KUMINIS & PI-KI-AI

KUMINIS & PI-KI-AI

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 November 2017
KUMINIS & PI-KI-AI

Saya memang sudah begitu lama merasa bosan dengan bahasan komunis(me), baik itu perihal sejarahnya di negara ini atau masa depannya (jika ada). Masa-masa menyedihkan itu sudah pernah saya lalui ketika saya berseragam putih abu, menghabiskan waktu istirahat atau pulang sekolah untuk mendiskusikan sedikit hal mengenai apapun. Kadang memang membicarakan ideologi politik atau mungkin tiket konser musisi lokal di GOR Saparua atau tempat serupa lainnya di kota Bandung.
 
Siang menuju sore hari ini, agak malas saya keluar rumah untuk melihat perkembangan pameran buku yang berlokasi di gedung Bale Asri PUSDAI JABAR. Sejak kamis pekan kemarin, saya memang harus melihat perkembangan pameran tersebut hingga pekan akhir bulan ini karena pekerjaan. Pameran membosankan dengan ribuan pengunjung tak kasat mata berebut udara dengan pengunjung reguler yang tak pernah membawa uang untuk berbelanja. Orang yang sama lagi yang datang setiap kali gelaran pameran buku diselenggarakan. Tapi sore tadi itu, seperti yang sudah dijadwalkan, di panggung utama diselenggarakan satu diskusi dan bedah buku berjudul “Kaum Merah Menjarah”. Diskusi itu sendiri diberi tema “Mengapa Islam Menolak Ideologi Komunis?”. Hadir sebagai pembicara adalah penulis buku “Kaum Merah Menjarah” Prof. DR. Aminudin Kasdi, H. Usep Romli Abdul Hamid dan Kivlan Zen. Kegiatan ini dijadwalkan digelar mulai pukul satu siang, ketika saya datang, saat ashar, diskusi sudah memasuki sesi tanya jawab. Saya duduk sebentar di kursi kosong, lalu pergi, lalu melihat lagi sebentar ketika Bu Nina Lubis berada di panggung berbicara begitu semangat membicarakan beberapa nama, lalu pergi lagi. Saya meninggalkan gedung Bale Asri tepat ketika acara diskusi tersebut juga usai. Saya sama sekali tidak menyimak diskusi dan bedah buku tersebut.
Namun, selalu yang menjadi begitu menarik bagi saya mengenai komunis(me) ini adalah paling tidak ada dua hal, kedua hal ini membuat saya berkeyakinan bahwa komunis(me), terutama di Indonesia sudah begitu tak menarik lagi untuk mendapatkan begitu banyak ruang dan waktu untuk diberikan. Didiskusikan begitu panjang, dipikirkan begitu pelik dan diperhatikan sebegitu besar sehingga borok yang nampak lebih berbahaya seolah sekedar angin lalu.

Kedua hal tersebut adalah bahwa diskusi-diskusi menganai komunis(me) dan atau dalam hal ini sejarah dan masa depannya (jika ada) selalu tak pernah didiskusikan oleh kedua belah pihak. Jikapun ada, tentu jumlahnya terlalu sedikit untuk pada akhirnya menjadi semacam debat kusir yang tak berkesudahan. Cover both side jarang sekali terjadi pada diskusi-diskusi publik mengenai hal ini, komunis(me) memang begitu menakutkan di tanah kita, dia semacam sesuatu yang bahkan untuk diketahuipun hukumnya haram. Dia bahkan melampaui kengerian hantu tanah pekuburan. Jarang sekali saya mendapati diskusi yang begitu terbuka, yang mempertemukan mereka yang begitu kontra dan yang pro terhadap perkembangan atau paling tidak perlu atau tidaknya komunis(me) dipelajari untuk pengetahuan. Jarang sekali saya mendapati mereka yang berada di pihak komunis(me) dan yang menentang duduk bersama membicarakan mengenai masa lalu yang begitu kelam kecuali di Pengadilan HAM Internasional. Diskusi dan perdebatan mengenainya menjadi begitu membosankan karena hanya akan selalu berkeliaran pada klaim dari pihak masing-masing. Mengenai tajamnya arit dan panasnya biji peluru. Mengenai pemusnahan masal dan permusuhan abadi. Selalu diperdepatkan dan diperselisihkan ketika ada banyak hal yang lebih memerlukan perhatian ketimbang isu hantu seperti ini. Masih ada kapten kesebelasan koruptor yang baru-baru ini pada akhirnya harus bermain sirkus hingga menjadi bahan lelucon jutaan masyarakat yang telah dirayah harta olehnya. Bisa bayangkan, ada maling masuk ke rumahmu, mengambil semua yang kau miliki, ketika dia tertangkap, kau hanya menganggapnya sebagai bahan untuk ditertawakan saja. Dibelakangnya, dan maling itu tak ambil pusing apa yang kau tertawakan. Kau sedang disodomi. Dan bahasan kita hari ini adalah bahwa kebangkitan PKI sudah di depan mata ketika entah berapa jumlahnya para petinggi partai menggerogoti kekayaan negara melalui BANGGAR di kantor-kantor dewan yang hasil rampasannya bisa jadi, bisa sangat memungkinkan masuk ke dalam kas partai. Mana yang lebih berbahaya? Belum lagi berita-berita luar Jawa yang begitu pelan mengenai orang yang dihilang-nyawakan di tempat yang begitu jauh dari ibu kota oleh mereka yang merasa memiliki kuasa.
 
Yang kedua –saya mungkin pernah menuliskannya dengan gaya yang lebih slengean- adalah betapa hanya orang-orang bodoh yang masih begitu ingin mempromosikan komunis(me) di tengah hedonisme dunia saat ini. Gadget terbaru, artis porno silih berganti, ekspansi artis korea, film-film sci-fi dan animasi yang begitu membius, Meikarta, suku bunga, mini-market dan liga sepak bola yang penuh kecurangan. Siapa yang hari ini menginginkan komunis(me)nya Lenin selain dari mayat Lenin sendiri? Kapitalisme lebih menggiurkan tentunya. Pasang modal di sini, pasang modal di sana lalu tunggu hasilnya mengalir ke dalam kantong ketika kapal pesiar mengantarkan kita ke pulau impian. Piknik. Apa menariknya komunis(me) di tengah serangan mini-market yang begitu menjamur hingga ke titik yang tak terjangkau GoogleMap sekalipun. Sampo anti-ketombe, deodoran dan kondom rasa stroberi, minyak goreng anti lemak dan mie instan. Apa menariknya komunis(me) sehingga masih ada orang yang ingin mempromosikannya. Hanya orang bodoh, sebodoh orang yang menganggap masih ada orang yang ingin mempromosikannya.
 
Akhir kata, mari mendiskusikan banyak hal yang lebih berfaedah ketimbang terus-terusan membicarakan kumesin atau PI-KI-AI. Mari membicarakan menganai anggaran mana yang bisa kita sleding bersama-sama atau mengenai jenis kopi dan rokok apa yang selaras dinikmati ketika cuaca hujan dan banjir tak surut hingga tiga jam di kota yang index of happines-nya begitu melejit sejak banyak taman kota atau mengenai bisnis pengamanan di timus nusantara atau apapun asal jangan membicarakan hal itu. Pusing pala inces.
 
 
_ditulis minggu malam kemarin ini

  • view 202