Cah Jamur Udang

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 November 2016
Cah Jamur Udang

Namaku Ranty. Katakanlah sekarang sudah kudapatkan semuanya, posisi terhotmat di perusahaan, suami setia dan anak-anak yang ceria. Tak ada yang kurang. Semuanya sudah datang padaku sebelum usiaku mencapai empat puluh. Semuanya begitu sempurna, kecuali satu hal. Hal yang membuatku sampai sekarang selalu merasa tertaklukan. Mungkin ini adalah tumbal atas apa yang sudah bisa kucapai hari ini. Aku tak pernah bisa memasak.

Aku sering mencobanya, mengambil kursus memasak singkat di tengah kesibukanku, mencoba berbagai resep memasak dari majalah, mengikuti tutorial memasak lewat video. Semuanya gagal dan berujung kekecewaan.

Dengan posisi dan pendapatanku hari ini, tak ada yang susah untuk mendapatkan makanan setiap hari dengan menu yang berganti-ganti. Mengupah pembantu yang pintar masak atau memesan makanan siap saji di restoran, apa susahnya. Dan apa lebihnya perempuan bisa memasak, sama saja. Hari ini perempuan tak hanya dinilai dari meracik bumbu, hari ini perempuan bisa dihargai dari hal lain selain berkutat dengan minyak dan kompor.

Tetapi, semacam perasaan bersalah terus menjadi hantu. Membayangiku disela-sela rapat dewan direksi, diantara setumpuk arsip dan karyawan yang keluar masuk ruang kerja dan disaat family gathering kantor yang seharusnya menjadi kegiatan menyenangkan. Padahal, selain memasak, sudah banyak pekerjaan dan tantangan aku taklukan dengan apresiasi yang tinggi dari semua orang yang mengenalku. Mencapai jabatan tinggi, menikahi lelaki terbaik dan memiliki anak-anak yang periang. Aku merasa memasak seperti musuh yang siap menerkamku.

“Sudahlah, Bu. Ibu kan bisa ambil peran lain, mendidik anak-anak dan menemani suami itu sudah lebih dari cukup. Tak perlu memaksakan diri untuk terus mencoba memasak.” Kadang suamiku entah sabar atau mengejek selalu berkata demikian. “Kalau masakan Ibu tak enak, aku akan makan dan bilang masakan Ibu enak, tapi selama ini yang terjadi adalah masakan Ibu tak pernah jadi.” Memang benar, masakanku tak pernah ada yang jadi sempurna. Menggoreng ikan hangus, membuat sayur tumpah, membuat tumis bahkan terlihat seperti muntah kucing.

“Tapi seharusnya aku bisa masak, Yah. Paling tidak membuat tumis atau menggoreng ayam atau ikan. Paling tidak itu. Aku tidak mau hanya bisa memasak air dan mie instan.” Memasak mie instan adalah pekerjaanku ketika kuliah. Bekalku tak seberapa, untuk sewa kamar dan ongkos ke kampus, sisanya untuk makan. Dan mie instan adalah jalan keluar paling logis saat itu. Aku sering membantuku ibuku memasak, tapi tak pernah memasak sendiri. Membantu hanya sebatas mengiris atau memotong bahan makanan. Memasak mie instan tak mungkin aku lakukan lagi, hal itu membuatku kembali ke bangku kuliah yang menyedihkan. Berkutat dengan mata kuliah, perpustakaan dan kamar sewaan. Tak ada teman, tak ada yang mau berteman.

Dan, entah bagaimana awalnya, Pak Irwan, atasanku di kantor mengundangku dan keluarga untuk makan malam di rumahnya pekan depan. Awalnya aku tak ambil pusing, hanya makan malam, makan dan lalu berbincang hingga pulang. Kekhawatiranku mulai muncul ketika aku ceritakan undangan itu pada kawanku Evva  lewat telepon keesokan harinya.

“Malam minggu aku enggak bisa, aku diundang bosku makan malam di rumahnya.” Kataku menolak ajakannya untuk bertemu di hari yang sama.

“Jam tujuh sudah bisa pulang, kok. Kamu pulang dulu, bersiap dan pergi makan malam. Rumah bosmu kan enggak terlalu jauh.”

“Aku diminta datang jam tujuh, Va. Makan malam padahal biasanya jam delapan.”

“Oh, bisa jadi diajak masak dulu sama istrinya, ya? Masak baru terus makan?”

“... ... ...” Aku terdiam, kepalaku pusing, mataku sedikit perkunang-kunang dan keringat dingin mulai menjalariku.

“Halo, Rant...Ranty” Suara Evva menyadarkanku, aku mengerjapkan mata.

“Ini hari apa, Va?” Aku melirik almanak duduk yang ada di mejaku.

“Kamis. Ada janji?” Tanyanya.

“Sudah dulu ya, Va. Nanti aku telepon lagi.” Aku pamit, menutup telepon. Dan wajahku dengan dua telapak tanganku.

