Menjadi Bapak 2

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Maret 2017
Menjadi Bapak 2

Beberapa bulan yang lalu, saya mengganti uang dua ratus empat puluh ribu yang ada di dompet saya dengsan sepasang sepatu roda berwarna merah muda, benda yang beberapa hari sebelumnya selalu disebut oleh anak pertama saya. Ada sedikit rasa khawatir padahal, sebab anak pertama saya ini memiliki perangai mudah menyerah, terutama jika memiliki ingatan yang tidak menyenangkan. Tak mau main ke satu lokasi karena ada kawan seumurnya yang berbuat baik padanya, tak lagi memakan sesuatu karena pada kecap pertama tak enak atau bisa juga tak akan lagi menggunakan sepatu roda warna merah muda tadi jika pada percobaan pertama jatuh. Bisa saja. Tapi saya berjudi, tekad saya sudah bulat, saya sudah tak peduli lagi akan jadi apa uang yang sudah saya tukar tadi. Saya bawa pulang sepatu roda dari penjual yang mungkin umurnya masih muda itu.

Sampai di rumah, ketika melihat sepatu roda berwaran merah muda, anak pertama tersenyum, saya bahagia. Itu barangkali sudah cukup bagi saya. Lalu dia mulai mencobanya, di dalam rumah, di lorong sempit antara ruang depan dan dapur. Pelan sekali, berpegangan pada tembok yang catnya luntur dan seperti selalu basah. Sesekali, beberapa hari selanjutnya dia bermain di luar rumah bersama kawan-kawan seumurnya.

Beberapa pekan ini, setiap hari minggu jika saya tak ada pekerjaan yang mendesak, saya dan istri mengantarnya bermain sepatu roda di jalan Supratman, Bandung. Jalanan pendek yang ditutup dan dipakai bermain sepatu roda oleh anak-anak seumur anak pertama saya.

Anak saya, tak mahir bermain sepatu roda. Sama sekali tak mahir. Meluncur belum begitu berani, bahkan untuk melaju begitu lambat. Pelan sekali. Tapi bagi saya, itu bukan soal. Saya tidak sedang berharap anak saya menjadi yang terbaik selalu. Saya sedang menanamkan kenangan. Saya, sebagai bapak ada disisinya, mendampingi dia.

  • view 147