Merawat Hantu (Cerpen)

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2017
Merawat Hantu (Cerpen)

Malam minggu, tapi anak-anak muda yang biasa bermain gitar kopong di ujung desa sudah tak terdengar. Padahal masih sore, isya baru saja lewat. Biasanya, selesai bubaran isya di langgar, Kurdi, pedagang bandrek ikut dalam kerumunan jamaah yang baru saja keluar. Malam ini tidak. Sejak maghrib dia sudah tak terlihat bersama dagangannya. Atau warung berselang tiga rumah dari rumah kepala kampung, juga sudah tutup. Sebagian rumah sudah memadamkan lampu, berganti dengan api-api kecil yang terlihat dari masing-masing tengah rumahnya. Hanya beberapa saja yang masih menyalakan bohlam.

Sejak kabar bahwa tanah pekuburan di ujung desa mengeluarkan asap pekat berbau kesturi menyebar, dan berita mengenai bangunnya Kakek Sardin dari peristirahatannya, kampung menjadi begitu bisu. Entah siapa yang mulai menghembuskan kabar, hanya saja dalam waktu yang tak begitu lama, kabar menyebar.

Kakek Sardin, orang tua yang entah kapan meninggalnya, kuburnya sudah ada di sana sejak aku anak-anak. Kata orang-orang, dia orang sakti dan orang pertama yang menghuni kampung ini dulu. Dulu masih berbentuk hutan katanya. Dia dan juga anak istrinya membangun gubuk dan bermukim. Dia pelarian, dikejar-kejar oleh banyak orang dari tempat asalnya. Entah dimana. Keluarganya juga sudah habis, sudah tidak ada lagi keluarga Kakek Sardin yang masih hidup. Hanya namanya saja yang masih diingat. Sebab, konon dia orang sakti.

“Dia itu, bisa membuat api hanya dengan menatap satu benda. Misal jika dia ingin menyalakan perapian, dia hanya tinggal memandangi kayu bakar, maka perapian itu akan menyala. Dia tak perlu mengadu-adu dua batu.” Aku pernah mendengar tetanggaku bercerita seperti itu. Aku tak tahu tetanggaku tahu dari mana.

“Dia bisa merubah hutan sepanjang pandang matanya menjadi kebun singkong atau ubi. Hanya dengan menatap saja.” Cerita lain dari tetangga yang lain.

“Mungkin sebetulnya dia masih hidup, hanya saja kita tak bisa melihatnya. Dia bisa melihat kita.” Lalu dugaan muncul dari banyak cerita.

“Tidak mungkin masih hidup. Kuburannya ada, dan kematiannya memang ada yang mengetahui.”

“Bisa saja masih hidup. Orang sakti, kadang yang aku tahu tak mudah mati. Ilmu-ilmunya bisa saja melindungi dia dari kematian.”

“Yang sudah mati pasti mati. Tak ada yang bisa melindungi. Ngawur!”

“Terserah. Aku percaya dia masih hidup dan selama ini bisa membuat tanah di kampung tetap menghasilkan pangan meski kemarau berkepanjangan.” Dugaan dan keadaan yang mendesak menjadikannya keyakinan.

Aku sama sekali tak benar-benar tahu siapa Kakek Sardin. Aku hanya tahu bahwa dia memang leluhur kampung. Dan ada tanah kuburnya. Aku pernah melihatnya ketika mengantar orang meninggal. Selalu ada kembang di atas kuburnya.

Kabar mengenai tanah pekuburan yang berasap dan berbau kesturi itu mulai merebak sejak minggu kemarin. Aku mendengarnya dari sesama jemaah ketika bubaran shalat jum’at.

“Asapnya begitu pekat, tapi wangi.”

“Kau pernah melihatnya? Pernah mencium baunya?”

“Aku kata orang-orang di warung, mereka bicara seperti itu semua.”

“Tapi kau pernah melihatnya langsung?”

