Kupat Tahu dari India

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 16 Agustus 2017
Kucing Minca Mincu

Kucing Minca Mincu


Dongeng sebelum tidur

Kategori Fantasi

274 Creative Commons (CC) Atribusi
Kupat Tahu dari India

Jam delapan malam lewat tigabelas menit dan tigapuluh tujuh detik :

Kucing Minca Mincu, Ayah Gendut, Aa Fati dan Ibun belum tidur. Padahal sudah malam, padahal sudah ada bulan dan bintang, padahal sudah makan nasi dan minum susu, padahal sudah gosok gigi dan cuci kaki, padahal besok Kucing Minca Mincu harus sekolah, padahal besok Ayah Gendut harus jualan kue, padahal Ibun besok harus bernapas, padahal Aa Fati besok harus senyum dan membanting mainan. Seperti biasa.

Ayah Gendut sudah mengenakan celana pendek dan kaus yang begitu tipis, sudah siap tidur. Lampu kamar sudah dipadamkan. Pintu sudah dikunci. Api kompor sudah diperiksa. Dan ayam jantan belum berkokok.

Ada yang kurang. Apa yang kurang? Belum ada dongeng.

“Ayah, mendongeng. Kan itu wajib.” Kata Kucing Minca Mincu.

“Oia, kenapa Ayah bisa lupa. Jadi hari ini dongeng apa?” Kata Ayah Gendut.

“Mendongeng apa saja. Terserah Ayah.” Kata Kucing Minca Mincu.

“Ayah bingung.” Kata Ayah Gendut.

“Aku juga bingung.” Kata Kucing Minca Mincu.

“Hm...” Kata Ibun.

“ahak...ahak..ahak..” Kata Aa Fati sambil menggigit tali pengikat ujung guling, lalu menggigit baju tidur Ibun, lalu menggigit jempolnya sendiri, lalu menggigit telunjungnya sendiri. Tidak sakit, sebab dia masih berumur nol tahun. Belum ada giginya.

“Aku mau mendongeng tentang dongeng.” Kata Ayah Gendut setelah mendapat ide dari kamar mandi. Kucing Minca Mincu girang, dia tersenyum, giginya yang keropos karena banyak makan permen jadi terlihat. “Pada suatu hari...” Lanjut Ayah Gendut.

“Ada seorang tukang kupat tahu, Ayah!” Potong Kucing Minca Mincu.

“Ada seorang tukang kupat tahu yang berjualan kupat tahu dan berasal dari India. Dia berjualan kupat tahu memakai roda. Berjalan dari satu kota ke kota lainnya. Di dalam rodanya, tersimpan sebuah tas rahasia berisi...” Ayah Gendut berpikir. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, enam detik.

“Berisi buku, Ayah?” Tanya Kucing Minca Mincu.

“Iya. Berisi buku-buku dongeng. Ada buku dongeng peri yang sakit gigi, ada buku dongeng paman petani yang memiliki sepatu semilyar pasang, ada buku dongeng teko yang tak pernah diisi air dan banyak lagi.” Ayah Gendut minum dulu.

“Ayah, aku mau.” Kucing Minca Mincu juga mau minum. Ayah gendut menyodorkan tempat minum yang terbuat dari bambu kepada Kucing Minca Mincu.

“Ayah, Kosong.” Katanya lagi.

“Ahahaha. Iya, maaf.” Lalu Ayah Gendut menuangkan air, agar Kucing Minca Mincu bisa minum.

Selesai minum, Ayah Gendut kembali bercerita.

“Disetiap kota yang disinggahi tukang kupat tahu, dia selalu mendongeng untuk anak-anak kecil di sana. Biasanya, ketika dia mendongeng, orang-orang akan mengerumuninya seperti semut mengerumuni garam...”

“Ayah! Gula!” Sela Kucing Minca Mincu.

“Seperti semut mengerumuni gula. Cerita yang didongengkannya begitu bagus dan selalu menarik perhatian.”

“Ayah, perhatian itu apa?” Tanya Kucing Minca Mincu.

“Perhatian itu pengumuman.” Jawab Ayah Gendut.

“Seperti yang ada di sekolah?”

“Di sekolahmu ada pengumuman? Pengumuman apa?” Ayah Gendut balik bertanya.

“Tidak boleh pipis sembarangan!” Jawab Kucing Minca Mincu. Ibun menoleh ke arah Ayah Gendut dan tersenyum penuh makna.

“Ahahaha...” Ayah Gendut tertawa penuh makna juga.

“Di satu kota, kota yang begitu istimewa di tenggara tempat matahari terbenam , tukang kupat tahu pada suatu ketika sampai di sana. Dia, seperti biasa, menyiapkan ketupat, tahu, taoge, sambal kacang dan dongeng yang masih begitu baru.”

“Ketupat itu apa, Ayah? Kupat?” Sela Kucing Minca Mincu.

“Iya.” Jawab Ayah Gendut singkat, padat dan jelas.

