Surat Cinta Berwarna Terakota

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Mei 2017
Surat Cinta Berwarna Terakota

 

Mark Roadrooth adalah seorang pengrajin kayu, dengan tangannya dia melahrikan banyak hal yang unik dan begitu bermanfaat. Semua dengan bahan kayu. Bahkan paku, dibikinnya dari kayu. Lelaki dengan kacamata yang tidak terlalu tebal itu, memiliki tangan yang kuat dan tegas meski tetap lentur. Dari tangan itulah, meja bundar dengan tempat penyimpanan serba guna tersembunyi terlahir dan terpasang tepat di tengah hotel termahal di kota Swallowho. Tempat tinggal Mark. Di Swallowho, Hotel RedBread adalah yang termahal, yang terbaik yang bisa kau dapatkan. Lainnya hanya berbentuk kamar-kamar kecil dengan kasur bau apak dan kamar mandi yang tak benar-benar membuat nyaman. Di hotel lain selain Hotel RedBread, televisi hanya menayangkan film-film lama dengan gaya berpakaian aktornya yang mengganggu pandangan. Tak pernah dari kamar-kamar itu terdengar suara televisi biasanya. Hotel RedBread adalah yang terbaik, sehingga mereka memesan begitu khusus meja bundang kepada Mark. Tepat sebulan sebelum Annelson -pemilik hotel itu- menikahi Maary, perempuan berambut seperti emas yang berkilauan. Dan deretan gigi yang terlalu rapi untuk penduduk kota Swallowho.

Mark sudah berada di kota itu sejak lahir, dia memang salah satu dari sebagian besar penduduk yang hanya tinggal di Swallowho seumur hidup. Tak pernah pergi ke kota lain, atau ke tempat lain. Kota kecil Swallowho memang tak pernah mengijinkan siapapun pergi dari sana, kota itu selalu memenjara siapa saja dengan suasana yang begitu hangat dan bersahaja. Matahari yang selalu menemui sepanjang tahun, dan malam yang selalu begitu membuat rindu. Cahaya bulan yang memeluk kota. Awalnya Mark hanya membuat hal-hal kecil dari kayu ketika dia hampir menyelesaikan sekolahnya, itu adalah tahun terakhir Mark. Mark mulai membuat patung-patung candi berukuran kecil dari kayu-kayu yang dia temukan di mana saja. Goresannya pada kayu begitu rinci, jika kau pernah melihat ukiran pada candi-candi kecil yang dihasilkan Mark waktu itu, kau akan mengira itu dihasilkan oleh seniman kelas dunia. Ketika sebagian kecil kawan-kawan sekolahnya berniat untuk melanjutkan pendidikan ke luar kota, Mark sudah mulai menghasilkan uang dari ukirannya. Tak banyak, karena memang permintaan tak banyak. Tapi bagi Mark, ini adalah jawaban. Untuk apa meneruskan pendidikan ke luar kota jika hari ini saja uang sudah bisa dihasilkannya. Merasa cukup adalah bagus.

Lalu, Mark memulai bengkel kayunya selepas sekolah terakhirnya. Saat itu dia berumur tujuh belas. Mungkin lebih beberapa bulan atau hari. Mark melanjutkan semua pekerjaan, atau pesanan ukiran yang sudah dia terima sebelum lulus dari sekolah disana. Lemari pakaian dengan nama suami-istri Smiil tua yang sudah dipesan jauh hari sebelum hari kelulusan, kursi ayun dengan dudukan bantal kecil untuk Jane Marsh tua yang sedang menghabiskan masa tuanya, atau pagar kayu dengan ukiran halus rumah makan milik saudara jauhnya di barat daya kota. Bengkel Mark adalah bekas kandang babi milik ayahnya. Lama tak terpakai sejak memelihara babi adalah sebuah kesalahan bagi penduduk Swallowho. Babi tak pernah menghasilkan apa-apa, bahkan tak ada penduduk kota yang memakan dagingnya. Ayah Mark benar-benar lupa untuk apa dulu dia memelihara babi dan susah payah membangun kandang untuk babi-babi yang sama sekali tak menguntungkan untuknya. Babi-babi itu, kini entah bagaimana nasibnya, sebab kandang mereka sudah menjadi bengkel kayu milik Mark.

