Cinta Kedua

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Juni 2017
Cinta Kedua

I

Perempuan itu, pada bagian lengan atasnya terlihat jelas daging menggelambir begitu rupa sehingga terkesan bengkak. Juga di perut dan pahanya. Bahkan ketika berbusana lengkap, kesemuanya terlihat jelas demikian rupa. Matanya cekung dan lingkaran mengihatam mengelilingi agak samar  sepertinya memang karena kurang tidur. Anaknya sudah dua. Keduanya masih butuh pengasuhan. Yang pertama baru tahun kedua di Taman Kanak-kanak, yang bungsu belum genap satu tahun. Masih menete pada dua susu yang tak lagi kencang.

 

II

Pagi itu, seperti biasa, aku terbangun dengan keadaan yang tak bisa disebut baik. Hampir jam tujuh dan aku belum mandi. Waktu tempuh dari rumah menuju tempat kerjaku bisa menghabiskan empat puluh menit bahkan lebih jika jalanan sedang ramai. Tak bisa ditebak. Aku bergegas mandi. Tak sarapan, bahkan ala kadarnya. Aku tak biasa. Secangkir kopi yang sudah mulai dingin aku minum tergesa, sebatang rokok yang baru terbakar separuh dan akupun meninggalkan istriku.

Perjalanan yang harus aku tempuh dari rumah menuju tempat kerjaku begitu runyam. Aku harus melewati jalan simpang empat yang silang sengkarut. Jika tak sedang sial, aku bisa melawatinya dengan cepat dan tanpa menyumpah. Tapi pagi ini bukan pagiku. Perempatan itu membuat sebuah mobil tua terjebak di tengah, di antara motor-motor kreditan yang bisa jadi belum lunas. Atau bahkan dalam masa tenggang pembayaran. Bunyi klakson berhamburan, dan umpatan tak bisa diredam. Aku masih mencoba tenang dengan kepul asap kretek dari mulutku. Satu atau dua orang berseragam hijau tak rapi mencoba mengatur jalanan. Mencoba mencari celah agar semua bisa terurai.

Aku melewatinya bersamaan dengan hisap terakhir rokokku. Tak sempat menyumpah pada seseorang. Tak juga pada orang-orang yang memakai seragam hijau yang sudah kumal itu. upah mereka dari kelurahan tak layak untuk pada akhirnya juga menerima kutuk dari pengguna jalan.

Belum. Aku belum sampau di tempat kerjaku. Aku harus juga melewati terminal bus antar kota yang hampir selalu ramai terlebih pagi hari. sebab pagi hari terminal berubah wujud menjadi terminal dan pasar. Paling tidak hingga hampir tengah hari. sebetulnya, jalanan di sini tak begitu membuat pusing seandainya saja yang menjadi masalah hanya pedagang, masalah justru datang dari mereka para pembeli yang datang dengan menggunakan motor. Mereka adalah istri-istri yang dimanjakan dengan motor oleh suaminya bahkan ketika mereka belum menguasai dirinya sendiri. Bayangkan saja, bagaimana seseorang bisa mengendalikan motor jika dia belum mampu mengendalikan dirinya sendiri. Istri-istri semacam itu biasanya adalah mereka yang bermaksud belok ke kiri dengan menyalakan lampu sein ke kanan.

Sebelum tikungan terakhir, setelah melewati jalanan panjang yang sedikit lengang, aku akan menemukan jalanan rusak yang entah sudah berapa lama yak diperbaiki. Jalan utama, bukan jalan pinggiran. Ini jalanan yang jika hari raya begitu ramai oleh mereka yang akan pulang ke kampung halaman. Aku tak pernah ingat kapan jalan ini terakhir diperbaiki. Jika musim kemarau berdebu, jika musim hujam becek. Aku tak pernah melihat iring-iringan mobil dengan kawanlan mobit polisi melalui jalan ini. Seingatku.

Empat puluh tujuh menit. Apa aku bilang, hari ini lebih banyak waktu aku habiskan di jalan. Bahkan sebelum aku bekerja.

 

III

Jam delapan lewat lima belas menit, Bos Besar memanggil melalui telepon. Aku bergegas. Membawa alat tulis dan merapikan penampilan.

Tok tok tok. Aku mengetuk pintu yang terbuka dari luar.

Pintu ruangan Bos Besar tak pernah tertutup, juga jendela. Udara selalu masuk dan keluar.

“Duduk, Gus.” Perintahnya, setelah mendongak ke arah pintu tanpa melepaskan jarinya dari papan tik komputernya yang sudah usang.

Aku menggeser kursi, lalu duduk berhadapan dengan Bos Besar dihalangi meja kerjanya yang sudah berumur.

“Gus...,” dia menggantung kalimat.

“Beberapa hal. Coba kamu catat.” Aku menyiapkan alat tulis yang sudah kubawa. Sudah kuduga.

 “Pertama, minggu depan kamu ke Surabaya. Periksa kantor di sana. Semuanya. Kesesuaian stok dan uang masuk, karyawan dan lain hal sebagainya. Tiga hari saja. Senin sampai rabu. Selesaikan semuanya, dan buatkan laporan. Kedua, coba periksa barang yang baru masuk kemarin ke gudang. Sesuaikan dengan faktur kiriman dari pabrik, buat pencatatan. Buatkan laporannya ke bagian keuangan.” Dia membenahi letak pantatnya di kursi tua yang entah sejak kapan dipergunakannya.