Kekhawatiranku muncul sejak itu, aku benar-benar seperti disadarkan. Aku tak bisa memasak, dan pekan depan ada kemungkinan yang begitu besar aku akan harus memasak. Apa yang harus aku lakukan. Aku kemasi barangku, lalu keluar ruangan.

“Jika ada yang cari saya, saya ada rapat di luar kantor.” Kataku pada Maya –bawahanku.

“Ada rapat evaluasi dengan tim promosi pukul tiga, Bu.” Maya mengingatkanku mengenai rapat evaluasi yang sudah diagendakan seminggu sebelumnya.

“Undur sampai besok, geser agenda yang lain.” Aku berlalu meninggalkan Maya yang pasti tak senang dengan perintahku.

Aku memacu mobilku, menembus jalanan kota yang tak pernah bersahabat. Lampu lalu lintas, pengendara ugal-ugalan, angkutan umum, razia polisi dan jalanan yang becek serta berlubang. Aku berpikir keras, apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar dilanda rasa panik, dan menggumam sendiri begitu sering. Melakukan hal tak perlu.

Mobilku kuparkir, tergesa aku memasuki toko buku dan segera mencari buku-buku resep, majalah dan tabloid yang di dalamnya pasti akan ditemukan resep. Apapun yang bisa menyelamatkanku. Aku meninggalkan toko buku itu dengan tumpukan buku, majalah dan tabloid dalam jinjingan setelah membohongi kasir. Untuk referensi, perusahaan saya mau buat penerbitan, kataku pada kasir muda. Padahal dia tak bertanya apa-apa.

Sampai di rumah, setelah membuka satu persatu bahan bacaan yang kubawa, kupilih menu yang paling mudah. Tak apa, yang penting bisa memasak dulu. Aku minta pembantuku menyiapkan bahan. Siapkan saja, jangan membantu sekalipun itu mengiris bawang, kataku. Pembantu aku minta untuk mengerjakan hal lain, jauh dari dapur.

Cah Jamur Udang pilihanku, jamur putih kesukaan anak pertamaku dan udang kesukaan suamiku. Sedikit berkuah seperti yang selalu diinginkan oleh anak keduaku. Bahan sudah tersedia semua di meja dapur, aku hanya perlu mengikuti setiap langkah yang ada di buku resep. Tak begitu sulit sepertinya.

Langkah demi langkah aku ikut persis seperti apa yang tertulis. Mengiris, memotong, mencuci, memanaskan wajan dan lainnya. Dapur berantakan, keringatku bercucuran di dalam rumah yang meliki rancangan dengan sirkulasi udara yang baik. Aku panik.

Semua bahan sudah masuk ke atas wajan, baunya harus sekali. Aku mulai senang, aku bahagia. Aku tersenyum sendiri, ini masakanku yang akan berhasil. Aku mencoba berkonsentrasi, tak boleh ada yang menggagalkan masakanku kali ini. Setelah semua kupikir sesuai dengan apa yang tertera pada buku resep yang memanduku, aku angkat wajan dan memindahkan Cah Jamur Udang ala Chef Ranty kedalam mangkuk bening ukuran sedang. Aku menciumi baunya. Harum, aku merasa bahagia. Aku memerhatikannya begitu lama. Kepul asap yang meninggi, indah seperti awan di langit biru.

Aku berteriak memanggil pembantuku. Aku memintanya dengan sangat hormat untuk mencicipi masakahku yang pertama. Bukan mie intan.

Dia meraih sendok yang kusodorkan, lalu menyendok kuah masakanku.

“Enak, Bu. Ini enak sekali. Pas.” Katanya.

“Kamu enggak bohong?”

“Enggak, Bu. Ini beneran enak.” Matanya meperlihatkan kesungguhan, kejujuran.

“Kamu coba jamur dan udangnya.” Aku memintanya untuk mencoba selain kuahnya saja. Dia menyendok sepotong udang dan jamur sekaligus.

“Ini pas, Bu. Lembut dan enak. Ini sudah enak.” Berulang dia mengatakan masakanku enak. Aku senang bukan kepalang. Untuk pertama kalinya aku bisa memasak, berhasil dan enak.

Aku menyimpan harta baruku dilemari makanan, aku menutupnya dengan baik. Meninggalkan dapur menuju ruang tamu. Aku meraih telepon genggamku dari dalam tas kerja, lalu melakukan panggilan tergesa.

“Ayah, hari ini Ayah pulang jam berapa? Ibu punya kejutan untuk Ayah.”

“Iya, Bu. Seperti biasa, jam lima keluar dari kantor, jam tujuh sudah di rumah. Mau Ayah bawakan makan malam?”

“Jangan! Ayah apa bisa Ayah pulang lebih awal. Ibu punya kejutan untuk Ayah.”

