Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 14 Juli 2017   08:44 WIB
Mengenai Ide dan Apa Yang Bisa Kita Harapkan dari Iklan Indoeskrim...

Saya sebetulnya sedang tak ingin banyak bersuara mengenai isu-isu yang belakangan berkembang di masyarakat kita. video Afi Nihaya atau penganiayaan yang terjadi pada Hermansyah. Dari mana munculnya nyali Tsamara di depan Fahri Hamzah atau bom panci di buah batu yang dimiliki oleh lelaki yang bernama depan sama dengan saya. Pertemuan G20 yang disambut api yang menyala dari para demonstran atau ramainya perbincangan pernikahan yang bahkan baru saja dilaksanakan seolah pernikahan impian. Tapi, pada akhirnya saya menulis juga mengenai video iklan indoeskrim yang menyita perhatian masyarakat kita belakangan ini.

Beberapa hari yang lalu, kawan saya Shanti Agustine membagikan satu video pada laman Facebook-nya. Video tersebut menampilkan adegan pertarungan kolosal lengkap dengan pakaian kerajaan dan lokasi pertarungan di tengah hutan. Saya melihat video tersebut karena kawan saya itu memberi caption pada video tersebut dengan sesuatu yang membuat penasaran. “Jaman kerajaan sudah ada smartphone” katanya kurang lebih seperti itu. Saya lalu menyimak video yang durasinya tak lama itu. dan tentu kesan pertama bagi saya adalah menyayangkan pembuatan video tersebut. Sangat menyayangkan biaya yang harus keluar untuk membuat video tersebut, terutama sebab saya berpikir video tersebut adalah cuplikan sinema elektronik atau sinetron. Memang, sinetron semacam yang dibagikan Shanti sudah terlalu banyak menghiasi layar kaca kita beberapa tahun yang lalu, sebuah surat kabar bahkan menyatakan sinema elektronik semacam itu sempat begitu menjamur pada era 90-an atau lebih.

Saya mendiskusikannya dengan kawan saya di kantor dengan tidak begitu serius, seorang desain grafis lulusan Itenas. Saya membayangkan ada satu production house memproduksi sinema semacam itu, membodohi masyarakat dengan tontonan yang entah maksudnya apa. Menggabungkan jama kerajaan dengan hal-hal kekinian, masih menggunakan mekanisme dubbing untuk audionya dan tentu dialog yang begitu berlebihan. Saya membayangkan rapat brainstorming yang begitu absurd ketika konsep sinema ini akan dikerjakan. Ide-ide aneh dan otoriter sepertinya muncul dari orang-orang yang tak paham estetika tapi memiliki kuasa, maka jadilah sinema semacam ini.

Ternyata, sehari setelahnya video tersebut menjadi perbincangan di lini masa Facebook dan twitter. Masuk 9gag, disebutkan sebagai buatan Malaysia dan berita lainnya. Saya baru mengetahui bahwa video tersebut adalah video iklan untuk sebuah produk es krim lokal. Iklan yang khusus dibuat untuk ditampilkan pada jaringan internet. Versi utuhnya bahkan bisa disaksikan tidak hanya di kanal youtube perusahaan pemesan iklan tersebut saja, beberapa akun youtube lain sudah membagikannya di akun masing-masing guna mendulang viewer. Iklan tersebut, bagi saya masih terasa norak, hingga saat saya mengetahui bahwa sutradaranya adalah Dimas Djayadiningrat. Salah satu sutradara terbaik yang kita miliki saat ini. Saya lalu mencari beberapa keterangan dan berita menganai hal tersebut. Mengenai alasan dan proses pembuatan iklan tersebut. Ini penting bagi saya karena dalam menilai sesuatu, pada akhirnya kita mesti paham pangkal berangkatnya sesuatu tersebut.

Ketika Djay, sapaan akrab Dimas Djayadiningrat ditawari pembuatan iklan untuk Indoeskrim melalui vendor promosi perusahaan tersebut, Djay disuguhkan konsep keluarga modern. Kakak-adik yang berebut es krim persis seperti yang sekarang kita bisa saksikan dan tertawakan pada video yang dibuatnya. Hanya saja, Djay menawarkan ide lain, atau ide tambahan untuk konsep awal tersebut. Djay berpikir, untuk membawa sesuatu yang “koplak” ke dalam iklan tersebut. Dan yang dilakukan Djay tak tanggung-tanggung, dia menggarap iklan tersebut begitu serius. Ke”koplak”an yang ditampilkan begitu terasa. Telepon seluler lengkap dengan aplikasi GPS berpadu dengan case khas kerajaan yang terlihat pada ukiran dan warna emas yang begitu menonjol. Freezer es krim serta galon air mineral yang dipadukan dengan hal-hal yang serupa case pada telepon seluler tadi. Gaya bicara yang berlebihan, visual effect yang begitu kasar, burung elang/rajawali raksasa yang terlihat lebih mirip burung pipit, serta para cast yang tak asing bagi masyarakat sebagai para pemain sinema “begituan”.