Menginjak bulan ke-lima bengkel berjalan, Mark sepertinya mulai tak sanggup untuk hanya bekerja sendiri. Dia mulai merasa terganggu dengan banyak dan begitu detailnya pesanan. Kadang, ketika dia tengah mengerjakan satu pesanan, seseorang bahkan lebih dari satu orang datang untuk memesan hal lainnya. Maka, Mark memutuskan untuk mengajak Reich, kawannya ketika sekolah untuk bergabung di bengkelnya. Mark meminta Reich untuk bekerja sebagai penerima pesanan saja, mencatatnya dengan jelas, menghubungi pemesan jika pesanan sudah siap, berbelanja bahan baku kecil, atau membereskan bengkel jika sudah mulai terlihat kembali seperti kandang babi. Awalnya Reich menolak, karena perempuan itu berpikir dia juga akan bekerja seperti Mark. Memahat atau meruncingkan bagian tertentu kayu, namun Mark menjelaskan bahwa Reich akan pulang setiap petang dengan keadaan tangan tetap halus.

Ketika Annelson bertemu dengan Maary enam bulan sebelum mereka memutuskan untuk akhirnya menikah, bengkel kayu Mark sudah berumur lebih dari dua tahun, yang dibuatnya sudah bukan hanya pesanan-pesana perorangan. Kadang restoran atau kantor instansi pemerintah memesan begian-bagian tertentu kepada Mark. Lemari, meja, kursi, atau papan nama. Di bengkel itu, masih hanya berdua. Mark dan Reich, dan mereka tak pernah bercinta. Begitu kering. Annelson menemukan Maary pada perjalanan pulangnya dari ruang kerjanya di Hotel RedBread. Ruangan yang bertempat di lantai teratas hotel itu. perempuan muda dengan rambut berwarna emas dan gigi yang begitu rapi, melintas di depan mobilnya yang melaju tak begitu kencang. Mengenakan rok berwarna hitam dengan lipatan-lipatan yang begitu rapat dan sepatu yang berbunyi nyaring. Annelson memerhatikannya. Langkah dan ayun helai rambutnya. Hidung dan gerak tipis bibirnya. Annelson muda yang begitu berkuasa dan kaya raya jatuh hati. Tak lama, hanya berselang beberapa hari, mereka berdua bertemu dan saling berbicara. Kau tak perlu tahu bagaimana cara mereka bertemu lalu saling berbicara. Mereka bertemu dalam satu kegiatan amal yang diselenggarakan Hotel RedBread, Maary mewakili instansi tempatnya bekerja. Hari-hari selanjutnya, Maary menjadi kekasih Annelson. Perempuan mana yang tak mungkin menjadi Maary jika ada kesempatan.

Lima bulan pertama yang begitu indah bagi Annelson dan Maary. Keduanya tak saling bergantung meski tak pernah tak terlihat begitu mesra. Di jalanan kota, mereka berjalan sambil berpegangan tangan dan sesekali saling mencuri cium. Annelson kadang mengenakan baju hangat rajut dengan lengan bajunya yang selalu ditarik hingga ke sikut tangan, sepatu putih, dan payung di tangan kirinya. Dan Maary yang selalu beraroma bunga dan senyum yang begitu gemilang. Kadang keduanya terlihat di restoran terbaik di Swallowho, memesan sayatan daging sapi yang dipanggang dengan bumbu rempah yang begitu tajam dan menuangkan minuman dari botol yang tak akan pernah kau temukan di tempat lain. Minuman terbaik dan termahal di kota Swallowho. Seseorang, atau mungkin lebih pernah melihat mereka memasuki rumah Annelson yang mewah dengan taman belakang yang begitu luas. Mereka, orang-orang yang melihat Annelson dan Maary bersama di rumah Annelson hanya menduga mereka berdua menghabiskan malam bersama dengan beberapa film terbaru atau makan malam yang lebih personal.

Sebulan sebelum pernikaha Annelson dan Maary, Mark melihat lelaki lajang yang begitu kaya raya menghampiri bekas kandang babi yang kini menjadi bengkel kayunya. Dia tahu Annelson sebab di Swallowho tak ada yang tak saling mengetahui satu sama lain, paling tidak nama depan dan keluarganya. Mark mengehentikan tikam pahatnya, melirik pada Reich yang tengah duduk di balik meja sederhana dan merawati kuku-kuku tangannya. Reich hanya mengangkat kedua alisnya.

