Ina

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Puisi
dipublikasikan 03 Februari 2017
Ina

Tetapi Ina, kan tak mungkin lagi aku ke kamu. Kita bertemu ketika waktu sudah tak memihak aku atau kamu. Semuanya sudah sekarang, bukan kemarin atau kemarin dulu.

Kita hanya bisa pacaran.

Saling mengingatkan makan dan jaga kesehatan.

Saling mengingatkan cinta yang tak lagi harus bersama.

 

Hari itu, jinjinganmu adalah sekilo jeruk dan sepotong semangka, aku meminta sebungkus rokok kepada kasir mini market yang sedikit kemayu.

Matamu, Ina. Matamu menyumbat aliran darahku, meringkus kata-kata keluar dari mulutku.

 

Tetapi Ina, perihal cinta siapa bisa kendalikan. Dia perasaan, bukan peliharaan.

Setiap malam dia melompat dari kamarku, mencari-cari warung kopi, mencoba menemukanmu dalam secangkir pekatnya dan kepul asap tembakau.

Kamu ada di sana? Ada. Tersenyum padaku dan mengayunkan tangan.

Sini Abang, katamu.

 

Dan lalu hujan turun juga, memandikan aku, meluruhkan semua kotoran dan iri dengki.

  • view 72