Pincang

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Mei 2017
Pincang

 

Anak-anak tak pernah diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, anak-anak adalah batu yang oleh karenanya harus menerima apa yang akan mengenainya. Mungkin angin, mungkin tetes air hujan yang lalu setiap pagi dan petang. Anak-anak adalah masalah dikemudian hari yang tak pernah diperhitungkan.

Bapaknya memang tak pernah sekolah, juga ibunya. Hanya bisa sedikit membaca dengan terbata dan menghitung karena uang. Tapi, sore sebelum beberapa anak kecil mendatangi rumahnya untuk mengingatkannya mengenai lawan tanding yang akan dihadapi, Mislam melihat Bapaknya membubuhkan tandatangan pada sehelai kertas. Mencoretinya dengan tulisan yang tak terbaca sama sekali.

“Ini nilai belinya ya, pak. Nanti Bapak akan terima uang sebesar ini, berangsur.” Seseorang dengan rambut terlalu licin dan suara serak menjelaskan mengenai isi kertas yang dicoreti bapaknya tadi.

Mislam melihat senyum Pak Dirno.

“Nanti kami buatkan rekening di bank, agar bapak tidak perlu banyak menyimpan uang kontan di rumah. Bahaya.”

Mislam melihat bapaknya hanya mengangguk.

“Tanah bapak ini yang paling mahal di sini. Tanya Pak Dirno. Ini karena kami juga memikirkan nasib Mislam. Kami tahu anak Bapak punya bakat lain.”

Mislam tak melihat ibunya.

Beberapa helai kertas dipisahkan dari yang lainnya, juga dicoreti dan ditandatangani oleh lelaki berambut licin, lalu menyerahkan kertas-kertas itu ke bapaknya.

“Ini untuk disimpan oleh Bapak, jangan sampai hilang. Ini penting, Pak.”

“iya.” Hanya suara itu yang terdengar dari mulut bapaknya, Mislam hanya mencuri dengar.

Tak lama, semua tamu meninggalkan rumah. Mislam masih termenung, menyelesaikan pekerjaannya dengan rasa malas. Pekerjaan peladang. Mungkin akan dirindunya suatu hari.

***

Ada juga beberapa orang kota yang ikut menyaksikan pertandingan sore itu di lapang bukit, mereka juga sudah mendengar perihal bakat Mislam dalam bermain sepak bola. Beberapa tamu dari kota itu menganggapnya sebagai hiburan, di kota juga ada permainan sepak bola. Hampir sama.

Bukit berumput tipis itu lapangan terbaik untuk bermain bola di desa, hawanya baik dan tanahnya luas. Disekelilingnya, seperti sudah disediakan tempat untuk para penonton duduk berupa gundukan-gundukan tanah setinggi lutut orang dewasa. Biasanya, lapangan ini hanya dipakai oleh pemain sepak bola yang sudah dewasa, atau untuk menjamu tim lain dari luar desa yang ingin bermain sepak bola di sini.

Mislam merasa malas, hari ini tak seperti hari yang lain dimana dia adalah sepak bola. Hari ini baginya sepak bola bukan apa-apa dan tak akan merubahnya menjadi siapa-siapa. Sejak berangkat seusai membersihkan perkakas berladang dan meminta izin kepada kedua orang tuanya dia seperti orang yang tak memiliki jiwa. Seperti kosong dan enggan.

Ladangku sudah dijual. Apa yang perlu dilakukan dengan sepak bola?

Hampir seluruh pengisi desa tumpah di lapangan bukit sore itu, semua ingin lagi menyaksikan Mislam bermain bola setelah gagal bermain di laga akhir tempo hari. Semua membawa bekal dari rumah sebanyak mungkin. Air minum dalam botol besar, singkong goreng dan kacang-kacangan serta nasi dan lauknya. Semua terasa seperti piknik.

Mislam berdiri di pinggir lapangan, mengenakan sepatu dan kaus seragamnya. Menyaksikan orang sebanyak itu, membuat darahnya berdersir. Ada rasa galau dalam pikirannya. Beberapa kawannya mulai melakukan pemanasan, berlari kecil atau melakukan peregangan otot kaki. Mislam melakukannya dalam perasaan yang tak begitu senang.

Tiga mobil bak terbuka muncul dari sisi lain lapangan, satu membawa pemain sepak bola dan lainnya membawa pendukunya saja. Begitu mereka turun, Mislam tahu bahwa lawanya lebih bersih. Sepatu mereka lebih baik, kaus tim seragam mereka lebih bagus. Dan mereka tak pernah berladang.

“Mereka ini dari mana, Kang?” Tanya Mislam kepada Kang Sahwi.

“Dari perbatasan. Mereka lebih sering menonton televisi dan ada sekolah sepak bola di sana. Mereka bisa ganti sepatu paling tidak enam bulan sekali. Mainnya, mungkin lebih baik kita. Pasti kamu lebih baik dari mereka.” Kang Sahwi mengibaskan tangan, meminta Mislam untuk ikut melakukan pemanasan, sekedar berlari kecil di pinggir lapangan.

“Aku sedang malas.” Teriak Mislam. Beberapa orang memandang pada sumber suara.

“Kamu sedang dibutuhkan, jadilah orang yang sedang dibutuhkan. Jangan manja, bapakmu bukan Camat.” Kata Kang Sahwi.

Ketika semua anak-anak yang akan bermain dikumpulkan oleh Kang Sahwi dalam satu kerumunan, hanya Mislam yang terlihat lebih pendek dari yang lain. Semua memiliki perawakan yang hampir sama. Umur Mislam memang yang paling muda diantara mereka.