“Mark. Kau ada waktu?” Sapa Annelson.

“Aku sedang kerja, ada beberapa pesanan yang harus segera kuselesaikan pekan ini. Kau mau pesan sesuatu? Datanglah pada Reich.” Kepala Mark menuding Reich.

“Tak lama, Mark. Tak sampai sepeminuman Kopi Alemor.” Annelson bahkan menegaskan keinginannya dengan menyebut Kopo Alemor, kedai kopi yang hanya menyajikan kopinya dalam cangkir yang begitu kecil, sehingga jika kau meminumnya, sebelum cangkirmu kembali ke meja, maka kopi yang baru saja kau minum sudah menguap dalam mulutmu. Tak sampai tenggorokan. Harganya mahal, tapi rasanya begitu enak. Selalu ramai pembeli yang datang dan pergi dengan begitu cepat.

Mark bangkit, dia berharap apa yang disampaikan Annelson adalah pesanan yang begitu besar dan menghasilkan uang yang banyak, sehingga dia tak akan menyesalinya. Mereka menuju sudut bengkel, agak jauh dari Reich yang terlihat tak ingin mengetahui apa yang ingin dibicarakan oleh kedua lelaki yang berbeda jenis pakaian itu.

“Aku memerlukan sesuatu yang bisa menyembunyikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang ingin aku sembunyikan begitu rapat dan tak boleh seorangpun boleh mengetahuinnya.” Kata Annelson tanpa basa-basi lagi.

“Seharusnya kau membakarnya. Tak akan ada yang mengetahuinya jika sudah lenyap.” Timpal Mark sederhana.

“Aku bukan ingin melenyapkannya, Mark.”

“Apa yang ingin kau sembunyikan?” Mark mencoba mencari tahu.

“Dokumen. Kertas-kertas. Luas dan tebalnya tak lebih luas dari selembar roti. Hanya aku yang boleh mengetahuinya.”

“Kau ingin aku membuatkan sesuatu untukmu?” Tanya Mark. Merasa Kopi Alemor yang dikatakan Annelson diawal akan segera habis.

“Buatkan aku tempat penyimpanan yang begitu aman, hanya aku –dan mungkin dan kau- yang bisa membukanya. Jika ada yang ingin memaksa untuk membuka tempat itu, pastika apa yang ada di dalamnya hancur dan tak bisa lagi dikenali sebagai apapun.”

“Berapa yang aku dapat?” Mark mulai menyerang, merasa tak ada yang perlu ditakuti, seolah pesanan kali ini tak ada bedanya dengan pesana lainnya kecuali jumlah uang yang harus dia terima.

“Aku akan membayarmu lima belas juta. Lima juta diawal dan sisanya diakhir. Kau harus menjelaskan cara kerja tempat persembunyian ini kepadaku sebelum sisa pembayaranmu kau terima.”

“baiklah. Beri aku empat belas hari dari sekarang untuk mengerjakannya, dan lama waktu yang sama seperti waktu yang kita habiskan untuk pembicaraan ini di hari ke-lima belas untuk menjelaskan cara kerjanya.” Lima belas juta berarti uang yang diterima oleh Mark selama sebulan bekerja dikalikan seratus.

Annelson mengeluarkan amplop dengan isi setebal bata.

“Kau boleh menghitungnya jika kau mau. Itu lima juta untuk uang muka.” Lalu Annelson meninggalkan Mark yang tengah menggenggam amplop. Annelson melewati Reich yang masih merawati kuku tanganya.

Mark mendekati Reich.

“Pesanan yang datang hari ini, sampai lima belas selanjutnya, akan aku kerjakan hari ke enam belas sejak hari ini. Dan upahmu bulan ini akan aku kalikan tiga.” Mark lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Reich mencatat sesuatu pada almanak meja di depannya. Hari itu, Mark menutup bengkel lebih awal, dan membiarkan Reich pulang lebih cepat dari biasanya.

Bagi Mark, memahami ilmu kunci bukanlah sesuatu yang begitu rumit dan memerlukan waktu yang lama. Dia hanya perlu membuka kembali buku mengenai kunci dan kode yang rumit, yang biasa dipergunakan untuk menyembunyikan dokumen-dokumen lama serta mengandung rahasia dan Mark akan segera menguasainya, meski untuk mencari bahan terutama cairan yang diperlukan begitu susah di kota sekecil Swallowho.

