Kali Kedua

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Juni 2017
Kali Kedua

Bukan, ini bukan tulisan mengenai Raisa atau Hamish Daud yang –entah dibuat-buat atau tidak- membuat sebagian laki-laki penghuni Negara Kepulauan Republik Indonesia ini memiliki ide untuk demo besar-besaran dan mengkampanyekan tanda pagar kepung isyana (#kepungisyana). Sebab apa tulisan ini tidak akan membahas mengenai Raisa atau orang disekitarnya atau hal yang berhubungan dengannya? Ya, karena memang saya tidak tertarik. Adapun judulnya saya miripkan dengan salah satu lagunya, itu tentang hak mutlak saya sebagai penulis tulisan ini.

Mari kita mulai dengan sesuatu yang serius.

Seharian ini, atau kemarin, atau senin 12 Juni 2017 saya terus memikirkan mengenai satu hal yang sebetulnya sudah mengganggu pikiran saya sejak malam sebelumnya. Hal yang membuat saya agak kurang paham. Tadinya saya akan menuliskannya di ruang pelayanan dinas perpustakaan Kabupaten Bandung setelah saya sowan kepada Kepala Seksi Pengadaan Buku di sana, tapi malang, charger lap top saya tertinggal di rumah dan lap top sudah mampus sebelum saya meninggalkan kantor. Jadi, baru malam saya menuliskannya. Di teras kontrakan, karena di dalam ada satu istri dan dua anak saya. Apa pasal saya tak menuliskannya di dalam rumah? Mereka, anggota keluarga kecil saya itu sedang tidur, dan saya menulis sambil merokok. Yang berpengaruh terhadap lokasi saya menulis adalah yang kedua.

Jadi apakah hal yang membuat pikiran saya itu tetap memerintah saya untuk menulis malam ini? Hal itu adalah dihapusnya komentar saya pada status kawan facebook saya. Dan ini adalah kali kedua meski bukan pada yang sama. Penghapusan komentar saya pada status facebook kawan itu saya sayangkan sekali, sebab komentar yang saya tulis disana bukanlah komentar Out Of Topic (Of ditulis O nya besar sebab jika disingkat menjadi OOT). Setelah komentar saya dihapus, saya mempertanyakan pada pemilik status tersebut, kenapa komentar saya dihapus. Saya memang bukan orang yang sabar dan cenderung penggerutu. Saya mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Sehingga, saat ini kawan-kawan sedang membaca tulisan ini.

Saya akan mulai dengan yang pertama.

Komentar saya yang dihapus sengaja oleh pemilik status facebooknya adalah komentar saya yang mempertanyakan satu unggahan video seseorang yang sedang shalat diatas air. Mungkin disungai. Orang yang shalat tersebut shalat diatas sajadah yang terhampar di atas air. Saya yakin yang menahan kakinya untuk tidak terperosok ke dalam air adalah batu. Orang pada video itu lalu rukuk, dan ketika bersujud maka orang dalam video itu terjerambab ke dalam air. Yang membuat video tersebut dan mungkin kawan-kawannya tertawa. Yang mengunggah memberikan keterangan (caption) pada videi tersebut “tes ilmu” atau semacamnya. Saya malas cek lagi statusnya. Kawan-kawan facebook lainnya dari pemilik facebook ini memberikan komentar dan kesan lucu. Tertawa. Saya, bertanya. Apa ini sedang menjadikan shalat sebagai lelucon?(ini lagi becandain shalat). Maka komentar saya dihapus oleh pemilik status. Saya pertanyakan kenapa komentar saya dihapus, dan saya mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Saya pikir komentarnya yang minta dihapus, katanya. Lalu saya jawab dengan komentar lagi, lebih baik video ini dihapus. Pemilik akun tidak menjawab lagi. Ada yang merespon komentar saya, orang lain, bukan pemilik akun. Kurang piknik, mas? Saya jawab, setiap hari saya piknik.