“Bermainlah yang baik, mereka tamu, tak perlu terlalu keras. Bermain sebagai hiburan, jangan sampai ada yang terluka dan cedera, ini sepak bola.” Kang Sahwi lalu mengeluarkan buku dan spidol merah.

“Aku ingin Mislam kali ini bermain di tengah, di belakang Adin dan Musa. Kamu kasih umpan yang bagus ke mereka.” Tunjuk Kang Sahwi pada Mislam sambil memberi isyarat dengan lehernya menunjuk kepada Adin dan Musa.

“Kau beri umpan ke sayap jika di depan mereka kesulitan terima umpan. Di belakang aku sudah simpan jami dengan Midar, Gedang dan Barli. Mereka sudah yang terbaik.” Kang Sahwi menepuk pundak salah satu nama yang disebut tadi.

“Ingat, dekati kawan yang sedang membawa bola, dan apalagi yang sedang kesulitan melepaskan umpan. Jangan menjauh, kalian kawan.” Tutupnya.

Di sisi lain, tim lawan melakukan hal yang sama, berkerumun dan melakukan persiapan. Seseorang yang lebih tua dari yang lain berbicara dengan tingkah mengatur seperti Kang Sahwi, ditangannya spidol yang lebih besar dipegangnya. Dia menulis pada papan putih bergambar seperti setengah lapangan sepak bola.

***

Angin sore sedang tak sedap untuk dinikmati, tanah lapang terasa begitu gersang dan tak bersahabat dengan Mislam. Perasaan tak menentu, dia sedang tak ingin bermain sepak bola. Umpannya begitu buruk, larinya payah dan sudut pandangnya begitu tertutup.

Paruh babak yang melelelahkan terlampaui dengan begitu berat. Nafasnya memburu, seperti sudah bermain sepak bola dua babak.

“Mislam, kau kenapa? Mainmu payah.” Kata Kang Sahwi disela waktu istirahat antar babak.

“Aku sudah bilang, Kang. Hari ini aku sedang tak ingin bermain. Aku sedang tak ingin melakukan apa-apa. Kalau boleh aku hanya ingin di sisi lapang saja. Nonton.” Mislam memang terlihat begitu lain dari biasanya.

“Ayolah, semua orang yang ada di sini ingin melihatmu bermain. Meliuk membawa bola, merebut bola, mengirim umpan dan apalagi mencetak gol. Paling tidak cetaklah satu saja gol, atau beri umpan yang baik sampai tercipta satu gol. Kau akan kutarik dan digantikan.” Kang sahwi lalu meninggalkannya.

Mislam mereguk sisa air dalam cangkir plastiknya.

Ketika babak kedua dimulai, dan Mislam memasuki lapangan, pikirnya sudah berada di ladang yang tak lagi menjadi miliknya.

Bola menggelinding ke hadapannya menjelang sepuluh menit pertama babak kedua, dia menghampiri dan menguasainya. Menyisir lapangan tengah terbata. Kakinya tak setangguh seperti biasanya. Dia mencari dua kawannya di depan, memilih mana yang paling memungkinkan dengan cepat mencetak gol. Adin dan Musa dalam pengawalan yang tak begitu ketat, dua pemain lawan mempersulit pergerakan Mislam. Satu mengganggu geraknya, satu menghalanginya. Lacur, konsentrasinya benar-benar terbelah, bola diambil alih lawan dari samping kiri. Mislam kecolongan, begitu menohok. Mislam seperti ditampar. Dengan sisa tenaga yang masih dia jaga, Mislam balas mengejar lawannya, berlari begitu kencang.

Kadang, hari nahas benar-benar datang. Segalanya menjadi begitu salah dan mengantarkan kesialan satu kepada kesialan lainnya. Mislam tak berpikir panjang, dengan kaki kirinya yang tak begitu panjang, dia terjang bola yang sedang dalam penguasaan lawannya. Sial, tak sampai pada bola, kaki kiri Mislam menghantam tulang kering kaki lawannya. Begitu keras. Sedetik kemudian, yang bisa Mislam adalah tubuh yang menggelapar-gelapar di tanah seusai jerit keras dan rintih kesakitan. Mislam menganga.

Beberapa orang lalu mendekat dan memberi bantuan pertama, orang itu masih merintih.

Apa yang sudah kulakukan, pikirnya. Dia melihat, orang itu dipapah menuju pinggir lapangan. Jalannya pincang. Apakah patah, tanyanya dalam hati.

Beberapa lama kemudian, Kang Sahwi menariknya keluar. Dia diganti. Dia masih bisa melihat orang yang pincang tadi. Patahkah kakimu? Mislam menunduk.

Mungkin aku tak perlu lagi bermain sepakbola. Mislam meninggalkan lapangan sepakbola, digantikan pemain lain.

Mislam pergi dari tanah lapang tempat pertandingan belum selesai. Tak terdengar suara apapun oleh telinganya.

Aku tak perlu lagi bermain sepak bola.

 

Gamang, cerita sebelumnya.

  • view 118

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    5 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Fiksi dengan ide yang sangat realistis dan menarik. Realistis sebab diambil dari sudut pandang Mislam, seorang anak desa yang dengan kepolosannya bermain sesuai isi hati. Profesionalisme sepakbola masih terlalu dini untuk dia mengerti. Belum lagi penyebutan jual beli tanah ayah Mislam, yang pasrah akibat tak mampu baca dan tulis.

    Tulisan Agus Geisha ini mencerminkan ‘korupsi sepakbola’ yang dimulai dari level kecil. Kekesalan Mislam akhirnya berubah menjadi sangat fatal, tak cuma cedera yang dialami oleh sang lawan tetapi juga sirnanya hasrat bermain sepakbola Mislam. Mislam hanya jadi korban keinginan orang dewasa.