Pak Presiden

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Januari 2017
Pak Presiden

Keadaan Pak Presiden sedang tidak baik, sejak pagi beliau mengurung diri di kamar.  Beberapa staf urusan rumah tangga mengatakan kesehatan Pak Presiden sedang menurun. Tersiar kabar di kalangan istana bahwa beberapa jadwal kunjungan dan pertemuan dibatalkan, rapat yang mendesak beliau pimpin didelegasikan pada menteri terkait.

“Pak Presiden kesehatannya sedang menurun. Dokter Istana sedang dalam perjalanan menuju kemari.” Kata lelaki tua yang menjabat sebagai Kepala Urusan Rumah Tangga Istana kepada dua orang lainnya yang diketahui sebagai Menteri Koordinator Bidang Kebudayaan dan Menteri Koordinator Bidang Keuangan.

“Jika diperbolehkan, kami ingin menjengukya. Sekaligus ada yang ingin kami sampaikan kepada beliau. Hanya sebentar, tak sampai sepeminuman teh.” Lelaki dengan kemeja putih itu memohon kepada lelaki tua yang sudah bekerja di Istana selama negara ini berdiri.

“Pak Menteri, baiknya kembali setelah Dokter Istana melihat keadaan Pak Presiden. Atau bisa menunggu selama pemeriksaan.” Lelaki tua itu tetap pada pendiriannya.

“Hanya sebentar, kami rasa Pak Presiden perlu tahu apa yang ingin kami sampaikan. Tolong sampaikan permohonan ijin kami kepada Juru Bicara Kepresidenan.”

Lelaki tua itu lalu mempersilahkan keduanya menunggu, ia meninggalkan keduanya menuju bagian lain dari gedung istana. Menemui Juru Bicara Kepresidenan. Tak lama, ia kembali.

“Hanya sebentar, dan jika Pak Presiden sedang tidur atau tak mau diganggu, mohon untuk tak memaksanya.” Lelaki tua itu memanggil dua ajudan kepresidenan, meminta mereka menemani dua menteri koodinator menemui Pak Presiden.

Menuju kamar Pak Presiden, keempatnya melewati satu taman bunga tak begitu luas yang dikelilingi oleh kamar-kamar yang sebagian adalah ruang kerja dari staf kepresidenan. Pembantu-pembantu presiden dan juga istri-istrinya. Dari jauh, kedua menteri koordinator itu bisa melihat menembus kaca jendela, ruang tempat istri-istri Pak Presiden berkumpul. Empat jumlahnya, usia mereka jauh di bawah usia Pak Presiden.

“Mungkin Bapak lelah. Keadaan negara akhir-akhir ini memang sedang tak baik. Banyak yang harus Bapak pertimbangkan dan pikirkan sehinga menguras tenaga. Sesekali Bapak memang perlu istirahat dan menyenangkan diri.” Menteri Koordinator Bidang Kebudayaan berkata pada kawannya.

Sesampainya di kamar Pak Presiden, kedua menteri itu dan dua ajudan yang menemaninya tak mendapati Pak Presiden terjaga. Beliau lelap dalam tidurnya. Tak berselimut.

“Tidur.” Kata menteri yang satu pada yang lain.

“Iya. Istirahat.” Sahut yang lain.

Keduanya memandang dua ajudan kepresidenan yang nampak kaku dengan seragam yang dikenakannya.

“Kami rasa sebaiknya Dokter Istana segera datang dan bisa memeriksa keadaan Pak Presiden.”

Kedua Menteri itu lalu meninggalkan kamar Pak Presiden dikawal dan diantar dua ajudan hingga ke selasar kanan gedung istana.

“suasana di Ibu Kota mulai memanas, bara dari daerah mulai merayap ke pusat negara. Seharusnya Pak Presiden tahu ini gejala yang tidak baik.” Bisik salah satu diantara menteri yang sedang berjalan keluar dari gedung utama istana.

“Pak Presiden terlalu dekat dengan Partai Merah, sementara yang lain seperti terabaikan. Pak Presiden banyak memberi fasilitas kepada Partai Merah, ini bahaya seandainya Partai Merah mengambil kekuasaan jika tahu Pak Presiden sedang tidak sehat. Militer harusnya ambil bagian saat ini.” Tukas yang lain sambil juga berbisik.

“Aku rasa, para Jendral harus dikabari mengenai keadaan kesehatan beliau juga sudah ada diagnosis dari Dokter Istana. Militer harus mulai merancang kemungkinan terburuk jika Ibu Kota memanas dan desakan semakin kencang. Pusat negara harus diselamatkan terlebih dahulu.”

Keduanya lalu masuk ke dalam mobil dinasnya masing-masing, lalu meninggalkan pelataran istana yang sepi.

***

Di kalangan para pejabat, menteri hingga petinggi militer dan kepolisian tersiar kabar bahwa keadaan kesehatan Pak Presiden semakin memburuk. Kabar cepat bocor dan meleleh ke akar rumput. Desakan kuat dari partai-partai politik yang memiliki massa yang banyak untuk mempersiapkan calon pengganti Pak Presiden sudah begitu kuat, sebab jika peralihan dari presiden yang menggelari dirinya sendiri sebagai presiden seumur hidup tidak mulus, maka akan terjadi kekacauan. Terlebih keadaan ekonomi yang sedang begitu rumitnya pada usia negara yang belum seberapa lama.