Tak ada yang mengaku bahwa dia pernah dengan sepasang matanya melihat asap pekat itu, semua hanya mendengar. Tak ada yang berusaha dengan benar untuk memastikan mengenai kebenaran berita itu.

Petang itu, mau atau tidak aku harus pulang lebih sore dari biasanya, seorang kawan sakit dan harus dirawat. Aku tak mungkin menginap, tak ada tempat untukku menginap. Dan aku tak terbiasa tidur di tempat orang lain.

Sejak dari ujung desa, perasaanku sudah was-was. Dugaan dan anggapan mengenai hantu Kakek Sardin yang masih hidup, atau hidup lagi membayangiku terus. Aku mencoba segala doa yang kuhafal. Aku mencoba untuk menahan diri untuk tak berlari, aku juga khawatir akan ada orang lain yang melihat.

Kebun singkong di kanan jalan kali ini benar-benar terlihat gelap dari biasanya, padahal belum juga masuk waktu isya. Aku berusaha untuk tetap berjalan, mengalihkan perhatian pada apapun. Pada ladang yang tak lama lagi menjadi milik orang lain, pada pekerjaan yang tak pernah usai, pada kawanku yang dirawat, pada Aisyah cantik.

Praaakkkkk......

Bunyi di kanan jalan membuatku kaget, hampir aku berlari. Aku tahan. Aku menduga-duga. Aku lap keringat di dahiku dengan ujung lengan kausku. Aku lebih cepat membaca doa.

Angin berhembus.

Praaakkkkkkk...

Aku rasa itu suara dahan jatuh, atau apapun menimpa dahan yang lain. Aku mencoba mengenang perjumpaanku dengan Aisyah, kerudungnya yang selalu terjuntai, senyumnya semanis tebu, tutur bicaranya yang halus dan menentramkan.

“Euhm...”

Aku mendengar suara orang berdeham, suaranya berat dan khas suara orang tua. Terlalu tua untuk masih ada di kebun singkong setelah maghrib. Aku berlari, sekuat tenaga. Lintang pukang. Aku sudah tak peduli seandainya ada orang yang melihatku, yang aku pedulikan hanyalah bahwa aku tak ingin melihat Kakek Sardi.

Adzan isya sudah tinggal beberapa saat lagi, aku yakin di langgar sudah ada beberapa orang yang akan melaksanakan shalat berjamaah, aku berbelok menuju langgar sebelum menuju rumah. Berharap ketika pulang akan ada teman. Paling tidak ayahku.

Lampu langgar tak menyala, perasaanku mulai tak keruan. Pertanyaan melompat-lompat dalam kepala. Aku coba terobos halaman langgar, lalu memasuki terasnya. Belum ada orang, juga muadzin yang bersiap untk adzan.

Rasa letih seketika menyerangku, aku tak menduga bahwa jarak dari kebun singkong tadi begitu jauh. Aku tak tahu sejauh apa aku sudah berlari, secepat apa aku berlari. Nafas terengah-engah, punggung basah oleh keringat. Aku lelah. Dan lapar.

Di teras langgar itu ada tikar pandan terhampar, aku baringkan tubuhku di sana. Aku sudah lagi tak peduli dengan Kakek Sardi. Aku ada di langgar, aku ada di rumah Allah. Kakek Sardi, jikapun masih hidup atau hidup lagi, tak akan berani mendatangi tempat ini.

Ketika letih dan panik sedikit demi sedikit pergi, akal sehat mulai masuk mengisi tempat yang ditinggalkannya. Aku lihat arloji di tangan kiri, jam delapan, isya sudah lewat. Pantas langgar sepi. Kakek Sardi? Siapa kakek Sardi? Kenapa aku atau orang lain harus begitu percaya bahwa Kakek Sardi masih hidup atau hidup lagi? Apa harus takut? Aku menghela nafas.

Lalu yang tadi berdeham di kebun singkong bisa saja aku sendiri. Aku bangkit, menyalakan bohlam langgar, berwudu dan shalat isya.

  • view 86