Kelahiran Aa Fati

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 24 Juli 2017
Kucing Minca Mincu

Kucing Minca Mincu


Dongeng sebelum tidur

Kategori Fantasi

364 Creative Commons (CC) Atribusi
Kelahiran Aa Fati

Hari itu hari minggu, dan hari minggu semua tukang kue libur. Hanya ada tukang bubur dan tukang cakue. Jadi hari itu Ayah Gendut mengantar Ibun jalan-jalan di Taman Balon. Taman yang banyak balonnya dan anak-anak kecil seumur Kucing Minca Mincu yang bermain sepatu roda. Tapi hari minggu itu Kucing Minca Mincu belum punya sepatu roda, sebab sepatu roda mahal, jadi Ibun jalan-jalan sedangkan Ayah Gendut makan cilok dipinggir lapangan taman bersama Kucing minca Mincu.

Perut Ibun menggelembung sebab di dalamnya ada anak bayi yang belum lahir. Ibun berjalan mengelilingi taman. Mungkin dua atau tiga putaran, tubuhnya berkeringat.

“Ibun, sudah akan lahir?” Tanya Ayah Gendut kepada Ibun.

“Belum Ayah, yang sabar ya.” Kata Ibun sambil tersenyum dan melirik Cilok di tangan Ayah Gendut.

“Mau?” Tanya Ayah Gendut. Maksudnya menawarkan cilok ke Ibun.

“Mau, tapi disuapin sama Kucing Minca Mincu.” Kata Ibun sambil mencubit pipi Kucing Minca Mincu yang gembil.

Kucing Minca Mincu tertawa kecil.

“Ibun, kapan dede bayi lahir. Aku sudah tidak sabar ingin punya dede bayi.” Kata Kucing Minca Mincu.

“Kamu maunya kapan?” Tanya Ibun.

“Tanggal dua puluh.” Kata kucing Minca Mincu.

“Sekarang dong.”

Asyik, semua orang tertawa. Semua orang yang ada di Taman Balon tertawa, entah menertawakan apa sebab mereka sebenarnya tak bisa mendengar percakapan Ayah Gendut, Kucing Minca Mincu dan Ibun.

***

Malamnya, Ayah gendut terus-menerus bertanya pada Ibun mengenai kapan dede bayi akan lahir, dan Ibun terus-menerus menjawab dengan senyum yang manis seperti tebu yang kulitnya sudah berwarna kecokelatan.

Ayah Gendut, di ruang tengah rumah yang cat temboknya berwarna seperti tinja ayam sedang menyulam. Rokok kreteknya gemeretak. Ibun sedang mendongeng cerita untuk Kucing Minca Mincu di kamar tidur. Kucing Minca Mincu bersiap untuk tidur. Tidur agar bisa mimpi.

“Sudah tidur?” Tanya Ayah Gendut kepada Ibun ketika melihat Ibun keluar dari kamar. Yang ditanyakan sudah tidur oleh Ayah Gendut adalah Kucing Minca Mincu, bukan Ibun, sebab Ibun masih bisa berjalan dan keluar kamar.

“Sudah. Ayah, ayo ke klinik.” Kata Ibun sambil mengenakan baju hangat dan menyiapkan perbekalan kelahiran.

“Sudah mau?” Tanya Ayah Gendut girang. Dia melompat dan meniggalkan sulamanya yang belum selesai. Bahkan belum dimulai.

Ayah Gendut menyibukan dirinya, mempersiapkan diri.

“Ibun, dimana kunci mobil?” Tanya Ayah Gendut setengah berteriak.

“Ayah, kita kan tidak punya mobil.” Jawab Ibun sambil geleng-geleng kepala.

“Ahahahaha...Ayah lupa.” Ayah Gendut menepak dahinya tanda seperti orang baru ingat sesuatu. Ayah Gendut lalu meniti anak tangga satu persatu. Tangga yang ada di atas dapur yang ada kompor gasnya.

Secepat kilat, Ayah Gendut lalu menyalakan mesin helikopter.

Jeuj jeuj jeuj jeuj jeuj jeuj suara baling-baling helikopter berputar dengan keras. Ayah Gendut memakai helm pemberian Umie Pelangi. Umie Pelangi adalah ibu-ibu yang ada di samping rumah Ayah Gendut. Teman Ibun juga, jadi Ibun tidak Cemburu.

“Ibun, cepat naik.” Seru Ayah Gendut.

Ibun lalu naik ke helikopter. Perlengkapan sudah ada di dalamnya.

Helikopter terbang menuju klinik melahirkan.

“Bidan, tolong istri saya. Istri saya mau melahirkan.” Kata Ayah Gendut sesampainya di klinik.

“Maaf, pak. Ini warung nasi padang. Kliniknya ada di seberang.”

Ayah Gendut berlari menuju seberang.

“Maaf, apa ini klinik untuk melahirkan bayi manusia?” Tanya Ayah Gendut.

“Iya, pak. Tapi yang melahirkan itu perempuan, bukan laki-laki.” Kata perempuan yang ada di meja depan, yang giginya dipagari kawat.

“Oia, maksud saya, istri saya yang akan melahirkan. Tapi yang akan dia lahirkan juga anak saya.” Kata Ayah Gendut.

