Matinya Seorang Penulis II

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2017
Matinya Seorang Penulis II

 
Keping I
Siang itu kau terduduk lemas di teras pertokoan yang berderet sepanjang jalan dan menatapmu begitu sombong. Semua barang yang kau miliki sudah habis semua demi tanggung jawab yang kau emban sejak tiga tahun yang lalu kau nikahi seseorang yang bahkan tak pernah kau cintai. Surat gadai telah kau buang ke tong sampah tepat dihadapanmu. Kau begitu kuyu, matamu sayu dan terlihat begitu kurang tidur. Kau mungkin mabuk lagi seperti hari-hari sebelumnya.
 

Keping II
Istrimu ada di rumah. Payudaranya kendor dan kutangnya koyak. Sepanjang hari menantimu membawa kantong plastik berisi beras atau mi instant atau juga roti. Atau apapun yang bisa dimakan. Anak-anakmu, tak sekolah dan tak memiliki teman sebab tak ada anak seumurannya berani mendekati mereka sebab tabiatmu ketika sedang dirumah yang tak pernah bersahabat dengan siapapun termasuk dirimu sendiri. Mereka, anak-anak dan istrimu pernah memiliki harapan yang begitu besar mengenai hidup mereka. mengenai pasar swalayan atau toko-toko baju dan tempat wisata penuh ceria. Mereka, kadang berharap kau sudah mati saat ini agar segalanya lebih jelas bagi mereka.

 
Keping III
Tak ada orang tua bagi lelaki sepertimu saat ini. mereka mencampakanmu ketika segala hal kau anggap merupakan pilihanmu dan akan kau tanggung segala apa yang mengikuti pilihanmu itu. Tak ada bapak, tak ada ibu. Lelaki yang pernah kau panggil bapak dan pada punggungnya engkau pernah bersandar ketika demam menyerangmu suatu ketika saat kau berumur belasan, kini menyesali pernah menjadikanmu tumbuh. Memberimu makan dan pendidikan semampunya serta memberimu pakaian agar kau suatu ketika berada di ruangan dengan pendingin udara dan meja yang penuh dengna angka-angka. Dia, kini sudah semakin renta dan hanya berteman rasa kecewa. Di sampingnya, kadang ada ibu yang yang merasa air susunya begitu sia-sia. Dia pernah menimangmu, mengelus kepalamu yang berambut tipis sembari merapalkan doa-doa agar suatu hari kelak kau menjadi kebanggan keluarga. Kini, mereka berharap kau tak pernah ada sama sekali.

 
Keping IV
Kau masih disana, menatap nanar pada tong tempat surat-surat gadaimu berada kini. Arloji hadiah dari walikota ketika engkau diundang berkunjung ke kediamannya, sepatu yang kau pakai dihadapan presiden yang hanya bisa menganggukan kepala selama masa kerjanya, kemeja-kemaja terbaik yang kau beli dulu saat dunia berpihak padamu.
Kau masih ingat betul bagaimana orang-orang berbaris meminta tandatanganmu pada halaman pertama buku-buku yang pernah kau tulis, bagaimana orang-orang dari kantor penerbit begitu manis dan penuh harap meminta naskahmu ceritamu bahkan ketika cerita belum sempat kau tulis. Mereka, pernah begitu manis padamu dan seolah memberikan banyak hal padamu saat itu.

 
Keping V
Kadang aku menemukanmu sedang menulis sesuatu pada lembar-lembar kertas bekas pembungkus gorengan di pojokan, di bangku ruang tunggu stasiun angkutan kota sore hari sebelum maghrib tiba. Kau mungkin sedang menulis sajak seperti dulu kau juga pernah melakukannya dan orang-orang dari ibu kota mendatangimu untuk membelinya. Lalu menjualnya.
Aku tak pernah melihatmu membaca sajak, sejak kau masih menjadi seseorang yang dikagumi atau sekarang ketika kau hanya menjadi sesuatu saja. Yang kutahu, bagimu menulis adalah pengalaman yang tak mungkin dialami dua kali apalagi dialami oleh orang lain. Pengalaman tak pernah berulang seperti roda yang selalu kembali saat putaran sudah begitu bulat. Bagimu, sajak adalah perjalanan yang tak mungkin ditempuh lagi saat telah terlewati, sama seperti riak air sungai yang tak mungkin kembali.
 

Keping VI
Aku bukan orang gila, katamu suatu ketika. Aku tahu, jawabku. Aku menoleh, menyapu pandangan. Mengapa setiap kali aku merasa bahwa kau sedang memerhatikanku? Tanyamu padaku sambil menghembuskan asap tembakau dari rokok murahanmu. Aku bukan memerhatikanmu, kau memang berada di tempat yang harus kulewati setiap hari dan aku menganalmu. Kau menarik kepala, mencoba menjauh. Aku membaca cerita-ceritamu, aku membaca sajak-sajakmu.

 
Keping VII
Hari itu, aku juga datang keacara peluncuran bukumu di lantai dua sebuah toko buku yang bersebelahan dengna gedung bioskop tua di pusat kota. Saat itu kau tinggal di ibu kota dan hanya datang ke kota kita saat ada sesuatu yang harus kau lakukan saja.
Kursi-kursi berjajar begitu banyak, orang-orang datang mungkin saja ada juga dari luar kota. Bukumu kali ini pasti selaris bukumu yang lain juga. Apalagi, bukumu kali ini hanya akan bisa dimiliki saat acara peluncuran selesai hari ini. Di semua toko. Katamu, yang aku baca di surat kabar, kau ingin bukumu dipajang serentak. Kau ingin, saat acara peluncuran buku usai, semua toko bisa memajang buku terbarumu itu.
 