“Kejutan apa, Ibu? Ayah bisa pulang lebih awal, sedang tak banyak yang harus diselesaikan. Jam tiga ayah pulang, sekalian Ayah jemput anak-anak di sekolah.”

“Jam Lima sudah sampai rumah ya, Yah.”

“Iyah.” Kami menutup telepon kami masing-masing.

Aku menunggu mereka, suami dan anak-anakku dengan perasaan tak sabar. Aku berusaha tidur, dan tak bisa memejamkan mata. Aku benar-benar tak sabar.

Jam empat sore, aku kembali ke dapur. Membuka harta karunku. Cah Jamur Udang. Membauinya lagi, memerhatikannya lagi. Ketika mereka datang, suami dan anak-anakku, aku merasa grogi. Aku datangi mereka, menahan mereka di ruang tamu.

“Ayah tunggu di sini, Kakak dan Adik juga. Ibu punya kejutan.” Aku masih dengan kejutan kusimpan sendiri. Aku menuju dapur, meninggalkan mereka kebingungan.

Aku memansakan Cah Jamur Udangku. Baunya tercium lagi, asapnya membumbung. Aku mendengar langkah dari arah ruang tamu. Ketika langkah-langkah itu tiba di dapur, Cah Jamur Udang sudah kupindahkan kedalam mangkuk.

“Tara....Cah Jamur Udang ala Chef Ranty.” Aku melebarkan tanganku, menunjuk masakan yang terhidang di meja.

Mereka memburu, menghampir meja makan. Memerhatikan dan membaui masakanku.

“Hmm...”

“Aku mau makan, Bu.” Seru anak-anakku.

“Ayah juga.” Kebahagiaan berlipat ganda melihat mereka.

Aku menyiapkan semuanya, piring, sendok dan garpu. Memindahkan nasi dari Rice Cooker ke atas meja.

Pujian meluncur dari mulut mereka hingga malam, bahkan hinga rasa Cah Jamur Udang sudah tak lagi mereka ingat. Aku bisa masak, enak dan menjadi makan malam untuk keluargaku di saat petang.

Besoknya, aku buatkan mereka nasi goreng untuk sarapan, aku meminta pembantuku untuk mengurusi pekerjaan yang lain. Semangatku seketika terlecut, wangi nasi gorengku menyeruak mengisi rumah. Anak-anak dan suamiku sarapan nasi goreng yang kubuat untuk pertama kalinya.

Aku bersiap menuju kantor dengan perasaan yang ringan, rapat evaluasi yang tak seberapa menegangkan siap kuhadapi.

Sesampainya di kantor, semua yang aku temui aku beri senyum, mulai dari satpam kantor hingga Maya yang meja kerjanya tepat diluar ruanganku.

Aku menjatuhkan diri ke atas kursi kerjaku, masih mengawang. Kunyalakan komputer, memeriksa beberapa arsip. Proyeksi penjualan tahunan, evaluasi promosi enam bulan terakhir, dan pertanggungjawaban keuangan mingguan.

Menjelang jam makan siang, Maya memasuki ruanganku, membawa beberapa berkas di tangannya.

“Untuk ditandatangani, Bu.” Berkas itu ia simpan di ats mejaku. Aku mengamati satu persatu berkas tersebut, menandatanganinya lalu memberikannya pada Maya satu persatu, hingga satu berkas menyentakku keras.

“Perjalanan dinas? Ke Singapura? Besok? Sampai kapan?” Pertanyaanku berhamburan.

“Di berkas dijadwalkan hingga senin, Bu. Selasa pulang ke Indonesia, baru akan masuk kantor lagi rabu. Katanya ada rapat penting dengan relasi dari Jepang. Ada yang perlu saya ingatkan ke Pak Irwan, Bu? Barangkali ada rapat di Indonesia juga.” Maya tentu tak tahu undangan makan malam Pak Irwan, dan Maya tak perlu tahu aku sudah bisa memasak. Iya, Maya, Pak Irwan mengundangku makan malam dan aku sudah belajar memasak. Hatiku bergumam. Aku tahan berkas dinas Pak Irwan.

“Saya konfirmasi dulu ke Pak Irwan. Nanti kalau sudah beres saya antar.” Maya mengangguk dan berlalu meninggalkanku di ruangan.

“Pak Irwan, ada perjalan dinas ke Singapura ya?” Tanyakku lewat saluran telepon.

“Iya, Bu Ranty. Semalam saya di telepon relasi dari Jepang, minta bertemu di Singapura besok. Kalau ada rapat di Indonesia, Bu Ranty tolong tangani ya.”

“Iya, Pak.” Dia tak ingat undangan makan malamnya. Dia tak tahu aku sudah bisa memasak.

Aku menutup telepon, menutup wajah dengan dua telapak tanganku. Perasaan bahagia berhamburan dari sekujur tubuh. Aku merasa sia-sia. Buat apa?