Menjadi Rumah (Bagian ke I)

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2017
Menjadi Rumah (Bagian ke I)

Bagian I

 

Aku masih ingat, hari itu ibu menemaniku ke sekolah untuk mengambil buku rapor tahunan. Ibu memakai rok selutut dan kemeja warna abu dengan bunga-bunga memenuhinya. Rambutnya diikat sebahu. Sepanjang jalan aku menggenggam tangan kanan ibu, berjalan jinjit riang seperti menghindar dari sesuatu. Saat itu aku masih kelas dua sekolah dasar. Dan ibu terlihat sangat cantik, bukan hanya karena aku anaknya, tapi karena lebih dari lima teman sekolahku juga berkata demikian.

“Ibumu cantik, Nur.” Kata mereka berbisik di luar kelas ketika kami sama-sama mengintip upacara pembagian rapor. Aku tersenyum, bangga dan senang.

Pulangnya, ibu membawaku singgah ke pasar, tak jauh dari sekolah. Ibu membeli banyak sayur dan daging. Untuk perayaan, katanya.

“Bapak harus tahu, kau peringkat pertama di kelasmu. Hari ini kita masak dan makan besar.” Kata ibu ketika kami berdua menikmati makan siang di warung bakso pinggir jalan.

Hari itu, meski cuaca begitu panas dan keringat mengucur deras membasahi kemeja seragam sekolah, ibu begitu cantik dan aku sangat bahagia.

***

Aku menyeret sandal jepit yang sudah tak jelas warnanya, lapuk dan tak karuan tali karetnya. Aku menangis dan kedua telapak tangan menutupi telinga kiri dan kanan, mencoba berpikir kemana harus sembunyi. Dari dalam rumah, terdengar suara ibu marah. Pada sesuatu.

“Pergi! Hus hus! Ini keluargaku, jangan ganggu! Aku masih ada keturunan Prabu Siliwangi!” Tak begitu jelas siapa yang dimarahi ibu, selepas maghrib ibu diam di kamar, membuka pintu dan lalu memarahi ruang kosong. Bapak baru akan pulang satu jam lagi, dan adik-adikku masih kecil. Aku takut.

Aku lompati pagar bambu yang tak begitu tegak di rumah sebelah yang tak berpenghuni, memasukinya lewat jendela tak berkaca, lalu mencari meja yang sudah lama tak dipakai. Aku meromok di bawahnya dengan lutut yang bergetar, masih mendengar ibu memarahi entah siapa. Aku menangis sendirian.

Aku hampir tertidur ketika suara motor butut bapak terdengar sayup, pintu rumah dibuka. Aku bangkit dan keluar dari bawah meja, mengintip dalam gelap rumah tak berpenghuni dan keluar melewati jalan masuk tadi.

“Bapak, coba bapak itu tampar mulut perempuan tua yang ada di rumah ujung kompleks. Dia suka membicarakan kita. Membicarakan rumah kita, membicarakan motor bapak dan pakaian anak-anak.” Aku mendengar ibu memerintah bapak yang masih membawa wajah kuyunya.

Bapak duduk di sofa yang tak lagi memiliki busa, memerhatikan ibu yang berbicara dengan bersungut-sungut.

“Perempuan itu didiami roh yang mendiami parit, jadi bicaranya tak bisa dijaga.” Lanjut ibu. Aku belum berani masuk ke dalam rumah, menunggu di pekarangan yang lebat oleh rumput setinggi mata kaki.

Bapak lalu bangkit dari duduknya, berjalan keluar rumah tanpa alas kaki menuju ujung kompleks. Aku diperintah masuk rumah.

Besoknya, pagi sebelum berangkat sekolah, sebelum kukenakan rok berwarna biru, aku mendengar suara ketuk pintu. Ibu masuk kamar meninggalkan penggorengan dan minyak yang sedang mendidih. Bapak membukakan pintu. Lama terdengar percakapan antara tamu dan bapak. Aku mencuri dengar, bapak tak mempersilakan mereka masuk dan duduk, mereka hanya berbincang di teras rumah yang tak ada kursinya.

“Saya minta maaf......”

“Barangkali bisa nanti usai isya kita bicarakan lebih lanjut di rumah saya...”

