Catatan Kecil untuk Kartini

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Agustus 2017
Catatan Kecil untuk Kartini

Saya baru saja membaca catatan dari Kartini F Astuti. Kawan saya yang begitu baik, penulis yang begitu berbakat. Belakangan saya begitu jarang menulis, apalagi membaca, sehingga ketika saya membaca tulisan Kartini, saya merasa begitu ada yang mengganjal dalam dada dan kepala saya. Awalnya saya ingin ikut juga mengomentari tulisannya pada kolom komentar di Facebook, tapi saya khawatir akan begitu panjang dan tidak tertata, sehingga saya membuatnya di sini. Hai Kartini, Apa Kabar?
Judul tulisan Kartini di laman Facebooknya diberi judul “Baper yang Tak Pantas”, tulisan yang dilengkapi oleh animasi dari akun instagram tertentu itu saya baca hingga usai. Bahkan saya copy dan simpan di lap top untuk benar-benar saya pelajari. Saya yakin, tulisan tersebut pastilah berangkat dari kegelisahan yang dialami atau yang terjadi di lingkungan tempatnya berada. Tulisan yang tidak hanya asal menyusun kata-kata saja. Saya percaya pada gaya menulis Kartini yang begitu khas.

Kartini mengawali tulisan tersebut dengan sebuah pertanyaan atas sebuah pernyataan seperti ini :

Belakangan kita sering disuguhi konten baper seperti ini: "Suatu hari nanti, akan ada lelaki yang menjagamu dari siapa pun dan apa pun yang menyakitimu."
Yang menjadi pertanyaan adalah, “Emang kemarin Allah kemana?”

Pernyataan yang pada akhirnya mengawali pertanyaan Kartini juga terdapat pada gambar yang melengkapi tulisannya di Facebook. Saya tidak memiliki akun Instagram dan tidak mencari tahu mengenai akun Instagram diaryhalal, tempat asal gambar dengan tulisan pernyataan tersebut di atas, tapi saya menangkap sesuatu yang berbeda dari Kartini, termasuk pertanyaan yang mengikutinya.

Kartini yang baik, Allah tidak kemana-mana. Allah ada. Allah ada pada cangkir kopi yang disediakan istri saya setiap pagi, Allah ada pada suami yang dibakar hidup-hidup tak jauh dari mushola, Allah ada pada benteng-benteng tinggi yang merantai Palestina, Allah ada pada hunian baru bernama Asgardia. Allah ada pada banyak hal. Yang baik maupun yang buruk, yang pernah terjadi. Apakah kita tidak melihat Allah pada kehidupan kita sehari-hari? Pada suap nasi, pada teguk air, pada alir parit, pada tangguh pohon dan lain hal sebagainya. Dia menjaga kita setiap saat, tidal lolos sehela napas pun. Dia menjaga kita melalui keringat orang tua yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, melalui air susu seorang ibu, melalui susu formula di toko-toko kapitalis, melalui arit petani entah dimana, melalui supir mobil bak terbuka yang suka minum tuak, melalui pedagang beras yang tetap merokok di siang hari padahal bulan puasa dan seterusnya. Dan seterusnya. Allah menjaga kita melalui apapun yang dikehendakinya. Jikapun pernyataan yang kamu pertanyakan diatas kamu klasifikasikan sebagai sebuah manifestasi tersembunyi dari gelagat menduakan Allah, saya rasa tidak seperti itu. Memang pada akhirnya akan kembali kepada pemahaman masing-masing. Apa yang saya tangkap dari pernyataan tersebut dan apa yang kamu tangkap dari pernyataan tersebut serta apa yang orang lain dari pernyataan tersebut. Suami, istri, anak, tetangga, orang tua atau orang-orang di sekitar kita adalah perpanjangan tuhan di bumi. Teknis yang kesemuanya adalah terserah Dia. Seseorang bisa lahir dari rahim Si A dan diasuh oleh Si B. Si A dan Si B adalah Allah yang menjaga seseorang tadi juga. Tujuan menikah agar ada yang melindungi, agar ada tempat berbagi atau untuk mendapat keturunan itu wajar. Sama seperti bekerja agar akhir bulan dapat upah, bisa menghidupi diri. Berserah diri itu perihal hati yang begitu dalam dan tersembunyi, perihal ikhtiar itu perihal sesuatu yang wujud dan gerak.

Lalu ada hal yang menggelitik saya, mungkin saya sedang kacow otaknya sehingga terbersit begitu saja. Hal yang saya maksud adalah kalimat ini :

Sering saya lihat di linimasa instagram, kemesraan suami istri diumbar-umbar, bikin saya geregetan sekaligus ngiler. Hehe.

