Surat untuk Rum

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 27 Januari 2017
Surat untuk Rum

Rum, apa kabar?

Sudah lebih dari sewindu sejak terakhir kita bertemu dan aku kini berada di Central Market. Memerhatikan cokelat berbentuk gedung kembar seraya mengingat kembali parasmu.

Aku tak sedang merindukanmu ketika malam tadi entah bagaimana kau menyelinap ke dalam mimpiku melalui pori kulitku. Kita tak hanya bertemu, kita menikah layaknya sepasang remaja yang sedang dimabuk asmara. Kau dan aku seperti sepasang apapun yang tak bisa saling melepaskan. Padahal, aku sudah beristri dan engkau sudah bersuami kini.

Rum, senja itu, lebih dari sewindu yang lalu, aku membawakanmu syal berwarna merah dadu. Kubungkus benda itu dengan kertas berlapis pita. Tapi engkau tak pernah menerimanya, Rum. Aku tak berhasil menghimpun nyali untuk kemudian mengalirkannya ke tangan kananku agar dia mampu mengetuk pintu rumahmu. Jangan harap nyali itu akan juga sampai ke mulutku untuk berkata ‘Selamat malam, Rum. Selamat tidur, Sayang.’

Rum, mau cokelat? Atau kerudung?

Tentu kerudung juga ada di kota kita. Banyak di pasar-pasar. Tapi kerudung ini akan pasti lain, sebab aku beli sebagai hadiah untukmu. Apapun, yang ingin kupersembahkan untukmu semuanya lain meski hal tersebut bisa digandakan. Kaset-kaset pita berisi belasan lagu The Beatles dengan gambar sampul yang kulukis sendiri, pendulum kayu yang kuukir selama seminggu atau sajak cinta yang tak pernah sampai ke telingamu. Atau hati yang robek sejak hari kedua kita sekelas di bangku SMA.

Kau juga tahu, Rum. Aku tak mungkin merebutmu dari Chalid yang garis mukanya terlalu lembut untuk menjadi lelaki, atau dari Agus yang kaca jendela kanan mobilnya selalu terbuka, atau dari siapapun yang pernah memilikimu. Waktu itu, aku hanya remaja yang menghabiskan masa rihat kelas di perpustakaan. Mengulang kembali ‘Sayap-sayap Patah’, berjuta-juta kali.

Andik masih sering kirim bunga, Rum?

Aku tak bisa kirim bunga, Rum. Aku tak bisa benar-benar berhadapan dengan wajahmu lebih dekat dari yang pernah aku alami selama ini. Aku mabuk.

Setiap malam, Rum. Aku menulis sajak. Ada banyak yang kutulis untukmu, tapi juga ada yang bukan tentangmu. Sajak-sajak tentangmu, biasanya aku baca kembali di dalam hati, lalu kusimpan di dasar hati. Sampai hari ini, setelah sewindu lebih kita tak bertemu, aku masih sering menulis sajak untukmu. Hanya saja, kali ini sudah tak ada lagi langkah kakimu yang ringan menyusuri lorong kelas, tak ada lagi gerai halus rambutmu yang tertiup angin. Tak ada lagi tatapanmu yang menangkap tatapanku.

Rum pernah ke Malaysia? Pernah ke Thailand? Pernah ke Tibet? Pernah ke India? Pernah ke Iran?

Aku pernah, bersamamu di mimpiku. Malam-malam. Menyelinap melalui pori kulitku. Menyingkirkan istriku.