Empat atau Lima Sajak Lagi

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2017
Empat atau Lima Sajak Lagi

 

Di pinggiran Ibu Kota ada satu rumah yang menjadi hunian para bajingan paling menakutkan. Di rumah itu tinggal perampok paling bengis, pemabuk paling intoleran, pelacur paling berengsek, penagih utang yang tak kenal belas kasihan, penipu paling ulung, pedagang lotre paling licik, penculik tersadis, pedagang obat terlarang paling berpengaruh dan penulis yang menyedihkan. Rumah itu, terdiri dari petak-petak rumah kecil lagi, setiap petak kecil rumah terdiri dari kamar mandi, dapur, kamar tidur, ruang depan dan teras. Setiap tembok petak kecil rumah dicat berwarna merah padam, kecuali yang berbahan kayu, semuanya berwarna hitam. Tak ada satupun televisi, yang ada hanya koran-koran bekas berserakan hampir di tiap sudut rumah besar yang terdiri dari petak kecil rumah itu. Mereka semua tinggal di rumah preman paling menakutkan.ku tahu semua mengenai rumah itu karena aku berada di dalamnya. Bertahun-tahun.

Pertama kali aku datang ke rumah ini, keadaan sedang sepi. Semua petak rumah kecil menutup pintunya dan tak mengeluarkan suara sekecil apapun. Tak ada cahaya lampu dari dalam semua petak rumah kecil, padahal hari sudah menuju malam. Aku memang sedang mencari rumah sewaan baru setelah rumah sebelumnya yang kusewa tak begitu menarik lagi untuk kuhuni. Teralu banyak omong dan suara dari ibu muda tetangga-tetanggaku. Aku akhirnya memilih satu petak rumah kecil di sini karena tak ada lagi pilihan dan hari mulai gelap. Dan semua sudah disediakan, paling tidak kasur dan ember penampung air. Malam itu juga aku langsung menempati salah satu dari petak rumah kecil itu.

Petakku berada paling ujung, memiliki teras yang lebih luas dan lebih dekat ke jalan. Suara bising kadang timbul juga ketika malam, kadang ada satu atau dua sepeda motor yang masih melintas. Kadang bisik dua atau tiga orang yang sedang berbincang entah tentang apa. Kadang suara orang terjatuh setelah mengendap. Selama seminggu pertama aku hanya mengurung diri di kamarku, aku membuka pintu hanya ketika membeli makan, minum dan rokok. Sekali setiap harinya. Nasi dan lauknya, beberapa botol air mineral, beberapa bungkus roti dan dua bungkus rokok. Aku belum tahu siapa dan bagaimana laku setiap penghuni yang lain, aku belum pernah melihatnya. Mendengar suaranya mungkin pernah beberapa kali. Kadang pagi, kadang malam. Suara-suara begitu mengkhawatirkan, terlebih jika salah satunya sedang bernyanyi. Suara perempuan.

Aku ingin menceritakannya, semua yang aku alami di sini. Mungkin tak akan menarik, tak juga bisa dijadikan sesuatu yang bisa diingat. Tapi, tetap saja akan kuceritakan.

Kau juga mungkin pernah hidup bersama orang yang selalu saja menyulitkanmu, orang yang selalu merugikanmu, orang yang selalu mengambil untuk darimu, orang yang tak bisa kau tinggalkan bahkan ketika orang itu begitu menjengkelkan karena dia adalah seorang teman. Aku? Aku hidup dengan tidak hanya satu orang semacam itu, aku hidup dengan lebih dari lima bajingan seperti itu.

Ketika pertama kali pintu petakku diketuk dari luar, aku begitu kaget. Aku tak berharap akan memiliki tamu di sini. Tak juga di kota ini. Tapi siang itu pintu petakku diketuk dari luar. Dalam hati, aku bertanya, manusia macam apa yang mengetuk petak rumahku siang seperti ini?

“Hey, Mas. Punya korek api?” Kata tamu yang tak kuharapkan tadi.

Aku meninggalkannya di depan lawang petakku, lalu kembali membawa korek api. Aku menyulut api, mendekatkanya pada ujung rokok yang terselip di sela kedua bibirnya. Setelah menyala, dia tak juga beranjak. Aku tak bicara.

“Mas, siapa namanya?” Perempuan itu mengepulkan asap rokoknya, tepat di hadapan wajahku. “Aku lagi butuh duit, Mas mau main?” perempuan itu menyeret leher bajunya hingga memperlihatkan bahunya yang sama sekali tak membuatku tertarik.

“Aku sedang kerja.” Aku menutup pintu.

Aku rasa, setelah itu dia berlalu, mungkin menuju petaknya yang entah sebelah mana. Aku melanjutkan pekerjaan yang terganggu oleh kehadiran tamu tadi.

