kawan dan musuh bersama manusia

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Mei 2017
kawan dan musuh bersama manusia

Saya baru saja kembali dari tugas perusahaan untuk ikut terlibat di Big Bad Wolf, satu gelaran pameran buku. Big Bad Wolf merupakan salah satu pameran buku terbesar, yang digelar adalah buku-buku berbahasa inggris yang didatangkan langsung dari beberapa percetakan besar. Buku lokal, disediakan oleh distributor Mizan Media Utama yang selain membawa buku dari Group Penerbit Mizan juga bekerjasama dengan beberapa penerbit lokal lainnya.

Hari pertama Big Bad Wolf dibuka setelah melewati proses sett up yang begitu melelahkan, pameran hanya dibuka untuk mereka yang memiliki tiket vip. Mereka adalah undangan dan member beruntung. Diluar dugaan, animo para penerima tiket vip ini ternyata begitu antusias. Buku-buku begitu cepat habis di meja-meja displai, terutama buku-buku anak dengan kemasan yang unik. Satu atau dua orang berbelanja dengan batas yang tidak umum. Memakai trolley lebih dari satu dan membeli buku lebih dari satu eksemplar. Berpuluh-puluh bahkan.

Mereka, yang berbelanja banyak itu adalah jastip (jasa titip) atau calo. Perantara pembelian buku Big Bad Wolf. Jumlah mereka, mungkin lebih dari dua puluh orang dan jumlah transaksi dari setiap jastip bisa sampai ratusan juta. Mekanismenya adalah, mereka menimbun buku-buku di trolley-trolley mereka atau disimpan di customer storage, fasilitas yang memang disediakan oleh Big Bad Wolf, lalu mereka mengiklankan buku-buku tersebut lewat media sosial dan lain hal sebagainya. Sampai pembeli mengirim biaya pembelian, jastip tetap menimbun barangnya. Sehingga, sekali transaksi mereka bisa mencatatkan nilai yang fantastis. Keuntungannya, tentu dari harga barang yang mereka naikan sekian rupiah. Pemanfaat jasa mereka adalah orang-orang yang jauh dari JABODETABEK dan tidak memungkinkan untuk datang ke Big Bad Wolf, atau mereka yang tinggal di JABODETABEK tapi tetap tak memungkinkan untuk datang ke Big Bad Wolf. Alasan mereka yang terakhir disebut biasanya karena malas. Industri memang tersedia bagi mereka yang malas.

Tak sampai di sana, ada mekanisme lain, lebih brutal. Mereka menimbun barang dalam trolley, tidak memasukannya ke customer storage. Dalam timbunan buku mereka di sisi-sisi hall pameran. Ketika ada yang melihat timbunan buku mereka yang menarik dan bertanya mengenai lokasi displai buku tersebut, para calo mengatakan bahwa buku itu sudah habis sambil menawarkan buku yang ada di timbunannya. Dengan imbalan. Ini seperti para ogah yang mengatur jalan di perempatan/pertigaan jalan atau U Turn. Atau seperti pedagang kaki lima yang memanfaatkan trotoar jalan.

Tadi sore, sehabis mendampingi penulis memberi ceramah di salah satu kampus di Bandung dan dilanjutkan dengan berpartisipasi dalam rapat persiapan untuk PAKOBAN (Pasar Komik Bandung) mewakili Bentang Pustaka, saya pulang melewati satu gerai cake yang sedang begitu terkenal. Gerainya seperti tutup, saya tidak tahu pasti. Tapi di kanan kiri jalan di atas jok motor dan bagasi mobil yang terbuka, cake yang terkenal itu dijual. Oleh calo tentunya. Para penimbun.

Ketika berbicara dengan beberapa staf Big Bad Wolf dari Malaysia yang kaget dengan menggilanya jastip, saya katakan bahwa di Indonesia pengkolan bisa jadi uang. Memang, sebagian besar orang indonesia –jika tak bisa dikatakan semuanya- memiliki kemampuan memanfaatkan sesuatu untuk menjadi uang, sehingga angka tinggi pengangguran di Indonesia belum begitu mengkhawatirkan sebab belum berbanding lurus dengan angka kelaparan. Seandainya pengangguran dan kelaparan sejajar, maka negara ini tak akan seperti sekarang. Tak akan ada hiruk pikuk pilkada yang membuat mual dan gerakan-gerakan agama yang dengan mudahnya ditunggangi politik. Sebab, isi perut adalah kawan sekaligus musuh bersama bagi umat manusia.

  • view 82