Menggugat Kepekaan Sosial

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Januari 2017
Menggugat Kepekaan Sosial

Sejak awal kontestasi pilpres yang telah lalu dan memunculkan pemenang di satu pihak dan yang kalah di pihak lain, meski tak ikut dalam ingar-bingar hal tersebut, saya ikut khawatir dengan keadaan dalam negeri. Khawatir akan ada pecah civil war antar pendukung tentunya. Kekhawatiran saya itu banyak didukung oleh banyak hal yang saya dengar, lihat dan saksikan di sekitar. Beberapa kawan berbicara bahwa hubungan persaudaraan dan pertemanan banyak yang merenggang dan menegang ketika dan usai gelaran akbar tersebut. Pernah juga, satu malam, setelah pengumuman pemenang saya harus keluar rumah karena urusan pekerjaan. Jaraknya lumayan jauh dari rumah dan mesti melewati beberapa ruas jalan yang basah seusai hujan. Saya melihat penjagaan lumayan ketat, tak seperti biasanya. Truk tentara penuh personil terparkir di perempatan kota.

Setelah mereda, tak juga saya temui cahaya.

Beberapa kawan berubah tabiat, sebagian menjadi tukang tafsir dadakan dan yang lain menjadi die hard patriot. Mengkritik kebijakan pemerintah seolah benar-benar peduli dan berbicara atas nama orang banyak, sebagian lain membela dengan tendesi khas politis. Bikin mual memang, tapi saya masih coba berkawan dengan mereka-mereka ini. Sebagian menjadi paduan suara dan pencari fakta entah berdasar apa, dan di seberangnya melakukan hal yang sama. Siapapun kini bisa menyaksikan di halaman-halaman media sosial dan obrolan seusai makan siang betapa persaingan masa lalu terbawa hingga kakus umum.

Di tempat yang terasing, sebagian kecil kawan yang lain roadshow dari satu tempat ke tempat lain berada di garis terdepan berbaris bersama petani, buruh tambang, nelayan dan kaum marginal lainnya berhadapan dengan moncong senjata dan nyalak senapan. Sepi.