Selangor 1

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Desember 2016
Selangor 1

Nah, ternyata saya berada di Selangor. Bukan Kuala Lumpur. Bagaimana bisa saya tahu bahwa saya ada di Selangor? Sebab tadi saya shalat jumat di masjid yang khotib jumatnya mendoakan Mentri Besar Selangor.

Saya kesini kunjungan teman dan kerja. Berkunjung ke Big Bad Wolf Malaysia yang sedang membuat pameran. Saya kunjungi karena perusahaan yang menggelarnya adalah teman perusahaan tempat saya bekerja. You know what i mean lah.

Sebagian orang, mungkin menganggap bahwa malaysia begitu melayu dan begitu islami. Sama seperti yang dipikirkan istri saya di Bandung ketika saya bilang bahwa sepanjang hari selama tiga hari saya melihat gadis-gadis malaysia berkulit putih dan bermata sipit memakai celana di atas paha. Anak kuliahan yang ibarat buah adalah buah yang cocok untuk dibikin rujak. Belum matang tapi enak dikonsumsi. Perihal ini juga saya bilang sama istri, saya tidak tergoda meski dengan begitu melepaskan kesempatan untuk memualafkan orang maksimal 3.

Big Bad Wolf adalah sebuah gelaran pameran buku yang begitu megah, buku-buku terbitan beberapa negara dijual dengan harga murah, jauh dari harga jual sebelumnya. Di Surabaya atau Jakarta, novel-novel dijual kisaran Rp 60.000,-. Di Malaysia, novel tadi dijual seharga 15RM, atau senilai Rp 45.000,- kurang lebih. Sama seperti harga termurah sebungkus rokok di Mall Giant dekat tempat saya menginap.

Kan sudah saya bilang, jika tak bisa menaikan harga rokok karena alasan yang begitu banyak, maka murahkanlah harga buku. Saya tentu pilih opsi kedua, sebab opsi kedua lebih logis menurut saya yang seorang bapak dari dua orang anak, yang mana anak kedua saya tinggal pergi ke Malaysia padahal umurnya belum genap dua minggu. But, man got to do what a man got to do, right? Ketimbang ikut aksi 212 dengan modal ongkos menggadai notebook seharga Rp 200.000,-. Menjadi masalah sebab notebook yang digadai adalah milik kantor orang tua, tanpa bilang dan sekarang tak punya uang untuk tebus itu notebook.

Saya ada keingingan sih bawa buah tangan berupa buku untuk kawan-kawan, tapi siapa? Saya juga bingung kawan saya yang mana. Mungkin hanya karena senang buku di sini murah dan bagus.

Istri dan anak-anak saya di Bandung, berjuang hanya bertiga. Sudah pasti istri saya yang paling besar perjuangannya. Menyusui si kecil dan mengurus yang besar. Apalagi pagi, si kecil masih mau makan, yang besar harus bergegas ke sekolah. Belum harus tetap makan, warung yang layak jauh dan tak ada yang bisa bantu sebab yang awalnya direncanakan untuk membantu meminta uang untuk menebus notebook yang digadaikan. Saya bilang, abaikan!.

Tapi benar, disini harga rokok mahal, dan juga harga lainnya. Sebab itu, saya bawa sepuluh bungkus rokok dan dua puluh sachet kopi dari Bandung. Persoalan sekarang adalah, tempat cuci pakaian jauh dan mahal, 2RM untuk satu kilo pakaian tanpa setrika. Di Bandung, Rp 4.000,- sudah wangi dan siap pakai. Jadi, ini persoalan terbesar, saya pakai T Shirt satu untuk dua hari. Bau.

  • view 161