahmu telah dipenuhi jubelan orang yang turut prihatin atas kematian ibumu.

“Kuatkan hatimu Rumi, ikhlaskan saja kepergian ibumu, ibumu telah berbahagia bersama Tuhan,” demikian hibur orang-orang yang melayat mayat ibumu.

Aku tahu Rumi, mereka bisa bicara demikian karena mereka tidak merasakan apa yang engkau rasakan. Menurut mereka perkataan tadi dapat menguatkan hati engkau. Ternyata perkataan tadi tidak berdampak pada hatimu, luka engkau makin menganga lebar, air mata engkau bukan hanya melinangi dua bilah pipi engkau. Tapi, air mata engkau menggenangi jiwa engkau yang menderita.

Rumi, kesedihan engkau tak terperikan, engkau melihat dengan mata telanjang engkau sendiri, ibumu yang hanya ada satu-satunya di dunia ini, dimandikan, dibaluri bedak dan kapur barus, lalu dikafani, dan dikebumikan.

Terdengar suara orang sahut-menyahut membacakan ayat-ayat suci, memanjatkan doa dan puji-pujian layaknya dalam perlombaan, menghantar kepergian ibumu dari dunia ke alam baka.

Semua itu sungguh tak dapat menghampus rasa kehilanganmu pada ibumu. Engkau pandangi lagi tusuk konde milik ibumu itu. Sadarilah Rumi tusuk konde itu kini menjadi racun bagi jiwamu, tusuk konde itu menusuk-nusuk hatimu, tusuk konde itu yang membuat enkau terlarut dalam kesedihan sepanjang waktu.

Demi Tuhan aku bersumpah, bukan demi aku, tapi demi kebaikan engkau Rumi. Buanglah tusuk konde itu, supaya hati engkau tak lagi berdarah oleh tusukannya. Maafkan aku Rumi bila aku telah lancang menyuruh engkau tuk membuang tusuk konde itu. Tapi percayalah padaku, ikutilah saran dariku sekali ini saja. Mudah-mudahan perlahan-lahan rasa kehilanganmu sirna dalam hatimu.

Rumi aku maklum, tusuk konde bekas ibumu itu, memiliki makna mendalam bagimu, sebab tusuk konde itu engkau beli tiga tahun yang lalu, dengan uang gaji pertamamu, dan rupanya tusuk konde itu merupakan persembahan terakhirmu untuk ibumu. Selama tiga tahun itu pula tusuk konde itu membersamai ibumu, membahagiakan hatinya. Tusuk konde itu sering dipandangi ibumu berlama-lama ketika ibumu merindukanmu, sebab ketika ibumu melihat tusuk konde itu, seolah-olah ibumu melitah dirimu, dengan demikian terobatilah rindu ibumu terhadapmu.

Tapi Rumi, aku tak mau melihat engkau terpuruk, melihat engkau duduk termangu sambil memandangi tusuk konde bekas ibumu itu. Aku tak rela melihat cahaya matamu meredup tertimpa mendung kesedihan, karena mengenangkan almarhumah ibumu.

Rumi bila engkau mencintai ibumu. Doakanlah ia, semoga doamu diterima Tuhan. Rumi bila engkau mencintai ibumu lihatlah sekelilingmu, bila engkau melihat orang yang sedang kelaparan beri makanlah ia, semoga makanan yang engkau sedekahkan itu disampaikan Tuhan pada ibumu. Rumi wakafkanlah tanah persawahan yang sepetak milik ibumu itu, semoga biji-bijian serta buah-buahan yang tumbuh dari tanah wakaf itu menjadi makanan bagi ibumu di akhirat. Rumi perindahlah akhlakmu, dengan demikian Tuhan akan mengasihimu, dan karena Tuhan mengasihimu, pasti Tuhan pun mengasihi ibumu di akhirat sana.

Rumi bangkitlah. Tataplah ke depan. Dan aku memohon sekali lagi buanglah tusuk konde bekas ibumu itu, tusuk konde itu, bukan pelipur laramu. Namun, tusuk konde itu menjadi racun yang mematikan bagi jiwamu.

Rumi demi bahagiaanmu, tusukanlah tusuk konde itu tepat ke jantungku, hingga membunuhku, semoga dengan cara demikian engkau akan membenci tusuk konde itu, dan membuangnya jauh-jauh dari kehidupanmu.

Kulihat malaikat maut, mengambil tusuk konde itu dari tangan Rumi, dengan pasrah, kubiarkan jantungku, ditusuk oleh tusuk konde itu. Namun, aku tak merasakan sakit, kusaksikan malaikat maut itu menghempaskan sebuah ruh ke ubun-ubunku seperti seorang tukang cetak batu bata yang menghempaskan tanah-tanah liat pada cetakan batu bata tersebut, ternyata ruh itu ruh ibumu Rumi. Dan disatukan dengan ruhku. Atas kuasa Tuhan aku melihat Rumi berbahagia kembali, mukanya sumringah, seperti orang yang telah mati kemudian Tuhan membangkitkan kembali dari kematiannya, dan Tuhan mengabarinya bahwa ia adalah pewaris surga. Rumi aku hidup bersamamu dalam keabadian. Bahagiamu adalah milikku.

 

Selesai

Yogyakarta, 24 April 2015

  • view 48