Menjadi Rumah (Bagian ke II)

Menjadi Rumah (Bagian ke II) Menjadi Rumah (Bagian ke II)

Bagian II

 

Namanya Salia, dia terlahir dari perempuan yang kini bekerja sebagai guru di SD, seorang janda setelah dua pernikahannya berakhir dengan perceraian. Dia teman pertama setelah aku berseragam putih abu selama dua tahun. Salia memiliki perawakan yang kecil, ramping dan berambut pendek. Geraknya lincah dan cekatan. Pertama kali megenalnya di ruang tata usaha sekolah.

“Saya sudah sampaikan surat ke bapak saya, belum ada uang katanya, kalau sudah ada uang akan dibayar.” Aku kembali memberikan alasan yang sama, alasan yang selalu aku katakan ketika karyawan tata usaha sekolah menanyakan perihal pembayaran iuran bulanan. Nyaris setiap bulan.

“Kamu sudah telat bayar lima bulan, anak yang lain paling lama telat dua bulan. Sekolah ini memerlukan biaya untuk dana operasional.” Aku hanya menunduk, sudah tak ada lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan. “Nanti saya coba bicara dengan Kepala Sekolah,telat iuran lima bulan sudah tidak biasa.” Lanjut perempuan dengan kerudung tak teratur yang duduk di balik meja. Di hadapanku.

Aku diperbolehkannya keluar dari ruangan dan kembali ke kelas, melewati pintu dan berpapasan dengan Salia yang juga sama hendak keluar ruangan.

“Telat iuran berapa bulan?” katanya.

“Lima bulan.” Kataku sambil tersenyum. Senyum malu untuk menutupi banyak hal.

“Harusnya sekolah tak perlu memungut biaya, kita sudah berikan waktu.”

“... ...” Aku tak paham apa yang dikatakannya.

“Aku Salia, kelas paling pojok dekat kantin.” Tangannya menunjuk satu pojok sekolah yang terdapat kelas yang berhadapan langsung dengan kantin. Aku menyambut uluran tangannya, menyebut namaku. Sejak saat itu, Salia sering mendengar cerita keluargaku.

“Aku belum makan sejak kemarin.” Kataku suatu ketika setiba di sekolah dan mendapati Salia di kelasnya. “Bapak belum pulang sejak minggu kemarin, aku sudah malu berutang ke warung.” Mataku tak mampu lagi menahan air yang hendak keluar. Sudah kutahan.

“Kita ke kantin!” Ajaknya, menuntun tanganku yang menutup wajahku yang sembab.

“Kemana bapakmu?” Sesampai di kantin, aku tak bisa menyembunyikan lapar, mengunnyah dengan tergesa hingga tersedak.

“Bapak ku sekarang mengajar di luar kota, hanya kembali seminggu sekali dan kadang tak membawa uang banyak. Tenaganya kadang tak dibayar layak. Vespanya sudah tua dan sering mogok.”

“Kenapa harus di luar kota? Disini banyak kampus.”

“Bapak dijauhi rekan sekerja di kampus yang lama. Bapak berada di pihak yang kalah ketika sengketa yayasan. Dia terbuang bersama kawan-kawannya.”

“Ibumu?”

“Ibu masih suka meracau meski tak pernah lagi mengamuk.”

Bel tanda masuk kelas berbunyi menghentikan obrolan kami. Aku menuju kelasku, Salia menuju kelasnya.

Pulang sekolah, Salia bersikeras ingin menemaniku pulang. Ingin singgah kerumahku. Aku memohon untuk tak hari ini, untuk tak pernah, tapi dia memaksa. Dan jadilah Salia yang pertama yang pernah melihat rumahku. Orang lain yang bisa melewati pintu rumah kami yang berantakan.

Kursi sudah tak layak diduduki, lantai dan tembok tak sedap dipangdang. Tapi Salia memasukin rumah kami dan duduk di kuris itu. Ibuku keluar dari kamarnya, Salia bangkit dan menyalaminya.

“Teman sekolah Nur?” Tanya ibuku.

“Iya, Bu. Rumah saya di Pasawahan.”