“Dimana istrinya, Pak. Dibawa ke ruang bidan, biar bisa diperiksa.” Perempuan itu bangkit dari duduknya hendak membantu Ayah Gendut.

Mereka berdua menuju helikopter tempat Ibun harus berada.

“ibun, Ibun dimana? Ibun?” Ibun tak ada di dalam helikopter. Ayah Gendut panik, Ibun tak ada di Helikopter.

“Pak, Istrinya pakai baju apa?” Tanya perempuan yang tadi ada di meja depan klinik tapi sekarang ada di dekat helikopter kepada Ayah Gendut.

“Hello Kitty.” Jawab Ayah Gendut.

“Ouw, sudah ada di ruang bidan, pak. Tadi masuk sendiri.”

“Oh, mungkin dia masuk waktu saya tadi ke rumah makan padang. Ya tuhan, kenapa dia tega.” Ayah Gendut lalu menuju ruang bidan, perempuan yang giginya berpagar kembali duduk di belakang meja di bagian depan klinik.

Ayah Gendut mengetuk pintu ruang bidan beberapa kali sambil berkata “punten” yang berarti “permisi” atau “excuse me”.

“Hai Ibun, hai bu bidan. Kenalkan, saya suami perempuan itu.” Kata Ayah Gendut sambil menunjuk Ibun yang sedang berbaring di dipan periksa. Bu bidan tertawa, padahal tidak ada yang sedang melucu. “Bu bidan, saya boleh diperiksa seperti istri saya? Sepertinya dipannya nyaman.” Bu bidan tertawa lagi.

Bu bidan bilang, Ibun bisa menunggu di kamar tunggu sampai waktu melahirkan tiba, tapi tidak boleh tidur. Kamar tunggu sudah disiapkan, termasuk televisi dan air hangat dalam termos.

“Ayah, Ibun lapar.” Kata Ibun ketika memasuki kamar tunggu.

“Ibun mau makan apa?” Tanya Ayah Gendut.

“Biskuit sama susu, Ayah. Susunya yang warna cokelat ya.” Jawab Ibun.

Tak lama, Ayah gendut kembali membawa pesanan Ibun. Biskuit, susu cokelat, nasi timbel, batagor, cuankie dan es kelapa muda. Dan sebotol sirup tjampolai.

Lewat tengah malam, Ibun mulas. Bukan ingin buang hajat, tapi ingin melahirkan. Ayah Gendut memapahnya menuju kamar bersalin, Ayah Gendut terlihat seperti pahlawan. Sesampainya di kamar bersalin, Ayah Gendut memanggil ibu bidan.

“Bu bidan, mohon maaf. Bu bidan mau kupat tahu? Saya punya kupat tahu.”

“Hah?” Bu bidan bingung.

“Maksud saya, saya minta tolong, istri saya mau melahirkan, sekarang ada di kamar bersalin, dia sendirian.”

Bu bidan lalu setengah berlari menuju kamar bersalin, memanggil kawannya yang juga sama seperti dia. Bidan.

Di dalam kamar bersalin, lampu terang. Ayah Gendut berada di samping Ibun yang sedang berusaha melahirkan dede bayi.

“Ayo, bu. Tarik nafas.” Kata bu bidan. Ibun menarik tangan Ayah Gendut. “Keluarkan, bu.” Lanjut bu bidan.” Ibun kentut.

Mungkin hanya beberapa menit kejadiannya, sebab setelah itu terdengar suara tangis anak bayi baru lahir begitu keras. Matanya tipis, rambutnya seperti rambut jagung. Kakinya meronta-ronta. Ayah Gendut mencium kening Ibun dan mengucapkan terima kasih, mata keduanya berkaca-kaca seperti ingin menangis. Bayi laki-laki itu, lalu diletakkan telungkup di atas perut Ibun oleh bu bidan. Dia menjilat-jilat keringat Ibun. Ibun tersenyum.

“Ayah...”

“Iya, Ibun...”

“Kupat tahu masih ada?” Kata Ibun sambil tersenyum sebab lapar.

Ibu bidan meninggalkan kamar bersalin.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Fiksi Agus Geisha paling menonjol berkat kekonyolan dan kelucuannya. Momen mendebarkan menantikan anak yang biasanya dialami oleh orang tua atau calon orang tua di cerita ini justru dibuat menjadi kisah yang sangat asyik dan menggelikan. Menghibur sekali membaca karya ini.

    Sesungguhnya bukan perkara mudah bisa menulis fiksi yang mampu mengocok perut seperti ulah keluarga Ayah Gendut ini tetapi Agus mampu melakukannya secara mulus. Berkisah ketidaksabaran Ayah Gendut menantikan kelahiran anaknya, kelakar pun ia lontarkan, bahkan saat sang istri hendak melahirkan sekali pun. Sang Ibun juga tak kalah lucunya, hingga membuat sang bidan tak habis pikir atas pasangan suami istri ini. Kami butuh lebih banyak cerita konyol seperti ini, Agus.

  • Anis 
    Anis 
    3 bulan yang lalu.
    Paaak..
    saya bacanya pengen ngelap keringat