Ibu Kota begitu beringas, beberapa rapat militer dan kepolisian digelar tertutup bahkan dari pejabat setingkat menteri. Bahkan Juru Bicara Kepresidenan.

“Kita sudah dihadapkan kepada situasi yang begitu sulit dan berbahaya. Bagaimanapun kita harus menyiapkan rencana agar negara ini tetap berdiri dan berdaulat di mata dunia.” Jendral dengan empat bintang di bahu itu memulai pembicaraan tanpa melepas kaca mata hitamnya.

“Aku rasa hanya kita yang siap. Negara harus diambil alih oleh militer agar tak goyah. Partai sebesar Partai Merah pun tak akan mampu meneruskan negara jika Pak Presiden pada akhirnya haru diganti. Mereka masih lemah dalam banyak hal meski terlihat begitu besar di dalam negeri.” Sambung jendral yang lain.

“Aku setuju. Pergantian Pak Presiden harus dilakukan dengan halus, jangan sampai seolah kita mengambil alih kekuasaan secara tidak sah dan keluar dari hukum. Negara ini akan terus berkembang dan kita tidak boleh menjadi sejarah buruk negara ini.”

“Kita harus mulai menunjuk beberapa orang sebagai pengganti, kita harus mulai menyiapkan nama seandainya hari itu akan cepat terjadi.”

Lalu, rapat-rapat tertutup lainnya terus begulir di kalangan militer. Nama-nama mulai bermunculan dan mengerucut seiring waktu terus berlanjut dan keadaan kesehatan Pak Presiden semakin memburuk.

***

Di tempat lain, orang-orang berkemja putih lengan pendek juga berkumpul dan melakukan rapat tertutup. Membicarakan mengenai keadaan kesehatan Pak Presiden dan keadaan negara keseluruhan.

“Aku khawatir, keadaan kesehatan Pak Presiden yang semakin memburuk akan menjadi lubang kesempatan bagi mereka yang ingin merebut kekuasaan. Aku pernah mendengar bahwa ada kelompok dalam negara ini yang akan melakukan Coup.” Suara tegas dari pimpinan rapat terdengar meski tubuhnya terlihat kecil dan kurus.

“Tapi, bukankah ini juga kesempatan untuk kita mewujudkan cita-cita partai? Ini kesempatan kita. Partai kita sudah besar dan mampu untuk mengurusi negara yang masih muda. Hubungan dengan negara luar sudah kita jalin dengan baik, massa dalam negeri juga sudah begitu banyak mendukung kita untuk memimpin arah tujuan negara.” Sambung lelaki muda di sudut yang lain.

“Kita belum siap. Mengurusi partai dan negara adalah dua hal yang berbeda, terlebih setelah permintaan kita kepada Pak Presiden agar buruh dan tani dipersenjatai ditolak oleh militer.”

Rapat terus digelar setiap minggu, kesehatan Pak Presiden hanya diketahui pasti oleh Dokter Istana. Para menteri terbang ke berbagai negara, tak pasti tujuannya.

***

Setelah shalat shubuh dipembaringannya, Pak Presiden mencoba melangkah meski menyeret kakinya yang bengkak. Istana yang sunyi dan bau kembang yang tak begitu wangi. Istri-istrinya masih berada di ruangan tempat mereka ditempatkan. Suara radio dari dapur istana sayup terdengar.

Dia melangkah dengan gontai, memegangi dinding-dinding istana yang tua dan menyeret kakinya.

“Ibu Kota sedang panas.” Kata lelaki tua itu kepada majikannya.

“Jadi, sepertinya waktuku akan sudah tiba? Istana ini akan memiliki penghuni baru.”

Dia melangkahkan kakinya, singgah di bangku taman.

***

Jendral-jendral diculik, ditangkapi dan dihilangkan sebab dicurigai akan melakukan pengkhianatan kepada Presiden. Orang-orang dari Partai Merah ditangkap dan dibuang jauh dari pusat negara. Beberapa dalam jumlah banyak saling bunuh sebab jika tidak akan terbunuh oleh yang lain. Negara melahirkan pemerintahan yang baru dengan prematur.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    10 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Berasa beda membaca tulisan politik dengan bahasa yang asyik seperti ini di tengah mayoritas cerpen di Inspirasi.co yang lebih cenderung bertemakan asmara dan masalah kehidupan. Karya Agus Geisha ini menarik sebab berlatar belakang negara fantasi yang banyak terinspirasi oleh masalah sosial dan politik yang terjadi di dunia nyata. Tulisan dengan fokus di balik layar seperti ini juga lebih menggugah orang untuk membaca.

    Membaca tulisan singkat Agus ini menghadirkan rasa miris. Sang presiden sebagai simbol tertinggi negara dikabarkan tak hanya sakit fisik melainkan juga lemah secara kekuasaan. Lalu para menteri berusaha merongrong kekuasaannya berikut partai politik pengusung sang presiden. Tetap konsisten menulis, Agus!

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    10 bulan yang lalu.
    Selamat makar siang, Jendral....