“Ibu masak dulu, kamu makan siang di sini saja.” Ibu melangkah menuju dapur, mencari sesuatu untuk dimasak. Tak menemukan apa-apa. Aku keluar kamarku, menyiapkan dua gelas air minum, lalu meletakannya di meja, dihadapan Salia.

“Antar aku ke warung, Nur.” Pinta Salia.

Salia membeli empat bungkus mie rebus dan seperempat kilo telur ayam lalu menyerahkannya padaku. Untuk makan siang kita dan makan malam mu. Mudah-mudahan cukup. Aku benar-benar ingin menangis.

Ibu memasak apa yang kami bawa, dua bungkus mie rebus dan telur. Tak ada nasi. Kami makan bertiga. Salia pamit pulang setengah jam setelah kami makan bersama. Aku mengantarkannya dengan pandang mata hingga dia berbelok di jalan menikung.

“Kenapa tak belikan Ibu rokok, Nur?” Suara ibu dari belakangku menyadarkan.

“Mie sama telur Salia yang belikan, masa harus minta belikan rokok juga.” Kataku membantah.

“Apa beda mie dan rokok? Sama saja dibeli.” Tandasnya, memasuki lagi kamarnya. Aku menghela nafas.

***

Besoknya, pagi sekali aku terbangun untuk shalat shubuh, Bapak tak pulang, tak kulihat disemua bagian rumah. Ibu duduk di dapur, menghadapi kompor yang tak berapi, mengalunkan lamunannya entah kemana. Adik-adikku semuanya ada di rumah Nenek, diselamatkan istilah nenekku.

Seusai jam pelajaran sekolah, aku dan Salia berjalan menuju perpustakaan daerah, mengembalikan buku yang dipinjam Salia untuk kembali meminjam buku lainnya. Aku duduk di bangku kecil di beranda perpustakaan ketika Salia berada di dalamnya, bangunan tua yang masih terawat.

“Mau minum?” Suara Salia mengagetkanku. Dia berlalu dan kembali dengan dua botol limun.

“Aku mencoba menahan, Nur. Aku mencoba menahan untuk tak tahu lebih jauh tentang keluargamu, tapi sungguh, jika Nur ingin bercerita, ceritakanlah.” Aku menghela nafas, menatap Salia dan berpaling ke setumpuk buku di sampingnya.

“Keluargaku koyak.” Lalu aku diam, menatap sekitar, memastikan tak ada siapapun yang bisa mendengar selain kami berdua. “Sudah lama.”

Salia mendorong limun ke dalam kerongkongannya, seperti sedang bersiap dengan sesuatu.

“Ibuku cantik, cantik sekali. Menjadi pusat perhatian kawan-kawanku ketika aku masih kecil. Masakan ibu enak.” Aku mencoba untuk tidak menangis dan mengingat semua. “Ibu mulai sering meracau ketika aku kelas enam Sekolah Dasar. Hanya meracau, bicara sendiri, ketika ditegur. Dia hanya tersenyum.”

“Bapakmu?”

“Mungkin ada peran Bapak yang membuat Ibu seperti ini. Aku sering mencuri dengar percakapan Bapak dan Ibu ketika aku masih kecil. Aku sering dengar Ibu ingin bekerja, Bapak selalu menolak, Bapak bilang, bekerja adalah urusan lelaki. Biar bapak yang mencari uang, katanya. Lain waktu aku juga pernah mendengar Ibu mengajak Bapak membuka warung, aku tak tahu apa jawaban Bapak, tapi aku rasa Ibu tak puas dengan jawaban Bapak. Mungkin sejak saat itu, sejak banyak gagasan Ibu ditolak Bapak, Ibu sering melamun sendiri. Seolah bosan, meski ada aku dan adik-adikku.”

“Adik-adikmu sekarang di mana?”

“Di rumah Nenekku. Sudah lama.”

“Sekolah?”

“Mungkin sekolah.”

“Kapan terakhir ketemu?”

“Sudah lama. Lama sekali. Aku bahkan sudah lupa bagaimana kami dulu.”

“Mereka di sana sejak kapan?”

“Sejak Ibu bawa mereka kesana. Mereka akhirnya diurus Nenek. Bapak dilarang membawanya lagi. Nenekku bilang, lebih baik obati Ibu.”