Saya kembali berdiskui dengan kawan kantor saya yang meja kerjanya berada tepat di samping meja kerja saya. Bahwa satu produk, hasil dan atau tampilan akhir akan menerima penilaian dan apresiasi –baik atau buruk- juga bergantung kepada siapa yang mengantarkannya. Delivered. Meski bukan satu-satunya faktor penentu penilaian, tapi siapa yang mengantarkan ide juga perlu diperhitungkan. Bahkan sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal kecil seperti banyolan. Saya, atau juga mungkin kawan-kawan mungkin pernah mengalami hal yang saya sering alami. Ikut tertawa terhadap banyolan yang sebetulnya sudah tidak lagi lucu dan begitu sudah sering kita dengar, hanya saja dalam satu kesempatan cerita-cerita lawak tersebut disampaikan oleh pimpinan kita, orang yang kita hormati atau makhluk semacamnya. Katakanlah tawa kita itu, pada saat tersebut merupakan basa-basi. Dulu sekali, saya memiliki metode tersendiri guna mengenali seseorang terutama tokoh. Saya sering membaca tulisan-tulisan lamanya lewat buku-buku lama. Saya memiliki akses yang begitu luas dalam hal ini. Selain saya bisa keluar masuk gudang buku perusahaan saya dengna leluasa, saya juga memiliki beberapa kawan yang berjualan buku-buku lama.

Ide memang beterbangan seperti udara, dia menghinggapi siapa saja yang bisa menangkapnya. Hanya saja, memang tak semua orang ditakdirkan untuk selalu mengeksekusi ide yang hinggap padanya. Tak semua orang merasa harus menindaklanjuti ide. Ide yang sama bisa saja menghigapi lebih dari satu orang, saya sering merasa kecolongan ide bahkan ketika ide tersebut belum pernah saya sampaikan pada siapapun atau ide yang dituangkan oleh orang lain pada rentang waktu yang lain. Hal ini juga membuktikan sekali lagi pada kita tak ada yang benar-benar baru di bawah siraman cahaya mentari. Semuanya berulang meski tak benar-benar sama seperti air yang kita pijak di sungai yang mengalir. Dan ini bisa kita pahami dalam kasus-kasus dugaan plagiarisme seperti yang menimpa Sapardi Joko Damono yang dianggap menjiplak tulisan Kahlil Gibran.

Saya tak pernah benar-benar menilai makanan yang saya makan. “Gehu” siapa yang lebih enak, apakah yang dibuat oleh ibu dengan celemek warna biru yang selalu menempel selama dia berjualan atau yang dibuat oleh bapak berkumis tebal yang warnanya sudah sebagian putih. Saya hanya akan menganggapnya sebagai “gehu” saja. Hasil akhir kadang sama bagi saya, tapi kadang saya selalu melihat –seandainya terlihat- apa yang ada di belakangnya. Kita tentu bisa membeli keripik di mana saja dan kapan saja, tapi kita kadang mengambil keputusan untuk membeli keripik ketika melihat pak tua yang berjualan keripik. Atau kita masih memiliki banyak simpanan amplop di rumah, tapi tanpa banyak pikir kita bisa membeli amplop lain kepada penjualan yang kita lihat di pasar hanya karena kita mencoba menebak untuk apa si penjual berjualan. Agar tak mengemis, misalkan.

Ketika saya mengetahui bahwa sutradara iklan yang saya bahas lebih dulu di atas, apresiasi saya tentu menjadi beda, apresiasi yang tentu juga didukung oleh informasi-informasi lain. Katakanlah seandainya sutradara iklan es krim tersebut adalah “who the fuck are you?” dan lagi tak ada informasi-informasi mengenai alasan dan mula video tersebut dibuat, maka penilaian yang saat ini didapat oleh Djay akan begitu berbeda. Meski viral-nya mungkin akan sama.

Omong-omong, kita memang membutuhkan lebih banyak hal “tidak penting” seperti yang ditampilan oleh Djay. Humor yang begitu untiversal dan bisa dinikmati oleh siapapun. Ditertawakan baik oleh bani serbet maupun oleh kaum bumi datar, sayap kiri maupun sayap kanan, garis lurus maupun garis putus-putus, ekstrimis surga maupun ekstrimis neraka. Paling tidak hal-hal semacam ini akan menetralisir fokus atau memecah konsentrasi. Mudah-mudahan dengan begini kita menjadi memiliki hal untuk diperjuangkan bersama sebagai ganti musuh bersama.

Karya : agus geisha