Penggalan kalimat itu saja yang bisa aku tangkap, bisa jadi ini perkara kemarin malam, mengenai bapak yang tak beralas kaki dan berjalan tergesa menuju ujung kompleks.

Ibu kembali keluar kamar setelah tamu tak terdengar dan pintu ditutup, tempe di penggorengan sudah gosong. Bapak memintaku untuk bergegas, memakai pakaian, menyiapkan bekal dan meninggalkan rumah. Dan ibu.

Sebelum menyalakan motornya, bapak memintaku untuk menunggu di teras rumah. Aku melihat bapak dan ibu masuk kamar, tak lama mereka keluar. Ibu mencium tangan bapak. Bapak keluar dan menyalakan motor, ibu mengikutinya hingga pintu.

“Jangan lupa dan jangan tinggalkan shalat.” Kata bapak pada ibu. Ibu mengangguk. Matanya sudah tak lagi kukenali.

Sepanjang jalan menuju sekolah dalam boncengan motor bapak, aku berpikir keras, apa yang terjadi pada ibu. Aku menarik garis lurus kemasa lalu. Mencoba mencari penyebab kelakuan ibu semalam.

***

Beberapa tahun belakangan ini, kami sering berpindah rumah. Sewa rumah, lalu pindah. Kami tak pernah memiliki rumah, aku tak pernah memiliki teman bermain. Kadang rumah kami besar, ada beberapa kamar dan ruang tamu. Kadang hanya bangunan kotak dengan kamar mandi dan dapur saja. Kamar kami sekat sendiri. Bapak seolah selalu tak pernah punya niat untuk membelikan ibu rumah, atau berusaha mencicil. Uang selalu seperti habis entah kemana, padahal bapak kerja.

Pernah sekali waktu kami menempati rumah saudara di utara kota, rumahnya besar menghadap jalan antar provinsi dan kebun tebu yang begitu luas di belakangnya. Pekarangan depan rumah luas dan berpagar besi, pekarangan belakang hanya berpagar bambu. Di pekarangan belakang, ibu sering terlihat menyendiri, duduk memerhatikanku bermain dengan boneka tikus berwana abu. Dua tahun kami tinggal di sana, lalu pindah ke pusat kota, bapak bilang rumah di tengah kota lebih dekat dengan tempat kerja bapak. Bapak sewa rumah yang tak begitu kecil.

Sejak menempati rumah di tengah kota, ibu sering meracau mengenai harta warisan dan garis keturunan.

“Di Bandung, di dekat kampus ITB, ada jalan yang di ujungnya terdapat tanah kosong kira-kira delapan puluh depa orang dewasa. Itu nanti tanah untukmu jika sudah menikah.” Suatu ketika saat bapak tak di rumah ibu pernah berkata demikian.

Ibu memang pernah sekolah di Bandung, kuliah dan menjadi sarjana pendidikan. Tapi mengenai tanah warisan, aku tak begitu yakin meski sempat senang. Aku masih anak kecil ketika ibu berbicara demikian.

Lain waktu, ibu pernah mengajakku ke Bogor.

“Sebelum benar-benar lenyap, kerajaan Sunda ada di sana. Kita harus mencari jejak leluhur. Kita ini masih ada keturunan raja-raja. Kau harus tahu leluhur.” Kata ibu sambil memegangi wajahnya yang tirus. Aku tak begitu mengerti.

Aku sering menangkap perbincangan ibu dan bapak karena rumah kami yang tak begitu besar meski tak kecil. Ibu sering mengajak bapak untuk membuka warung, memulai usaha. Bapak selalu tak menanggapinya. Selalu sibuk dengan kepul asap rokoknya, atau dengan buku-buku tebal bahan bapak mengajar. Hingga larut malam sendirian. Biasanya, ibu lalu masuk kamar dan tak keluar hingga adzan shubuh.

Bapak mengajar di sekolah tinggi di bawah yayasan swasta. Mengajar hukum pidana dan aktif juga di yayasan. Kadang pulang larut karena rapat, atau tak pulang dua atau tiga malam karena harus ke Bandung. Biasanya pulang membawa buah tangan. Bapak terlihat lebih tua dari umurnya, dari cerita yang kudengar, bapak sebetulnya ingin menjadi notaris. Jika ada yang aku benci dari bapak, itu adalah kepul asap rokoknya, aku tak peduli dengan rumah yang selalu berpindah atau motor bapak yang sering mogok saat dipakai. Bapak menikahi ibu ketika kuliahnya belum selesai dan bapak belum menjadi sarjana hukum.