Kar, saya justru kebalikannya. Saya lebih setuju kemesraan dipertontonkan (dalam batas tertentu jika mau) dari pada mempertontonkan kekerasan dalam rumah tangga. Saya juga heran dengan televisi kita. Adegan bermesraan selalu disensor, sementara adegan berkelahi atau bully selalu dipertontonkan.

Menikah merupakan pengalaman, merupakan sesuatu perjalanan yang unik, hal yang begitu khas. Sehingga, siapapun tak bisa membuat pola dan formula dari perjalanan yang disebut pernikahan. Pernikahan seperti hidup ini sendiri, seperti perjalanan yang menyajikan pemandangan yang begitu gelap. Kita sama sekali tak tahu apa yang akan kita pijak esok hari atau lusa nanti. Sehingga, juga sama seperti hidup, pada akhirnya adalah perbekalan yang akan kita andalkan dalam perjalanan. Kita sama sekali tidak bisa menebak kapan kita butuh roti dan susu untuk mengganjal perut, tapi jika roti dan susu sudah ada di kantong perbekalan kita, maka setidaktahu apapun kita pada kapan kita akan lapar, kita akan berjalan dengan perhitungan yang boleh dikatakan percaya diri. Hal ini tentu bertolak belakang dengan kalimatmu yang ini :

Kita barangkali tidak pernah memikirkan ini. Ketika setiap orang butuh pasangan sebagai pelindung, pasangan yang mereka dapatkan nanti juga akan mengharapkan pelindung.
Bisa ditebak bahwa sampai hari tua nanti mereka akan sama-sama menuntut untuk dilindungi. Bukankah setiap pasangan Allah perintahkan buat saling melindungi?

Pada percakapanmu dengan saudaramu yang ukhti itu, Kar, saya beberapa kali mengerutkan dahi. Benar-benar tak bisa paham pada percakapan antara kamu dan ukti itu. Misalnya seperti ini :

Saya pernah bertanya kepada saudara saya, “Ukhti, apa yang bikin kamu pengen cepat-cepat nikah?”
Dia bilang, “Daripada pacaran kan? Lumutan sama dosa nanti.”
“Iya sih kalau bandingannya pacaran. Tapi kalau bandingannya bersyiar?”

Dalam percakapan itu, kamu sedang berusaha mematahkan usaha seseorang untuk menikah dari pada berdiskusi. Ukhti-mu itu sudah menjawab dengan tegas dan lugas, tapi lalu kamu pancing lagi dengan pertanyaan yang menurut saya apple to cangkudu. Ukhti-mu sudah membandingkan menikah dengan pacaran, sesuatu yang –pada satu konteks tertentu- adalah bertolak belakang, lalu kamu membandingkannya pada syiar yang sejalan dengan pernikahan. Bersyiar, sendiri, sambil menikah, bersama komunitas, berorganisasi, berpolitik dan lainnya lagi sama sekali tidak akan berbenturan dengan pernikahan. Saya membaca, dalam percakapan itu kamu sedang ingin mendapat jawaban yang kamu mau. Pandangan ini didukung oleh percakapan selanjutnya :

“Berjamaah dalam salat aja lebih baik daripada sendirian. Menikah itu lebih banyak pahalanya. Kita bisa bersyiar sama-sama bareng suami.”
“Ukhti memang tidak merasakan bahwa kita, aku dan kamu, sedang berjamaah di luar salat? Kita sebagai sesama muslim meskipun bukan muhrim kan harus membangun ukhuwah.”

Selanjutnya, pada percakapan kamu dengan ukhti-mu itu, kamu giring dan kamu kuasai sendiri dengan narasi-narasi yang mengalir penuh tendensi.

Hai, Kar. Saya sebetulnya sedang tidak ingin menulis, tapi tulisanmu membuatku menulis. Terima kasih. Saya begitu ingin menulis ketika pada satu bagian kamu menyitir ayat al qur’an.

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk ibadah,” kata Allah begitu kan? Bunyinya bukan begini, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menikah.”

Saya bertanya, kenapa tidak “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” yang kamu pakai untuk memaklumi orang yang berikhtiar mendekatkan jodoh kepada dirinya dengan bersosialisasi.

Saya senang, Kar. Paling tidak dengan membaca membuat saya menulis lagi. Membiarkan istri dan anak-anak saya tidur terlebih dahulu dan membiarkan saya sendirian dihadapan lap top. Menikah atau tidak sama seperti shalat atau tidak. Keduanya ibadah. Niatnya yang sungguh berbeda, dan niat adanya di dalam hati. Bisa tergelincir begitu cepat dan bisa begitu teguh dan sangat kuat. Tak ada orang yang bisa menebak. Dan jikapun kita tak mampu melihat tuhan yang begitu banyak ini dikehidupan kita, paling tidak kita sudah yakin bahwa tuhan melihat kita.

Bapaer yang Tak Pantas
 
Bandung, 07 Agustus 2017
Agus Geisha.

  • view 80