Aku Monyet

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 April 2017
Aku Monyet

Aku Monyet

 

Aku monyet. Aku sebenar-benarnya monyet. Aku menjadi monyet sudah sejak lama, sejak aku terlahir. Aku tak yakin betul sejak kapan aku berada di sini, di tempat yang begitu tak nyaman untuk didiami. Begitu banyak sekat antara para monyet. Tempat ini adalah awal setiap pagi dan akhir setiap malam, aku berangkat dan aku pulang. Kecuali pada hari-hari yang begitu sepi.

Tuanku lelaki yang selalu memakai topi di kepalanya. Topi berwarna biru yang sudah begitu lapuk dan berumur di atas pet di muka topi itu tertulis huruf-huruf yang entah apa artinya. FBI. Lelaki yang belum terlalu tua itu, setiap pagi, begitu bangun tidur langsung mengisi gelas dengan air dari teko, lalu meminumnya dengan sekali tenggak. Lalu pergi ke kamar mandi sambil menyalakan sebatang rokok filter yang selalu ada di saku celananya. Dia tak pernah sarapan, tak pernah dia punya istri yang menyiapkannya sarapan. Nasi goreng atau roti bakar, segelas susu atau secangkir teh. Kami lalu pergi kebanyak tempat di pinggiran kota setelah tas lapuk kesayangan lelaki itu berada di punggungnya.

Selama aku bersamanya, aku tak pernah mendengarnya menyanyi, dia selalu diam, jarang sekali bicara. Hanya beberapa kata saja yang selalu aku ingat dan begitu sering dikatakanya. Mungkin sebetulnya bukan kata.

Kali ini, aku tak tahu akan kemana dia membawaku. Langkahnya ringan seperti biasa, asap rokoknya terus mengepul. Aku tak pernah peduli kemana aku akan di bawa, aku tak pernah berusaha melarikan diri darinya. Tak ada dunia sebaik ini bagiku. Di tempat lain, aku belum tentu diberi makan, diperlakukan baik dan terhindar dari bahaya. Aku hanya perlu melakukan apa yang diminta tuanku setiap dia berbicara, setiap dia mengatakan kata-kata yang sering kudengar setiap kali dia bicara. Mungkin sebetulnya bukan kata.

Badut....

Ck ck ck ...

Keur...keur...keur....

Eya...eya...eya....

Ck ck ck ....

Biasanya kami berhenti di pasar, atau di tempat yang ramai. Lelaki itu akan menurunkanku dari bahunya, memintaku menunggu hingga dia mengeluarkan benda mirip gendang dan susunan lempengan besi lalu membunyikannya.

Itu pertanda.

Aku melompat memutar. Berjalan pelan. Melompat memutar lagi. Tuanku membunyikan suara-suara. Aku meraih sepeda kecilku yang sudah disodorkan oleh lelaki itu, aku berdiri di sadel yang terlalu rendah untuk kududuki. Tuanku menyorongkan sepeda ke sisi kanan, lalu ke kiri. Aku memutar.

Orang-orang berkerumun.

Menjadi monyet tak selalu mengenakkan, kadang ada juga rasa sedih atau susah yang harus diderita. Menjadi monyet bukan hanya perkara patuh pada tuannya, kadang ada kejadian-kejadian yang bisa membuatku tak ingin makan. Atau tak ingin menuruti kata tuanku. Aku pernah sekali waktu, melihat tuanku begitu marah entah pada apa atau siapa. Tapi aku tahu dia sedang marah. Matanya merah, bicaranya banyak tak seperti biasa, gerak laku tubuhnya begitu kasar. Dia tendang apa yang ada di dekatnya dan menghalangi langkahnya, dia dobrak pintu rumahnya yang tak pernah dikunci. Dia meracau hingga dini hari. Esok paginya, aku tak kemana-mana. Juga tuanku. Kami tak keliling pinggir kampung bersama tas lusuh milik tuanku. Aku tak ingin makan, aku hanya ingin diam, melihat apakah tuanku sudah kembali ke dalam dirinya lagi atau masih dalam keadaan marah. Aku hanya memerhatikan pintu rumahnya sepanjang hari itu, hingga suatu waktu dia membukanya. Wajahnya begitu kacau. Tak ada pisang hari ini.

“Hari ini kita tak akan kemana-mana, Badut. Aku malas!” Tak ada pisang hingga malam menjelang.

Aku bisa menahan rasa laparku, aku hanya ingin tuanku kembali seperti biasa, membawaku keliling pinggir kota dan memainkan alat musiknya yang begitu sederhana. Dan itu, terjadi keesokan harinya lagi. Dia kembali menuangkan air ke dalam gelas, menyalakan sebatang rokok dan memasuki kamar mandi. Aku bahagia.

Orang-orang kian banyak berkumpul.

Sehelai kecil karpet berwarnai hijau yang entah didapat dari mana dilemparkan tuanku, aku mendekatinya. Lalu menunduk, berdiri, menunduk, berdiri lagi. Aku melompat melingkar ditas karpet berwarna hijau.

Orang-orang melemparkan uang. Aku memungutinya, memasukannya ke dalam kaleng kecil di samping tempat tuanku duduk.

Ini untukmu lelaki yang selalu memakai topi sebab tak ingin orang-orang melihat wajahmu.

Suatu ketika pada pagi hari, aku tak melihat lelaki itu keluar dari rumahnya. Tak aku lihat dia menuang air ke dalam gelas. Berhari-hari. Aku makan seadanya, sisa makanku hari kemarin atau seminggu sebelumnya. Aku tak pernah mempermasalahkan makan. Aku mencarinya, hanya dengan membuat kebisingan di dalam sekatku. Tak ada yang keluar dari rumah lelaki itu. Mungkin tiga atau empat hari, baru ada yang memasuki rumah itu. Aku rasa kawannya. Tuanku terhuyung, keluar rumah, dipapah kawannya. Dia terjatuh, lalu muntah mengeluarkan isi perutnya dan bau tak sedap menyeruak.

Aku mencuri dengar, tuanku sakit. Makannya tak baik dan terlalu banyak meminum minuman keras. Lama aku tak melihatnya, hingga sepekan barangkali, hingga akhirnya, topi biru yang biasa dikenakannya aku tangkap dari sudut kiri mataku. Dia berjalan sendiri, tak ada yang mendampinginya. Aku bahagia, setelah berhari-hari turut sedih sebab penyakit tuanku. Dia membakanku pisang. Hari ini makan lebih baik.

Anak-anak kecil dan orang dewasa berebut tempat mengerumuni aku dan tuanku.

Topeng manusia yang barangkali masih muda aku pungut, lalu aku kenakan di kepalaku. Berjalan kesana kemari, menghampiri orang-orang yang berkerumun dan menenteng kaleng berisi rupiah. Beberapa orang yang berkerumun itu lalu memasukan uang ke dalam kaleng. Wajahnya seperti bahagia. Beberapa dari mereka adalah anak kecil yang dititipi uang oleh orang yang lebih dewasa.

Ini untukmu lelaki yang selalu singgah di warung kopi setiap petang agar kau bisa melihat paras perempuan penjaga warung.

Setiap hari, barangkali empat atau lima tempat kami kunjugi. Beberapa atraksi di satu atau dua tempat mungkin terlalu berdekatan, tapi tentu bukan soal sebab sirkus selalu menggembirakan dan tak pernah membosankan.

  • view 133