“Padahal, aku bisa lihat, Ibumu itu sebetulnya sangat baik. Dia mungkin hanya tertekan karena keinginannya tak terwujud. Mungkin awalnya bosan.”

“Ibu waktu kuliah orang yang sangat aktif, selain kuliah juga mengajar anak-anak sekitar kamar sewaannya. Dulu, di Bandung, Ibu bahkan aktif di sanggar teater. Aku pernah melihat potonya ketika masih kuliah dulu.”

Salia mengangguk pelan, seperti sedang mencoba mengerti, disaat bersamaan, aku sudah tak ingin mengerti.

Limun kami berdua sudah hampir habis setengahnya, hari masih siang, kami berdua masih mengenakan seragam sekolah. Aku sedang merasa memiliki teman, sedang membuka diri pada orang lain mengenai keluargaku.

“Mungkin benar, peran Bapak dalam penyakit Ibu hari ini begitu besar. Bapak tidak suka mendengar, suka mengurus sesuatu sendiri, memendam masalah dan tak ingin diberi lebih banyak masalah. Sementara Ibu ingin didengar dan dilibatkan dalam masalah Bapak, atau membuat masalah dalam keluarga, menciptakan pekerjaan baru untuk dirinya. Menyibukan diri seperti dulu.”

Salia menandaskan limun dalam botolnya.

“Tapi, hanya menyalahkan Bapak pun rasanya tidak adil. Meskipun bapak tidak benar-benar baik sebagai suami, Bapak bukan laki-laki yang sembarangan. Dia bekerja, menghidupi keluarga dan selalu berangkat dan pulang kerja dari rumah.”

Salia mencoba mendalamiku.

“Aku hanya sedih dengan keadaanku hari ini. Merindukan Ibu yang dulu dan adiku-adikku. Bapak selalu hadir sebagai Bapak, aku tak begitu dekat.”

Salia membagi dua tumpukan bukunya yang ia pinjam dari perpustakaan, memberikannya setengah padaku.

“Mau baca?”

“Baca?”

“Bacalah, anggap sebagai hiburan. Ini buku-buku cerita.”

Aku memandangi setengah tumpuk buku yang disodorkan Salia, lalu mengambilnya.

“Aku juga membaca untuk menghibur diri, mencari sesuatu untuk dipikirkan.”

“Untuk dipikirkan?”

“Iya. Mengalihkan dari pikiran yang sebetulnya harus dipikirkan.”

Salia meloncat dari bangku tempat kami duduk, mengajakku meninggalkan perpustakaan.

Kami berpisah di pemberhentian angkutan, sebelumnya, dia keluarkan bungkusan hitam dari tasnya. Ini beras dan sedikit lauk, terima saja, anggap ini pemberiaan dari teman. Aku menggangguk, ingin menangis. Dia selipkan juga uang, ini sedikit dari tabunganku, buat bekal, katanya. Aku tak ingin menolak, aku memang sedang butuh meski sedikit uang.

Kami berpisah karena berbeda mobil angkutan, aku berterima kasih, dia bilang tak usah berterima kasih, kita teman.

agus geisha

Menjadi Rumah (Bagian ke II)

Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 07 Februari 2017
Ringkasan
Nama Salia baru saja ditemukan sebelum unggah

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Sekuel dari ‘Menjadi Rumah’ bagian I ini layak diapresiasi sebab mengangkat tema yang cukup miris, hal yang mungkin banyak ditemukan di masyarakat. Di balik kalimat-kalimat Agus Geisha yang padat, tegas tersirat tema-tema berat yang bisa jadi kita temukan dalam keseharian kita jika kita mau menengok apa yang terjadi di dalam keluarga besar, tetangga, saudara atau dengar cerita dari kenalan kita.

    Cerpen yang berkisah tentang ibu Nur, yang dalam karya ini digambarkan mengalami stres hingga sering meracau sendiri akibat kurangnya komunikasi dengan sang suami. Betapa membaca cerpen ini membuat siapa pun akan merenung isinya yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Potret rill yang tertuang secara pedih sekaligus jujur. Terima kasih telah berbagi di sini, Agus!