Melarau

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Puisi
dipublikasikan 15 Januari 2017
Melarau

Kali ini sajak cinta, sayang.

Sebab remot tv dan papan tik silang sengkarut di dalam perut.

 

Tadi siang, tenggak kopi espresso beradu rasa dengan tahu crispy pada lidah yang tak lagi bisa berkata-kata kala angka-angka bertiwikrama menjadi bala.

Sebab saga menjadi semacam bara pada genggam tangan yang papa.

 

Lihat itu! Kota Bandung!

Teriak Aa Fati di ujung lidahnya sambil mengecap puting susu ibunya sebelah kiri. Tangannya mengepal dan dahinya berkerut.

Apa yang tengah kau pikirkan, Anakku? Kataku, berkabut pekat samsu yang kupungut dari saku peternak organisasi paramiliter.

 

Setiap dua hari dalam sepekan, kita akan bangun begitu siang untuk segera mendapati ibumu marah sebab rumah seperti gedung kaca yang pecah.

Aku akan menyeduhkan teh panas untuknya selagi dia mencuci ompolmu. Ompolku.

Sesendok kurang gula pasir aku tambahkan untuknya agar hidup yang begitu pahit bisa menjadi semanis paha anak perawan tetangga.

 

Sore tiba. Tulang belulangmu yang masih begitu rapuh dan terbungkus selimut yang belum lunas kami bayar harus kami sembunyikan di dalam rumah.

Termasuk tagihan sewa rumah kerling mata kasir indomaret.

 

Engkau melarau.