Telolet, Hegemoni Kelayakan dan Monopoli Tuhan

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Desember 2016
Telolet, Hegemoni Kelayakan dan Monopoli Tuhan

Semasa kecil saya di Cijerah dan belum banyak stasiun televisi mengudara, waktu banyak habis bermain bersama kawan. Di rumah guru ngaji, di halaman masjid, di area pesawahan yang tak begitu luas dan perempatan antar blok rumah-rumah yang berderet. Anak-anak seusia saya waktu itu tak mengenal perangkat elektronik dan memiliki definisi yang sama tentang bermain. Bermain adalah keluar rumah –baik itu melalui pintu atau jendela-, berkelompok dan melakukan kegiatan bersama –baik itu legal atau ilegal. Mencari belut di sawah yang berujung dengan menjaring ikan di kolam pancing yang mengakibatkan murka pemilik kolam atau ikut mobil bak terbuka hingga ujung jalan, ikut basah bersama pengemudi angkutan umum yang sedang mencuci mobilnya hingga mulai belajar menghisap ‘garpit’. Lalu kembali sebelum maghrib memanggil.

Pada tahun-tahun itu, lahir fenomena yang sama dengan apa yang terjadi hari ini, spontanitas khas anak kecil yang menyebar entah bagaimana caranya dan diturunkan dari kakak-kakak kami terdahulu.

“Kapal, menta duit!” (Pesawat, minta uang!)

Entah bagaimana awalnya ujaran itu dan entah bagaimana ujaran itu pada berakhir, tapi satu yang pasti, tak pernah ada pesawat yang melemparkan uang.

“Om, telolet om!” (Pengalihan isu kasus penistaan agama yang dilakukan oleh salah satu calon gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta agar masyarakat Indonesia tidak lagi mengikuti kasus tersebut sehingga kasus tersebut dapat mereda dengan sendirinya. Ini jelas sebuah penyesatan dan akal-akalan yahudi dalam rangka pendangkalan akidah umat.)

Tak ada rencana dan harapan bahwa telolet akan semendunia sekarang, anak-anak kecil pinggiran jalan itu hanya semacam penasaran dan senang dengan klakson bus yang berbunyi begitu nyaring dan berirama. Anak-anak itu mendapatkan telolet, tak seperti kami yang pada masanya tak pernah mendapat uang dari pesawat, karena telolet lebih masuk akal dan memungkinkan dari pada uang yang dilempar dari badan pesawat.

Bagi sebagian orang, piknik adalah pergi meninggalkan rumah menuju satu tempat tujuan lain, bagi yang lain piknik adalah tenggelam dalam rimba huruf dalam buku. Bagi sebagian orang, memindahkan orang-orang dari bantaran sungai ke rusun adalah sebuah perbuatan luhur, bagi yang lain, memindahkan tidur bukanlah memindahkan lelap. Hegemoni kelayakan dan monopoli tuhan hari ini seperti sebaran video porno, dicari dan didapat untuk memuaskan syahwat. Dan, seperti ‘kapal,menta duit’, hal ini entah juga dari mana mulanya.

  • view 155