Keping VIII
Aku tahu kau pura-pura gila. Hanya saja, aku belum mengerti apa maksudnya semua ini, padahal jika kau tak gila kau bisa kaya. Mungkin aku melewatkan sesuatu sehingga tak memahamimu begitu utuh.
Kau masih mampu mencipta cerita-cerita, aku sering melihatmu menulis lalu membuang kertas-kertas yang baru kau coreti ke dalam tong sampah. Kau lalu membakarnya.
 

Keping IX
Lalu, ketika waktu yang telah ditentukan itu datang, kau maju menuju mimbar yang telah disediakan. Kau memaparkan banyak hal mengenai buku barumu. Satu cerita yang tak biasa, katamu, meski mungkin sebetulnya tidak. Sebab, kau biasa bercerita mengenai sesuatu yang begitu manis, sesuatu yang seolah menjadi penyambung lidah orang kebanyak yang suaranya hilang dipungut lima tahun sekali. Kau selalu tampil dengan dongeng yang sama.
Orang-orang itu, jumlahnya mungkin tak sampai belasan. Jumlah yang begitu kecil jika dibandingkan dengan orang yang hadir saat itu. Tapi mereka membawa senapan dan surat tugas penangkapan. Kau sendirian, hampir semua orang mundur menjauhimu. Meninggalkanmu. Aku tak lagi tahu bagaimana keadaanmu hingga suatu hari kau muncul di teras toko-toko yang berjejer sambil membuang lembaran kertas kontrak gadai ke dalam tong sampah.
 

Keping X
Aku baru menemukan jawaban beberapa hari yang lalu, semua ada pada cerita-ceritamu yang kau tulis beberapa tahun yang lalu. Bagimu, waktu adalah sesuatu yang tak pernah ada, hanya guliran gerak ruang yang ditandai dengan angka-angka. Bagimu kelahiran bukanlah sesuatu yang terjadi hanya sekali, hari ini adalah hari yang sama dengan hari kemarin saat matahari bersinar dan pelacur menghapus pupur di wajah mereka.
Aku tahu, kau sedang menulis ceritamu sendiri saat ini, setelah sekian lama kau lelah menulis cerita menganai banyak hal yang sama sekali tak kau mengerti. Ini mungkin memang waktu yang tepat bagimu untuk memulai segalanya kembali dari titik terendah. Menjadi bukan apa-apa dan menjadi sesuatu meski bukan seseorang. Kau tak peduli.
 
Keping XI
Menjadi begitu kaya dan menjadi begitu miskin kadang-kadang memang tak ada bedanya, sama seperti menjadi tak begitu berdaya dengna menjadi begitu berkuasa. Pada akhirnya akan biasa saja terasa hambar. Kau tak akan lagi merasa begitu lapar saat kau begitu miskin sama seperti kau juga sudah tak pernah merasa lapar ketika semua jenis makanan yang kau ingin begitu lekas tersaji. Kau akan merelakan apapun dan tak perlu lagi harapan ketika dirimu sudah berada dititik terendah sama seperti kau tak mampu lagi menikmati penindasan ketika kau berada di titik teratas.
Aku membaca segalanya dari perilakumu hari ini. saat berbotol-botol minumakn beralkohol menjadi teman setiamu menggantikan para editor dan staf penjualan kantor penerbitan tempatmu biasa membukukan tulisanmu. Botol, katamu, bisa kau ajak bicara meski mereka tak pernah mendengar atau menyampaikan bantahan. Atau, lanjutmu lagi, bisa saja sebetulnya botol-botl itu mendengar dan menyampaikan bantahan.
Aku membaca sajak pada pembicaraanmu hari demi hari.
 
Keping XII
Sore semakin larut, kau pamit pulang. Kulihat kau memasuki toko kelontong di ujung jalan lalu keluar dengan jinjingan kantong plastik berwarna hitam. Mungkin beras atau mi instan atau roti atau kutang baru untuk istrimu.

  • view 195

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Dua belas keping tulisan Agus Geisha yang secara lugas dan ‘menusuk’ menggambarkan realita yang dihadapi oleh penulis sekarang. Di sini Agus menyampaikan fakta yang kini dihadapi oleh penulis secara umum. Unggahannya memotret kehidupan si penulis yang sedang kalut, terhimpit masalah ekonomi, dimana ia pun lari ke alkohol.

    Situasi semakin menjadi kacau. Kenangan akan masa kejayaannya di masa lalu saat bergelimpang ketenaran menjadi penulis tak lagi sanggup membantunya keluar dari masalah ekonomi. Emosi kegelisahan dan stres semakin terbaca menjadi-jadi berkat gaya kepenulisan orang pertama yang menjadikan pembaca merasa begitu ‘dekat’ merasakan masalah si penulis, yang akan atau mungkin sudah ‘mati’.

  • Anis 
    Anis 
    2 bulan yang lalu.
    konflik batin, Pak?
    atau true story?