Kopi yang Bergegas dan Jakarta

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Puisi
dipublikasikan 16 Januari 2017
Kopi yang Bergegas dan Jakarta

Malam itu, sayang, telah tak sengaja kucampur darah dan tinta dalam satu wadah.

Dengan sisa keberanian yang masih ada dalam diriku, kupaksa anak kita meminumnya.

Jangan takut, Aru. Jangan!

 

Seperti akhir tahun yang lain, kita tak menghabiskan wewangian kembang,

Kita membiarkanya tetap di rimba raya kata-kata dan misteri gaia.

Engkau dan aku akan merasa terganggu dengan ingar bingar tahun baru,

Engkau dan aku akan tergegas menyiapkan kopi dan gelas esok paginya.

 

Lalu,

 

Telepon genggam berdering, tanggung jawab berdersing.

Dunia berlarian dalam bentuk yang tak pernah benar-benar kita suka.

Surga berlarian dalam bentuk yang selalu kita pertanyakan.

Rembulan, mentari, siang dan petang.

 

Kapan lagi kau bawakan aku sehelai surat cinta berhias senyummu.

Dan berahi yang melompat dari tempat asalnya.

 

Tapi ini Cikunir yang padat dan tak pernah memberi kita kesempatan untuk bercinta meski pada kota yang kita tuju terdapat lingga raksasa.

Tapi ini Cikunir.