***

Kian hari keadaan ibu semakin tak jelas, sering marah-marah dan menggerutu sendiri. Mulai mencuri rokok dari bapak dan sering memakan makanan dengan rasa yang tajam. Pedas dan asam. Ibu selalu bilang bahwa rokok dan makanan dengan rasa yang sangat tajam membunuh bakteri dalam tubuhnya. Ibu semakin kurus dan anak-anaknya semakin tak terurus. Aku menarik diri dari pergaulan, tak berani memiliki teman.

Bapak berusaha mengobati ibu, berbicara dengan keluarga besar ibuku lewat telepon. Mereka menyarankan agar mendatangkan paranormal untuk melihat keadaan ibu.

“Sepertinya ada yang masuk ke dalam raga ibu. Harus diobati dengan telaten. Bisa jadi tidak hanya sekali pengobatan.” Lelaki tua dengan peci hitam dan janggut memutih itu bicara pada bapak di ruang tamu yang tak begitu lega. Aku bisa mendengarnya ketika menemani ibu di kamar seusai meminum air yang sudah dirapali mantra. Mungkin doa. Adik-adikku sudah tidur.

“Kira-kira apa bisa seperti semula? Belakangan sudah mulai tak sering marah-marah atau teriak, tapi sekarang jadi sering berpikir bahwa dalam tubuhnya ada bakteri yang harus dibunuh oleh rokok dan cuka.” Kata bapak terdengar begitu gusar.

“Kita usahakan, mudah-mudahan apa yang ada di raga ibu tidak banyak dan mudah ditaklukan.” Lelaki itu bersiap pamit, mengantongi amplop dan dua bungkus rokok yang diserahkan bapak.

Bapak melongok ke dalam kamar, memintaku agar meninggalkan ibu dan segera tidur. Aku keluar, mencium  kening ibu.

Tak lama setelah hari itu, siang pulang sekolah aku tak mendapati ibu di rumah, pintu terbuka dan kamar ibu berantakan. Aku mencari dan memanggilnya di sekitar. Tak ada. Aku duduk lesu di sudut kamar ibu, melihat pakaian berantakan dan pintu lemari terkoyak hingga tertidur disana.

Adzan ashar membangunkanku, dan suara ibu yang memburu.

“Cepat kemasi barangmu, kita pergi dari sini.” Serbu ibu. Aku bingung dan takut. Aku takut pada ibuku sendiri. Aku menangis, bersuara dan keras. Lalu ibu berlalu meninggalkan aku sendiri, adik-adikku dalam pangkuan dan genggamannya.

Aku tak tahu apa yang bisa kuperbuat, aku tak tahu bapak ada di mana. Aku tak tahu tempat kerja bapak atau harus menghubungi siapa.

Sebelum adzan maghrib, suara motor bapak terdengar, aku memburunya.

“Ibu pergi. Bawa adik.” Kataku.

“Pergi kemana?” Bapak nampak bingung.

“Tidak tahu. Bawa baju, Pak.” Aku menangis. Bapak bingung. Dari saku celananya bapak mengeluarkan telepon genggam, lalu berbicara dengan beberapa orang. Mungkin saudar-saudara ibu. Apa ibu ada datang ke rumah mereka, tanya bapak pada mereka.

Bapak membawaku masuk rumah, membiarkan motornya di teras.

“Ibu ke rumah nenek. Biar saja dulu di sana. Nanti kita kesana jemput ibu kalau bapak libur kerja. Biar ibu istirahat di rumah nenek dulu.” Nyatanya, kami tak pernah menjemput ibu, ibu datang sendiri empat hari kemudian. Tanpa adik-adikku. Tanpa dirinya yang mengambil buku rapor ketika aku masih kelas dua sekolah dasar.

***

Keadaan tak menjadi baik hingga aku berseragam abu putih, ibu masih suka meracau sendiri, menghabiskan rokok dan duduk di sudut rumah. Aku semakin menarik diri dari pergaulan dan tak memiliki teman. Bapak bekerja kadang hingga larut malam. Semua berlangsung seperti sudah biasa.

Dilihat 86