Cincahabab

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 18 Juli 2017
Kucing Minca Mincu

Kucing Minca Mincu


Dongeng sebelum tidur

Kategori Fantasi

109 Creative Commons (CC) Atribusi
Cincahabab

Ketika aku kecil, ketika umurku belum sepuluh, Ayah Gendut pernah membuatkan rumah-rumahan untukku. Rumah-rumahan itu terbuat dari tahu. Tahu yang kami beli dari paman penjual tahu berkumis tebal. Paman itu saban sore melewati jalan depan rumah kami yang penuh lubang dengan sepeda kumbangnya. Paman penjual tahu hanya memiliki satu kemeja dan celana panjang, aku menarik kesimpulan seperti itu karena setiap sore, setiap dia melintasi jalan depan rumahku, pakaiannya selalu sama. Celana panjang terbuat dari kain yang mungkin terlalu kasar untuk dijadikan celana, dan kemeja lengan panjang dengan garis-garis berwarna kuning sebagai coraknya. Dia memakai alas kaki berupa sandal yang terbuat dari karet.

Suatu ketika, saat sore datang seperti biasa dan paman tukang tahu melewati jalan depan rumah kami, Ayah Gendut memanggilnya. Dari dalam kamar, aku mengintip. Ayah Gendut membeli tahu. Hanya satu. Padahal, biasanya pembeli membeli tahu tidak dengan hitungan satu atau dua, melainkan dengan hitungan uang. Lima ribu atau sepuluh ribu. Tapi Ayah Gendut hanya membeli tahu satu saja. Ayah Gendut memberikan uang selembar lima ribu pada paman penjual tahu. Ayah Gendut bilang sisa uangnya bisa paman penjual tahu ambil. Ayah Gendutku baik sekali. Kupikir.

Ayah Gendut membawa tahu itu ke dalam rumah. Aku masih di dalam kamarku ketika dari ruang tengah Ayah Gendut memanggilku.

“Kucing Minca Mincu...” Panggilnya.

Aku bergegas menuju ruang tengah. Tempat suara itu memanggil.

“Lihat, aku punya apa?” Tanyanya. Matanya begitu gembira dan berkilau.

“Tahu.” Jawabku.

“Aku mau membuat sesuatu.” Lanjutnya.

“Gehu?” Aku menyelidik.

“Rumah.” Tegasnya.

“Rumah?” Tanyaku.

“Iya. Rumah.” Sekali lagi Ayah Gendut menegaskan.

Lalu dia beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan menuju dapur. Tak lama kemudia Ayah Gendut kembali dengan berbagai macam perkakas. Gergaji, palu, paku, kapak dan tepung.

Tepung? Tepung di antara perkakas? Tepung itu berwarna putih seperti tepung yang lain.

Ayah Gendut lalu mengajak aku menuju halaman rumah. Ibun dan Aa Fati bermain ikut juga ke halaman rumah. Mungkin Ibun sebetulnya sudah tahu bahwa Ayah Gendut memiliki banyak keajaiban, sehingga Ibun tidak bermuka aneh ketika mengetahui bahwa Ayah Gendut akan membuat rumah dari tahu. Dari tahu yang hanya satu.

Aku melihatnya sambil berdiri di teras rumah. Ayah gendut menggergaji tahu, dahinya berkeringat. Tahu itu seperti begitu keras sehingga memerlukan banyak tenaga untuk memotongnya. Bahkan dengan gergaji. Gigi tajam gergaji itu sedikit demi sedikit memecah tahu menjadi beberapa bagian. Aku menghitungnya. Menjadi empat bagian yang hampir sama besar. Ketika Ayah Gendut melintas di depanku dan menghalangi pandanganku dari tahu tadi, begitu tahu itu terlihat lagi karena Ayah Gendut bergeser, ukurannya sudah menjadi besar. Bagaimana mungkin? Aku terperangah, menutup mulutku. Ayah Gendut menoleh sambil tersenyum padaku. Aku menoleh pada Ibun, Ibun tersenyum. Aa Fati tertawa.

Empat bagian tahu yang sudah menjadi begitu besar itu, lalu digergaji lagi menjadi beberapa bagian. Di potong sedemikian rupa. Aku menghampirinya. Aku meraba tahu itu. Lembek. Ayah Gendut mematahkan sedikit bagian tahu, pada satu sudutnya, lalu memberikannya padaku.

“Mau Tahu?”

Aku menggapainya, lalu memasukan tahu itu ke dalam mulut. Aku mengunyahnya.

Ini tahu. Gumamku dalam hati.

Beberapa saat setelah itu, tanpa sadar aku sudah berhadapan dengan satu bangunan kecil berbentuk kotak dengan panjang setiap sisinya sekira sedepa. Atasnya bolong, tapi semua sisinya tertutup. Tahu.

Ayah Gendut berlari ke dalam rumah, aku tak tahu apa yang akan diperbuatnya. Dia keluar lagi dengan pisau yang biasa dipakai Ibun untuk memotong sayuran ada di genggamannya. Ayah Gendut berlutut di salah satu sisi kotak itu, lalu mengerat kotak itu. Ayah Gendut sedang membuat pintu dan jendela. Aku memerhatikannya, ikut berlutut. Rapi sekali.

“Apa aku bisa tinggal di dalamnya?” Tanyaku.

“Tentu. Ini sengaja aku buat untukmu.” Ayah Gendut tersenyum.

Aku menoleh pada Ibun. Aku tersenyum. Aa Fati tertawa.

Aku kini tak perlu kaget lagi, meskipun begitu aku menoleh, kotak itu sudah berbentuk rumah. Atapnya juga dari tahu. Kata Ayah Gendut, rumah ini sudah hampir selesai dikerjakannya. Hanya tinggal beberapa bagian saja. Ayah mengeluarkan beberapa paku dan palu. Lalu memaku beberapa bagian rumah. Suaranya begitu sama dengan jika besi beradu dengan besi. Palu dengan paku.

“Semuanya sudah selesai.” Kata Ayah Gendut.

“Kuning?” Tanyaku. Karena tahu memang berwarna kuning.

“Oia. Aku lupa. Kita harus membuatnya cantik dengan warna.” Lalu Ayah Gendut mengambil tepung yang entah apa nama tepung itu.

“Ambil segenggam.” Katanya.

Aku mengambil segenggam tepung dari tempatnya dengan tangan kananku.

“Taburkan di atas rumah tahu.” Pintanya.

Aku menaburkan tepung itu ke atas rumah tahu. Lalu atapnya menjadi berwarna, temboknya menjadi berwarna. Indah sekali.

“Apa aku boleh memberi nama pada rumah baruku, Ayah Gendut?” Tanyaku.

“Tentu. Ini rumahmu.” Jawabnya.

“Cincahabab. Rumah ini namanya Cincahabab.”

Ayah Gendut tersenyum, Ibun tersenyum, Aa Fati tersenyum. Aku tertawa begitu riang.

“Rumah baru! Cincahabab!” Seruku keras sekali. Mungkin tetangga ikut mendengar.

Ayah Gendut lalu memindahkan Cincahabab ke dalam kamarku, menempatkannya di salah satu sudut. Dekat dengan meja tempatku membaca buku.

Malam itu, aku tidur bersama Cincahabab.

Dilihat 30