“Ayah, cecak kapan tidurnya?” Tanya Kucing Minca Mincu ketika melihat seekor cecak merayap di dinding dengan diam-diam karena datang seekor nyamuk.

“Begitu sungguh-sungguh dia menyiapkan semua yang dia butuhkan untuk esok hari yang penuh kupat tahu dan dongeng, akhirnya tukang kupat tahu itupun tertidur sambil berdiri di atas satu kaki.” Lanjut Ayah Gendut.

“Hap...” Cecak itu menangkap nyamuk, Kucing Minca Mincu dengan sigap memberikan suara latar pada kejadian tersebut.

“Ketika tukang kupat tahu terbangun tas yang berisi buku-buku dongeng sudah tidak ada lagi di tempatnya.”

“Kemana Ayah?”

“Pipis dulu.” Ayah Gendut bangkit dan berjalan menuju kakus. Lalu kembali dalam keadaan yang utuh.

“Ayah, tas yang ada bukunya kemana?” Tanya Kucing Minca Mincu penasaran.

“Tasnya masih ada, ternyata tukang kupat tahu lupa bahwa tas yang berisi buku-buku dongeng itu dia gendong.”

“Warnanya merah, Ayah. Kugendong tas merahku...di pundak...” Kucing Minca Mincu bernyanyi.

“Iya, warnanya merah.” Ayah Gendut menggaruk perutnya yang terbuka, mencoba berpikir atau berkhayal atau melamun. “Setelah tukang kupat tahu sadar tasnya ada di punggungnya, segera dia berteriak agar seluruh penduduk kota menghampirinya dan membeli kupat tahu dagangannya.”

“Mijon...mijon...akua...akua...akua...” Teriak Kucing Minca Mincu menirukan penjual air minum dalam kemasan yang ditemuinya di stasiun keteta api beberapa hari yang lalu.

“sstttt...” Kata Ibun. Maksudnya tidak boleh terlalu berisik, sebab Aa Fati sudah tidur. Matanya tertutup, napasnya teratur.

“Sudah tidur, Bun? Tanya Ayah Gendut.

“Belum. Ini masih bisa jawab” Jawab Ibun singkat, padat dan jelas.

“Maksud Ayah Aa Fati apa sudah tidur.”

“Sudah, itu dia tidak jawab.”

“Ayah...”

“Belum, Ayah belum tidur.” Kata Ayah Gendut ketika mendengar Kucing Minca Mincu memanggil halus.

“Seluruh penduduk kota mengampiri roda tukang kupat tahu dari India yang berteriak-teriak. Termasuk Hansip dan Wa Oding penjaga gerbang sekolah.”

“Ahahahaha...” Kucing Minca Mincu Tertawa. “Termasuk Bu Erna dan Bu Sisil.” Lanjutnya.

“Secepat cahaya, tukang kupat tahu mengeluarkan satu buku dongeng dari tas merahnya yang ada di punggungnya. Satu buku dongeng yang baru saja ditulis olehnya beberapa minggu yang lalu di bawah pohon kers di kota lain yang dia singgahi. Dia membuka halaman pertama, semua yang melihatnya begitu terpesona. Tukang kupat tahu menyimpan bukunya di atas hambalan pada rodanya. Dia bersiap untuk membaca sambil menggoreng tahu dan memotong-motong ketupat.”

“Kupat ya, Ayah?”

“Iya. Kemana?”

“Ke dapur. Ambil perkedel.”Ibun bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju dapur.

“Ketika tukang kupat tahu mulai mendongeng, bercerita mengenai seorang anak kecil yang begitu menggemaskan dan bergigi keropos dan berambut lembut, seorang anak kecil dari arah belakang bertanya, ‘itu aku?’ tanyanya. Hah! Itu kamu! Inilah anak yang aku ceritakan tadi, anak manis berambut lurus dan lembut dan bergigi keropos. Anak kecil yang akan membuatkan semua orang kupat tahu terlezat di dunia.”

“Ayah, anak kecil itu siapa namanya?” Tanya Kucing Minca Mincu.

“Aku mau.” Kata Ayah Gendut ketika melihat Ibun membawa sepiring kecil perkedel. “Namanya Nyanya.” Jawab Ayah Gendut. Ibun menaruk piring kecil berisi perkedel.

“Ayah, orang-orang makan kupat tahu? Kenapa Ayah makan perkedel?” Tanya Kucing Minca Mincu. Matanya sudah sayu, harus lekas tidur.

“Karena sudah malam, tidak ada tukang kupat tahu. Semua sudah tidur, seperti juga Aa Fati”

“Aku mau tidur. Ayah tidak boleh berisik.” Kata Kucing Minca Mincu.

“Ayah usahakan ya.” Ayah Gendut lalu mengecup dahi Kucing Minca Mincu, melirik Ibun yang tersenyum.

“Ayah, India itu di mana?”

“Jauh. Harus naik awan kalau mau ke sana.” Kucing Minca Mincu sudah tidur.

  • view 20