Malamnya, suasana di luar petakku begitu gaduh, aku mendengar beberapa orang sedang bertengkar, atau mungkin sekedar beradu keras suara. Awalnya aku mengabaikan suara-suara tak jelas tadi, sampai pada suatu ketika aku mendengar suara kaca pecah. Khawatir kaca petakku yang pecah, aku keluar membuka pintu. Benar saja, di luar begitu gaduh. Beberapa orang seperti bersiap untuk bertarung dan saling membunuh.

“Kau meniduri istriku, Bangsat?!” Seseorang yang memiliki tubuh kekar meraih leher baju lelaki yang lain di hadapannya. Sementara yang dituding tak mau kalah, mencoba melepas cengkeraman lawan bicaranya. Di antara kedua lelaki itu, seorang perempuan duduk bertinggung dan menutup muka seolah sedang menangis.

“Bangsat, tak ada yang sudi meniduri istrimu selain dirimu sendiri!” Sergah lelaki yang tak terlalu besar susai terlepas dari cengkeraman lawan bicaranya.

“Bangsat!” Hampir saja lelaki yang berbadan kekar itu melepaskan pukulan, perempuan yang tadi menutupi mukanya berteriak.

“Sudah!” Perempuan itu masih di sana, sambil menangis dan menutup mukanya.

Kedua lelaki yang saling berbicara kasar tadi memandangi perempuan tadi. Keduanya terdiam. Perempuan itu menengadah, masih terisak.

“Tak ada yang meniduriku selain kau.” Katanya kepada lelaki yang berbadan kekar.

“Setan! Untung tawarannya tak kuambil tadi siang, seandainya kuambil, gigiku rontok malam ini.” Gerutuku sambil menutup pintu.

Besoknya, kedua lelaki semalam yang bertengkar saling memberi. Aku melihatnya ketika seperti biasa hendak membeli perbekalan hari ini. Yang satu memberikan uang dari dompetnya, yang lain memberikan satu bungkusan kecil yang diambilnya dari dalam petak kecilnya.

Kejadian semalam, dalam seminggu bisa terulang tiga sampai empat kali. Maksudku kegaduhan seperti semalam. Orang berbicara kasar dengan suara yang tinggi. Yang diomongkan bisa berbagai macam hal, mulai dari orang yang menagih utang hingga orang meminta pinjaman, mulai dari tawar menawar harga entah apa hingga permintaan hadiah yang begitu memaksa. Apa saja, di sini orang bicara dalam bahasa yang begitu kasar dan suara yang tinggi.

“Bajingan! Lain kali kau harus menggantinya dengan lehermu, Setan!”

“Ayolah, aku kan sering ke sini, masa hanya kau beri seperti ini?”

“Setan! Brengsek! Bajingan!”

“Lacur sialan! Mampus kau dikerubungi belatung!”

“Anjing!”

Anehnya, entah kenapa, aku merasa begitu lebih kerasan tinggal di sini. Aku merasa terlindungi oleh suara-suara seperti itu. Aku juga masih tak mengerti apa yang aku maksud terlindungi. Aku tak mengerti aku sedang sembunyi dari siapa. Dari apa.

Lain waktu, begitu hening. Begitu tenang bahkan hingga berminggu-minggu. Tak pernah lagi terdengar suara-suara orang bertengkar atau memaki. Tak ada lagi gaduh, bahkan tak ada suara orang mengendap dan sepeda motor yang melintas. Kadang, jika keadaan sedang seperti itu, aku kangen dengan suara-suara gaduh.

Lain waktu lainnya, pesta selalu bergema setiap malam. Orang-orang berkumpul dan makan begitu lahap, tertawa dan meminum tuak begitu banyak. Mereka saling merangkul dan berpelukan satu sama lain, bernyanyi dengan suara yang menyedihkan dan bermain gitar seperti pesakitan. Aku sering berada di antara pesta-pesta itu, alasanku, terutama karena tuak. Pesta biasa dimulai sebelum senja benar-benar tiba dan baru akan berakhir menjelang pagi menjelma. Makanan dan botol-botol minuman berserakan. Laki dan perempuan tidur dalam satu hampar. Aku selalu tahu karena aku tak pernah tertidur ketika pesta.

Kadang kami begitu seperti keluarga satu sama lain, bahkan mungkin lebih. Hubungan antara penghuni petak benar-benar tak ada jeda. Hampir sama dan hampir begitu rata. Aku bahkan pernah melihat perempuan yang selalu mengasuh puluhan anak di petaknya bergantian sesuai dengan anak mana yang dibawa lelakinya, keluar dari petak lelaki penagih utang dengan hanya mengenakan kutang.