“Ketiga, siapkan pertemuan dengan seluruh jaringan distributor. Saya mau memperkenalkan barang yang baru. Atur di hari selasa ini sebelum kamu ke Surabaya. Jam satu siang sampai jam empat atau lima.” Aku mengulangi lagi apa yang sudah diperintahkannya. Bos Besar mengangguk. Setelah itu, aku pamit dari ruangannya. Tak betah.

Dia Bos Besar, meski bukan pemilik tapi dia sudah seperti pemilik perusahaan ini. Maksudku dalam hal bekerja. Dia seperti tak pernah pulang ke rumahnya. Dia seperti tak memiliki keluarga. Dia selalu sudah ada ketika pagi dan selalu masih ada ketika sore. Mungkin dia tak pernah korupsi.

 

IV

Aku juga tak pernah tahu siapa yang memulai, tapi sejak aku bekerja di sini, warung sebelah tempat kerjaku selalu ramai ketika jam istirahat. Aku perhatikan, tadinya hanya sekumpulan orang yang numpang menghisap rokok sambil minum kopi. Kadang, satu cangkir kopi dinikmari dua sampai tiga orang. Mirip anak sekolah. Lama-lama, ada juga orang yang makan di sini, terutama sejak pemilik warung menyediakan bangku dan meja.

Aku juga makan di warung ini. Menunya begitu sederhana, hanya ada telur ayam digoreng atau dengan bumbu pedas, kadang ada sayur yang selalu memakai jahe. Selain itu, pemilik warung juga siap menyeduhkan minuman dengan es. Berbagai merek rokok dan jajanan melengkapi bakwan atau tempe goreng tepung. Selain tentu di tengahnya ada obrolan cabul sesama karyawan.

Si Lita, ke kantor pakai kemeja tipis! Kutangnya! Setan!

Bos tadi ke gudang. Mampus aku!

Istriku, sebentar-sebentar minta diantar pulang.

Minta rokoklah sebatang.

Aku lihat, kutangnya warna merah!

Ongkosnya mahal. Pulang terus ke rumah ibunya.

Mana kopi?!

Aku pernah melihat belahan pantatnya.

Habis aku dimarahi Bos Besar tadi. Mampus. Anak buahku setan semua!

Rokok.

Kadang, aku sedang tak menjadi diri sendiri. Aku merasa sedang tak berada pada diriku sendiri. Aku menjadi orang lain. Tertawa, berbicara. Aku merasa hilang. Aku merasa sepi. Aku kadang tak mengenali diriku sendiri.

 

V

Kepalaku terasa berat. Pekerjaan, keringat dan kipas angin. Helm dan kepul asap. Rokok dan knalpot. Pembicaraan cabul. Klakson dan suara-suara di dalam kepala. Tanggung jawab.

Jalanan sore begitu ramai,seperti pagi. Orang berlalu lalang mengejar sesuatu yang mungkin memang harus mereka kejar. Aku kadang tak tahu apa yang sedang aku kejar. Perempuan-perempuan dengan lampu sein kanan dan berbelok ke kiri. Mobil-mobil dan suara peluit. Lampu-lampu etalase yang mulai menyala.

Motor kumatikan. Aku sandarkan punggungku pada sandaran kursi kayu di teras rumah. Setelah sepatu dan kaus kaki kutanggalkan dan kutinggalkan di teras, pintu kubuka. Aku mengucap salam. Anak pertamaku berlari menyambut.

“Ayah beli apa?” Tanyanya, penuh harap.

Aku keluarkan sebatang cokelat dari saku kemejaku. Dia tersenyum, aku tersenyum.

Dari dapur, terdengar suara sendok beradu dengan cangkir.

 

VI

Perempuan itu, rambunya sebahu. Aku tahu dengan pasti. Lebih sering terlihat berantakan. Tatap matanya kadang begitu sayu, dia terlihat lelah. Kurang tidur dan energinya terkuras habis. Memandikan kedua anaknya pagi hari. Mengantarkan anak pertamanya sekolah sambil menggendong anak kedua. Mengatur rumah sedemikian rupa. Menerima kehidupannya yang sederhana. Dan tetap tersenyum.

Aku menghirup aroma kopi dalam cangkir. Aku perhatikan perempuan itu. istriku.

Tuhan, aku jatuh cinta pada istriku.

Setelah sekian lama kami bersama, aku merasakannya lagi.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    5 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Menariknya tulisan ini yakni cukup mengecoh pembaca jika tidak menikmatinya hingga akhir. Bagian inti Agus taruh di paling bawah sehingga pembaca tersadar korelasi antara judul dan isi yang memang ada di bagian akhirnya.

    Ditulis dengan bahasa yang lugas walau untuk tulisan romantis semacam ini pun, fiksi ini terkesan nyata. Maksudnya, fiksi ini menjelaskan romansa suami dan istri dalam kehidupan yang sebenarnya, tak cuma dilihat dalam film komedi romantis a la Hollywood. Si narator jatuh cinta lagi dengan istri dengan cara yang sederhana dan tradisional, dengan melihat sang istri merawat rumah sementara suami bekerja keras. Bagus, Agus!