Esoknya, Mark dengan begitu cepat, lebih cepat dari biasanya, menyelesaikan beberapa pesanan yang harus selesai dipekan itu, lalu meminta Reich untuk menghubungi para pemesan. Dua hari setelah pertemuanya dengan Annelson, Mark pergi ke Hotel RedBread pagi sekali, sebelum bengkel kayunya biasa buka. Memerhatikan sekitar lobi begitu lama hingga membuat petugas keamanan yang berada tepat di depan pintu menegurnya. Mark bilang hanya sedang menunggu kawan yang menginap di sana. Tak lama, Mark meninggalkan hotel sambil memberi senyum kepada petugas keamanan. Temanku masih tidur, nanti siang aku kembali. Katanya pada petugas keamanan dengan perut menggembung.

Mark membuka bengkelnya ketika Reich sudah menunggu begitu lama di depan pagar pintu besar bengkel dengan jengkel. Hari itu, dia memulai mengerjakan sesuatu untuk Annelson. Membagi kayu seukuran orang dewasa dengan panjang tak lebih dari panjang lengannya menjadi empat bagian sama panjang, lalu memahatnya satu persatu menjadi kaki meja sama persis. Seharian itu, dia hanya membuat kaki meja.

Apa yang dikerjakan oleh Mark untuk pesanan Annelson begitu menyita waktu, kadang dia meminta Reich pulang lebih cepat agar dia bisa sendirian di bengkel. kadang hingga malam. Mark telah tau apa yang akan diberikannya pada orang yang telah melipatgandakan uangnya untuk bulan ini. Sebuah meja dengan tempat penyimpanan tersembunyi, yang hanya bisa dibuka oleh kode yang begitu rumit dan panjang. Meja yang tidak terlalu besar, lengkap dengan empat kursi yang autentik. Selama pengerjaan, Annelson tak pernah mengunjungi bengkel kayu milik Mark, dia tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan yang begitu megah.

Ketika hari ke empat belas datang, sore hari Mark meminta Reich pergi ke Hotel Redbread.

“Datang kesana, bilang mau bertemu dengan Annelson dan kau dari bengkel kayu Mark. Bilang pada Annelson, jemput pesanannya sendiri besok sebelum bayangan sama dengan pemiliknya.”

“Tak bisa kita telpon saja?” Elak Reich.

“Aku minta kau pergi ke sana! Dan kau besok bisa libur, tinggal di rumahmu seharian atau mengerjakan apapun. Pergi ke bioskop atau apapun”

Reich lalu pergi dengan senyum yang kembali setelah hilang tadi.

Bengkel kayu Mark sudah mengerjakan begitu banyak pesanan. Kursi, meja, lemari, peti, kotak penyimpanan perhiasan, pagar, dan banyak hal lainnya lagi. Semuanya memiliki goresan yang begitu unik dan tak ada dua . semuanya hanya dibuat satu saja. Meja untuk Annelson rancangannya begitu biasa, sama seperti pesanan lainnya. Ukiran di sisi kanan dan kiri. Kaki meja yang tak begitu beda dengan kaki meja yang lain. Dan kursi tanpa busa untuk sandaran. Kecuali satu, meja untuk Annelson dilengkapi oleh tempat penyimpanan tersembunyi, tepat di tengah meja tersebut. Tertutup begitu halus dan menyembunyikan tempat terkunci yang begitu rumit.

Annelson mengenakan kemeja putih dengan garis berwarna merah pudar, garis-garis jarang dan tidak begitu tampak. Garis lipatan di celananya begitu tegas terlihat, dan sepatu yang mengkilat. Dia datang sendirian seperti yang diminta Mark lewat Reich.

“Jadi, apa yang kau buatkan untukku?” Annelson tak sabar ingin mengetahui benda apa yang dipersiapkan Mark untuknya.

“Kau lihat itu, meja dan kursi yang melingkar itu. Aku sudah menyesuaikannya dengan lobi Hotel RedBread. Kau simpan meja dan kursi itu tepat di depan meja penerima tamu. Tepat di tengah lobi. Aku sudah menyesuaikannya dengan benda lain yang ada di lobi hotel.” Kata Mark.

“Lima belas juta dan kau hanya membuatkan aku meja kecil seperti ini. Apa yang istimewa?” Tanya Annelson menyelidiki setelah memerhatikan meja itu. Dia merasa tak ada yang beda dengan mejanya.

