Matinya Seorang Penulis

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2017
Matinya Seorang Penulis

Menulis.
Tidak.
Menulis.
Tidak.
Menulis tidak.
Menulis tidak menulis.
Menulis tidak menulis tidak.
Aku juga resah, merasa gamang. Aku juga tak tahu apa yang harus kutulis lagi. Aku berpikir, barangkali satu atau dua sajak tak akan melukaiku seperti apa yang terjadi pada yang lain. Aku harus tetap percaya bahwa menulis tak akan menghilankan nyawaku seperti apa yang terjadi kawanku kemarin. Minggu yang lalu dan bulan sebelumnya. Aku hanya ingin menulis, apapun. Bahkan hal yang bisa saja bukan sesuatu yang penting. Tidak. Aku tidak berharap sebab tulisanku, sebab sajak yang aku tulis sebutir peluru bersarang di tengkorakku.
Tidak.
Menulis tidak.
Tidak menulis.
Mungkin saja hari itu akan datang, hari ketika menulis adalah satu kesenangan sebab dia mendatangkan uang dan pesta pora dan nama yang dikenal dan diundang bertemu presiden dan ratusan orang yang berbaris meminta tandatangan pada buku yang terbit dari seorang penulis. Mungkin bukan hari ini saatnya. Aku tak pernah tahu kapan akan datang waktu saat penulis menjadi sangat kaya raya dan bisa berpikir dengan lututnya saja. Menuliskan kalimat-kalimat gombal dan merayu, menceritakan kisah-kisah haru mengenai dunia-dunia yang tak tersentuh oleh perang dan kelaparan.
Tidak.
Tidak.
Aku yakin, bisa saja sajak yang akan kutulis adalah sajak terakhir dan tak akan pernah diketahui oleh siapapun. Seseorang akan membakarnya setelah membuang selongsong peluru yang lepas dari senapan yang dipakainya untuk membunuhku. Aku tak takut mati hanya karena menulis sajak atau cerita, aku hanya takut aksara yang sudah kutulis sedemikian rupa tak menemui dunia. Untuk apa?
Aku bergegas, mengambil pena dan mencari kertas diantara tumpukan baju-baju yang belum kucuci di sudut kamar. Sajak. Tak kutemui selembar kertas di sana, tak kutemui selembar kertas agar bisa kutulis sajak di atasnya. Bukankah ini satu keajaiban, aku tak menemukan kertas. Tak ada kertas untuk penulis sajak sepertiku.
Tidak menulis.
Sajak. Dan waktu bergulir.
Tik tok tik tok tik tok tik tok.
Mengalir waktu terus berjalan. Merayap, hampir tengah malam. Tak sepatah katapun sempat kutulis. Tak juga pada dinding yang berwarna gelap.
Barangkali sajak adalah jarak antara benteng beton yang terhantam kaki penyair yang meloncat dari lantai dua rumahnya setelah beberapa orang menggedor pintu seusai ia menyelesaikan rima pada malam hari yang begitu suram atau sajak adalah tetes darah pada sebilah belati usai mengoyak seorang novelis yang baru saja pulang dari kantor penerbit di ujung gang sebelum kakinya membawa dia ke rumah. Sajak, bisa jadi adalah aku sendiri.
Menulis.
Aku masih mencari sesuatu dalam diriku untuk ketulis ketika jarum pendek pada jam dinding yang berisik menunjuk angka satu. Tengah malam sudah lewat, harapan sudah sekarat. Tak ada orang yang bisa makan hanya dengan menulis, kata ibuku suatu ketika saat aku masih sekolah dan berkata jujur kepadanya bahwa aku ingin menjadi penulis. Penulis hanya diupah dengan mimpi, lanjutnya sembari menjahit luka pada seragam sekolahku yang koyak dihantam usia. Kau tak perlu menulis, sekolah hanya untuk supaya kau nanti bisa bekerja. Keinginanku untuk menjadi seorang penulis malah semakin menggelora.
Ibu tak pernah mengatakan siapa bapak, hanya buku-buku dengan kertas yang menguning menyampaikan sesuatu yang ingin kutahu. Bapak.