Saya pikir, untuk yang pertama begitu krusial. Kenapa? Video itu memang menistakan agama secara terang-terangan, bukan slip of tounge seperti yang terjadi pada Basuki. Ini jelas mempermainkan shalat. Dan shalat, bukan simbol agama, shalat adalah identitas agama. Simbol boleh jadi ada atau tidak, tapi identitas itu menempel. Syarat. Kenapa saya persoalkan? Orang yang mengunggah video tersebut saya ketahui sebagai salah satu yang ikut dalam iring-iringan penjatuhan Ahok dengan dalih penistaan agama Sudah paham maksud saya kemana? Saya harap sudah paham, atau bisa saya tutup kasus pertama ini dengan status facebook saya ketika mulai ramai kasus BTP sebagai penista agama. Saya lupa jelasnya bagaimana, tapi kurang lebih saya tulis seperti ini “Hanya karena kita tak mengucapkannya, bukan berarti kita tidak sedang menistakan agama.” Silakan cari status saya tersebut jika berkenan.

Kali kedua penghapusan komentar saya pada status facebook kawan lain terjadi hari minggu yang baru lewat. Kali ini membuat saya bulat untuk menuliskannya. Status yang saya komentari adalah kalimat-kaliamat positif mengenai hasil kerja presiden sekarang, mengenai jalur tol, infrastrutur dan atau semacamnya. Sebagai anarkis muda, tampan dan berkarisma, saya mengomentarinya dengan kalimat-kaliamt negatif mengenai hasil kerja presiden sekarang, mengenai dangkalnya mimpi sawah berhektar-hektar di Papua yang merenggut lahan sagu, okupasi tanah warga di jatigede atau majalengka untuk bandara dan bendungan atau semacamnya. Ternyata komentar saya dihapus. Sekali lagi, saya juga mempertanyakan mengenai komentar yang dihapus tersebut. Pemilik akun menjawab, bahwa yang bersangutan tak ingin berdebat, terlebih jika komentar keluar dari topik. Apakah komentar saya keluar dari topik? Komentar saya jelas tidak keluar dari topik, komentar saya adalah kritik. Untuk orang yang sedang dibanggakannya dan sekaligus untuknya sendiri. Dan, karena yang bersangkutan melabeli komentar saya dengan “keluar dari topik” maka saya balas dengan komentar yang paling tidak bisa menjelaskan kenapa argumen tak layak dibunuh. Saya bilang, cobalah untuk tak membunuh sesuatu. Saya tutup dengan kalimat tersebut karena sepanjang pengetahuan saya, kawan saya yang statusnya saya komentari itu berpikiran terbuka. Tapi tentu, hal yang terjadi hari minggu itu membuat saya sadar, kita bisa saja membenci ketidakadilan sepanjang yang berlaku tidak adil bukan kita. Dan, hari minggu malam itu mengingatkan saya kepada GM yang habis dikritik sebab congkak sejak dalam pikiran ketika mengomentari perihal pendampingan petani yang sedang menuntut keadilan kepada pemerintah oleh beberapa pihak diluar komunitas petani tersebut. Saya lupa petani kerawang atau kendeng waktu itu.

Nah, Raisa-Raisa atau Hamish Daud-Hamish Daud yang budiman, anggaplah tulisan ini sekedar ejakulai semata seperti biasa. Ada pelajaran yang bisa dipetik darinya anggap saja bahwa kita semua ini di dunia adalah pohon yang memberi manfaat pada sesama.

Awalnya saya ingin menutup tulisan ini dengan bonus berupa rekaman video saya menyanyikan lagu “Kali Kedua”, tapi saya masih tak tega jika usai menyaksikannya kawan-kawan akan kejang-kejang dan mimpi buruk ketika tidur dalam keadaan lapar menunggu adzan maghrib tiba.

 


  • Anis 
    Anis 
    3 bulan yang lalu.
    1. oh, OOT itu ya pak singkatannya...
    2. tiap hari piknik, kemana aja pak? keren...
    3. sebagai anarkis muda, tampan, dan berkarismaaa.
    4. sungkem sebelum kabur