Mark mendekati meja itu, lalu mengangkat penutup yang terhampar di meja itu dengan tangannya. Begitu mudah dan tak terlihat bahwa di meja itu ada tempat tersembunyi yang memilik penutup. Lalu, Mark memperlihatkan deretan angka dan huruf yang begitu panjang kepada Annelson. Dia menggeser angka dan huruf-huruf itu, lalu sebuah kotak terangkat dengan sendirinya ke atas. Muncul dari permukaan.

“Kau bisa menaruh benda rahasiamu disini. Kau bisa mengganti kode rahasanya sekarang. Kau hanya bisa merubah kode rahasianya ketika dia terbuka, sebab hanya yang bisa membukanya yang bisa merubah kode rahasia. Jika ketika tertutup dan kau salah memasuki kode rahasiamu sekali saja, maka akan ada cairan yang menghanguskan dokumenmu didalam kotak rahasiamu ini.” Jelas Mark pada Annelson.

Annelson mengitari meja itu, memegangi setiap kursi yang melingkarinya. Mengganti kode rahasianya sendiri saat itu juga. Sesuatu yang sudah dia hafal begitu saja.

“Kursi ini? Dan kenapa aku harus menyimpannya di lobi hotel” Tanya Annelson.

“Kursi hanya pelengkap. Dan tempat terbaik untuk menyembunyikan sesuatu adalah dengan menyimpannya di tempat terbuka, sehingga orang lain tak akan menganggap rahasiamu sebagai sesuatu yang rahasia.” Jelas Mark lagi.

Annelson hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

“Uangku?” Tanya Mark.

Annelson tertawa kecil, lalu mengeluarkan dua amplop dengan ketebalan yang sama. Setebal bata, sama seperti diterima Mark beberapa pekan yang lalu.

“Kau tak ingin tahu apa yang akan kusimpan di dalam sana?” Goda Annelson pada Mark.

“Urusanku sudah usai dengan kayu.”

Annelson kembali tersenyum kecil.

“siang ini, selesai waktu makan akan ada orang yang ada menjemput meja dan kursi ini ke sini.” Annelson menyalami Mark, dia merasa puas. Lalu meninggal Mark, tukang kayu yang bekerja di bengkel bekas kandang babi milik bapaknya.

Pernikahan Annelson tinggal menghitung hari, dia mengendarai kendaraanya dengan pelan. Dirogohnya saku kemeja putihnya. Dia keluarkan selembar kertas berwarna terakota yang sudah dilipat dan buka entah berapa kali. Sepucuk surat cinta dari kekasih pertama, perempuan yang mengisi hatinya sebelum Maary dia temukan. Perempuan yang dia temui tahunan yang lalu, menjalin kasih dan terpisah karena kematian menjempunya begitu tragis. Penyakit akut yang tak bisa disembuhkan bahkan oleh orang sekaya Annelson. Kau tahu, seperti itulah lelaki. Mencintai satu perempuan dan enggan melepas perempuan lain, wajudnya ada ataupun tidak, dalam bentuk nyata atau sekedar kenangan. Cintanya pada Maary akan membawanya ke altar pernikahan, cintanya pada perempuan pertama membawanya pada Mark. Pembuat meja dengan kotak penyimpanan rahasia yang begitu mahal.

Dilihat 123

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Fiksi romansa yang unik dari Agus Geisha. Selalu ada cita rasa sinis dan skeptis di hampir semua karyanya, termasuk yang ini. Ditulis dengan bahasa yang lugas dan tegas, fiksi ini romantis sekaligus nyinyir, yang menjadikan fiksi Agus selalu layak dinanti.

    Dengan dua cerita besar yang dialami oleh Mark dan Annelson, cerpen ini menarik untuk disimak. Tentang persahabatan keduanya, kehidupan pribadi Annelson lalu menjahit keduanya dalam simbol meja pesanan khusus sang sahabat. Meja sebagai penyimpan rahasia besar Annelson yang ia ingin taruh di furnitur yang dibuat oleh sahabatnya. Tidak mudah ditebak dan banyak menggunakan simbol, fiksi ini cerdas!

  • Anis 
    Anis 
    2 bulan yang lalu.
    kenapa harus lagu itu, Pak?

  • desy febrianti
    desy febrianti
    2 bulan yang lalu.
    Ya begitulah lelaki..