Menulis tidak.
Aku tak pernah membuat ibu tahu bahwa aku menulis, bahwa setiap malam aku menggores kata-kata pada sepotong bata di tembok yang mengelupas. Tak boleh ibu tahu apa yang aku lakukan di belakangnya, terlebih mengenai menulis. Tapi ini sajak, bu. Batinku.
Tik tok tik tok
Waktu bergulir. Aku menantang diri untuk tak tidur sebelum satu atau dua sajak kutulis malam ini. Meskipun, bisa jadi itu adalah akhir dari perjalananku selama ini. Setelah lahir.
Suatu ketika, mungkin keadaan tak segenting ini hingga orang tak boleh menulis apalagi membaca. Menulis adalh perbuatan kriminal dan membaca adalah sebuah kejahatan. Negara menjadi begitu runyam dengan hadirnya sajak-sajak, pemerintah tak boleh dirongrong, presiden tak boleh dikritik. Bapak mungkin yang menulis, hingga ajalnya tiba sebelum aku benar-benar tahu mengenai dia. Ibu pasti tahu siapa bapak dan mencoba menyembunyikannya dariku. Diakah nama pada buku-buku yang kertasnya sudah menguning itu?
Ketika bapak menulis, mungkin keadaan lebih baik, dan penulis menjadi bagian dari masyarakat. Bisa jadi, saat itu penulis adalah orang yang terhormat di lingkungan masyarakat. Aku memahaminya paling tidak dari buku-buku yang kutemukan selama ini di rumah.
Tapi tidak hari ini.
Tik tok tik tok tik tok tik tok.
Jarum jam bergerak, aku menulis bait pertama. Tapi kata-kata menyelimuti dirinya sendiri.
Negara sudah mengambil sikap. Tak ada buku yang boleh lagi beredar sebab menganggu stabilitas nasional dan kontra-revolusi. Negara memilih masyarakat yang patuh dan mandul. Tak perlu bertanya dan tak perlu memiliki pengetahuan, sebab bertanya adalah tindakan terlarang tanpa alasan dan pengetahuan adalah racun pikiran. Keinginan tidak perlu tumbuh sebab kebutuhan sudah dipenuhi.
Presiden tak boleh dibantah dan sajak adalah musuh terbesar bagi kekuasaan. Guna menjadikan negara maju dan berkecukupan serta mampu menarik perhatian negara tetangga, maka revolusi mental perlu dilaksanakan dengan sepenuh hati.  Kerja. Sajak adalah remah.
Tidak menulis tidak.
Tidak menulis.
Tidak.
Sudah hampir pagi ketika bait terakhir sajak tengah kupikirkan. Penutup yang begitu manis dan lugas. Apa gerangan kata-kata yang sedang kauinginkan? Aku mengangguk, aku mengantuk. Tak kutemui suara apapun diluar sana sebelum cahaya matahari benar-benar menerangi.
Adakah kau sajak itu? Sajak-sajak yang tak perlu kutulis tapi mampu membuatku merasa bersalah meski aku tak pernah tahu harus pada siapa aku merasa bersalah. Sedangkan dosa mengalir begitu deras mengikuti aliran darah.
Aku pejamkan mata, aku tajamkan telinga. Adakah suara sepatu di luar sana?
Tik tok tik tok tik tok tik tok. Waktu mengalir begitu deras.
Menulis.
Tidak.
Menulis tidak.
Aku sudah berserah, jika ini adalah sajak terakhirku, dan dengannya aku harus kehilangan nyawa, aku akan begitu rela. Sebab pada sajak, pada kata-kata yang kutulis diriku sudah berada disana bersama mereka. huruf-hufuf.
Titik.
Aku membuka tirai jendela, matahari sebentar lagi akan begitu terlihat. Bau pagi dan suara-suata akan terdengar seperti musik yang begitu sempuran. Aku menghirup udara yang begitu segar. Segalanya sudah kuserahkan. Bahkan kemaluanku. Aku tak lagi merasa ada yang tertinggal jika hari ini adalah hari yang sama ketika seorang novelis dihujam sebilah belati. Aku tak akan lari. Aku akan tersenyum, seperti pagi sebelumnya meskipun sebiji proyektil peluru bersarang di tengkorakku.
Sebab aku adalah sajak.

  • view 32