Hanya saja, hari sial itu haru juga datang. Mereka atau kami yang begitu tenang harus diusik dan diusir. Harus ditindak dan diamankan. Harus digusur dan diberangus. Padahal kami tak pernah melakukan makar terhadap pemerintah. Kecuali dengan memiliki wilayah tersendiri adalah dianggap makar.

Hari itu masih pagi, aku masih terjaga dan bau tuak masih mengisi mulutku. Mataku sembap karena tak tertidur paling tidak selama tiga hari. Berpesta dan bekerja di dalam kamarku yang senyap sendirian. Aku masih ingat dengan suara derap langkah kaki bersepatu. Aku menghitungnya. Satu, dua, sepuluh, dua puluh dan mungkin lebih banyak lagi pasangan kaki yang mengendap mencoba tak terdengar. Aku sedikit penasaran dan memiliki keinginan untuk mengetahui suara-suara itu. Tapi aku berbalik dan berpikir mungkin aku sedang mabuk, atau aku terlalu tenggelam dalam pekerjaanku.

Aku mendengar beberapa langkah kaki berhenti di depan pintu petakku, yang lain terus melangkah dan beberapa lalu berhenti.

Lalu sunyi.

Aku menduga.

Aku menajamkan telinga.

Seketika dunia menjadi lamban, beberapa orang mendobrak pintu tiap petak rumah kecil. Berbarengan.

“Keluar!”

Aku mendengar suara pukulan sembarang, beberapa mungkin mengenai tulang atau daging, lainnya mungkin hanya mengenai benda-benda mati di sekitar.

“Keluar, Bangsat!”

“Ikut!”

“Seret!”

Lalu kami dikumpulkan dalam satu ruang yang mungkin bekas gudang, atau apapun dengan bangunan yang begitu luas. Tempat yang tak pernah aku datangi, barangkali jauh dari petak rumah yang kami tempati.

“Heh! Setan, mana barangku?” Hardik salah satu dari orang-orang yang mendobrak petak kami.

“Barangmu? Itu barangku. Kau hanya orang korup. Kau Cuma badut berseragam di depan atasanmu!”

“setan!” Kakinya lalu melayang pada mulut yang sama yang mengeluarkan jawaban untuknya.

“Yang lain, jangan melindungi dia. Dia pengedar barang haram. Barang setan. Kau!” Dia menunjuk salah satu dari kami lagi. “Kau pikir kau jagoan? Memberinya tempat tinggal?” Dia menyeret kaus yang menempel pada tubuh orang yang setiap bulan kutemui untuk kuserahi uang sewa petak rumah.

Ujung belakang senapan lalu mengenai pelipis kiri pemilik rumah yang aku tempati.

“Kau!” Dia menudingku, “Siapa kau?”

Tiap kali ada yang menanyakan siapa diriku, itulah saat paling malas untuk membuka mulut. Tapi aku berpikir, ini bukan waktu yang tepat untuk mengikuti ego.

“Aku.” Aku bingung. Aku siapa. “Aku pembuat sajak. Aku sedang menulis buku sajak.” Aku bingung.

“HAHAHAHAHAHAHAAAAA....”

“Empat atau lima sajak lagi, aku akan meninggalkan rumah itu.” Aku bingung. Aku bukan seseorang di antara mereka.

“Lemparkan ke kolam!” Lelaki yang sedari tadi menghardik, menendang dan memukul tetanggaku memerintah pada beberapa orang rekannya. Aku melihat beberapa dari mereka mendekat, menyeretku dengan kasar. Aku tak bisa membela diri, aku tak bisa berkelahi.

Aku, dan mereka yang menyeretku melalui lorong yang mengeluarkan tangis, jerit dan rintih perempuan yang pernah meminta api padaku tempo hari. Entah dari mana suara-suara itu. Aku mendengar suara kecipak air di muka, aku menengadah mencoba mencari tahu. Buaya. Kolam itu dipenuhi buaya. Aku akan dilempar ke kolam yang dipenuhi buaya.

“Setan! Lepas, Brengsek!” Mereka semakin kuat mereggut leher kemejaku. Aku buka kancing kemajeku perlahan dan sabar meski dalam perasaan galau. Aku melepaskan diri.

Aku lari sekuat tenaga.

Keringat di dahi menetes menuju pelupuk mat.

Aku terus berlari. Aku tahu, senapan sedang diarahkan padaku.

Dor!

Dor! Dor! Dor!

Aku bersijingkat, mencoba menghindar dan sekaligus kaget.

Tak terasa nyeri, tak ada peluru mengenaiku.

“Setan!” Aku mengutuk.

Aku berlari hingga tak sadarkan diri.

  • view 99